Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Ziarah ke Negeri Air Mata: Catatan dari Malalo

badge-check


					Ziarah ke Negeri Air Mata: Catatan dari Malalo Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

AROMA durian menyeruak di sepanjang jalan menuju Gunuang Rajo. Musimnya sedang memuncak. Sepanjang lereng dan halaman rumah, buah-buah berduri kuning itu digantung, ditumpuk, atau diasongkan para warga.

Gunuang Rajo, sebuah nagari di Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, seakan menyambut setiap pendatang dengan wangi harum yang tak mungkin diabaikan, apalagi dilupakan.

Saya menyinggahi Gunuang Rajo, Ahad, 7 Desember 2025, ditemani Alvin Nur Akbar, pegiat Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang, Wahyu Pramanda Putra, sekretaris KNPI Padang Panjang, dan Zikril Husna, seorang pewara profesional. Kami berangkat dengan sepeda motor dari Padang Panjang. Langit cukup ramah hari itu, tidak hujan, meski pulangnya disambut gerimis.

Setiba di Gunuang Rajo, kawan-kawan relawan dari Padang Panjang dan Dharmasraya menunggu. Di sana sebuah mobil mini pick up telah terisi penuh dengan bantuan yang hendak kami antarkan ke Malalo. Relawan yang datang sebagian merupakan alumni Asrama Putri MTsN Padang Panjang. Semangat mereka militan, bukan dalam arti keras, melainkan kukuh, penuh dedikasi. Ada sinar ketulusan di wajah-wajah mereka yang sejak pagi telah bersiap.

Bantuan yang dibawa ke Malalo beragam: buku tulis, buku bergambar, pakaian bayi, kaus kaki, pakaian dewasa, hingga sembako dan beberapa lainnya. Semuanya dikumpulkan dari tangan orang-orang yang tak ingin disebut namanya, namun ingin diteruskan niat baiknya. Dari Gunuang Rajo, rombongan meluncur menuju Malalo, daerah yang beberapa hari terakhir menjadi pusat perhatian karena bencana galodo yang dahsyat.

Malalo, di Kecamatan Batipuah Selatan, adalah salah satu wilayah terdampak paling parah sejak galodo besar 25 November 2025. Seorang warga bercerita kepada saya bahwa hujan tiada henti mengguyur selama tiga hari berturut-turut. Dari perbukitan, air bah membawa tanah, lumpur, dan batu-batu besar meluncur dengan ganas ke pemukiman. Rumah-rumah yang berdiri di lereng bukit, hingga yang berada di tepian Danau Singkarak, diterjang tanpa ampun.

Tidak hanya rumah, lahan pertanian pun tak luput. Ladang dan sawah tertimbun lumpur pekat. Saluran air hancur, jalan terputus, dan lebih dari seribuan warga terpaksa mengungsi. Beberapa kampung bahkan sempat terisolasi karena akses jalan yang terputus total.

Melihat kehancuran itu, saya teringat pada puisi penyair Sulaiman Juned berjudul Ziarah Bencana. Penggalan puisinya saya kutip berikut.

Aku
ziarahi negeri
air mata. hati membatu
luka membisu
hati berlagu
luka membeku
bulan tembaga
tertusuk runcing ilalang.

Aku
ziarahi negeri
air mata. Kampung-kampung terkepung isak
gerimis berkelahi di halaman mengoyak derita.

….

Puisi itu masih panjang. Seakan ia berbicara langsung tentang Malalo. Repetisi “Aku ziarahi negeri air mata” menjadi gema duka yang tak berhenti mengalir setiap kali bencana datang menerjang. Galodo bukan hanya tragedi alam, tetapi luka batin yang membanjiri ingatan masyarakat Minangkabau, sejak berpuluh tahun lampau. Dalam setiap baitnya, penyair menggambarkan betapa rapuh kehidupan ketika alam mengambil kembali keseimbangannya yang telah lama diganggu.

Malalo, dengan rumah-rumah yang hancur, ladang tertimbun, dan warga yang kehilangan harta maupun kenangan, tampak hadir sepenuhnya dalam baris-baris puisi itu. Bencana seolah menjadi pelajaran menuju Tuhan, sebuah renungan sekaligus panggilan untuk mentafakuri hubungan kita dengan alam.

Hari Minggu itu, Malalo sangat ramai. Namun, keramaian ini bukan keramaian wisata. Jalanan dipenuhi ratusan kendaraan bantuan: mobil pribadi, pick up, truk besar, hingga kendaraan TNI dan Polri. Masing-masing membawa berkarung-karung bantuan, mulai dari pakaian layak pakai hingga kebutuhan logistik. Di posko-posko bencana, bantuan-bantuan itu diturunkan, dicatat, lalu diserahkan oleh koordinator kepada warga yang membutuhkan. Ada irama kesibukan yang teratur, namun di balik itu ada denyut solidaritas yang hangat.

Saya juga melihat sekelompok pelajar yang tengah membersihkan sebuah masjid. Mereka ternyata berasal dari Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, didampingi beberapa guru. Anak-anak itu bekerja tanpa banyak bicara, menyapu lumpur, mengangkat peralatan, dan membantu warga. Pemandangan itu menyentuh hati saya. Pendidikan kebencanaan semacam ini penting ditanamkan sejak dini, agar anak-anak tumbuh dengan empati dan rasa tanggung jawab sosial. Tabik untuk Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, juga sekolah atau lembaga lain yang turut andil.

Pada kesempatan itu, Asni, Koordinator Alumni Asrama Putri MTsN Padang Panjang, menceritakan bahwa bantuan ke Malalo adalah inisiatif spontan para alumni. Mereka juga menggandeng Pokdarwis Gunuang Rajo dan perwakilan Bank Sampah Anggur Gunuang Rajo sebagai relawan. “Kami melakukan penggalangan dana karena simpati dan kepedulian terhadap korban bencana,” ujarnya. Menurut Asni, Malalo adalah salah satu daerah dengan kerusakan terparah, sehingga bantuan harus segera disalurkan.

Setelah Malalo, rombongan mereka menjadwalkan titik-titik lanjutan: Tambangan dan Subarang Luak, kemudian besoknya Nagari Pincuran Tujuah di Gunuang Bungsu, dan terakhir Padang Panjang. “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, meskipun di lapangan ada beberapa kendala,” kata Asni. “Yang penting kegiatan bisa selesai dan kami pulang dalam keadaan selamat. Kami turut berduka cita untuk seluruh korban. Semoga diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi musibah ini,” ujarnya lagi.

Perjalanan kami hari itu diakhiri dengan singgah di rumah Asni. Kami dijamu makan siang dan, tentu saja, durian Gunuang Rajo yang terkenal itu. Rasanya sedap: manis, lembut, dan hangat, sehangat niat baik para relawan yang turun tangan membantu Malalo. Rasanya bukan hanya menyegarkan tubuh setelah perjalanan, tetapi juga meneguhkan keyakinan saya bahwa solidaritas adalah buah yang tumbuh dari hati manusia, dan ia akan selalu bersemi ketika ada penderitaan yang memanggil.

Bencana memang merenggut banyak hal: rumah, ladang, harta benda, bahkan nyawa. Namun, bencana juga sering kali memperlihatkan hal-hal terbaik dari manusia—bagaimana mereka saling menguatkan, mengulurkan tangan, dan menyalakan setitik cahaya di tengah gelap.

Malalo hari itu bukan hanya tempat duka, tetapi juga tempat harapan, karena dari reruntuhan itulah manusia belajar untuk kembali bangkit.

Ya, kita harus bangkit dari keterpukuran ini. Kita harus kuat-kuat menjahit luka ini. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Foto: Relawan alumni Asrama Putri MTsN Padang Panjang menyalurkan bantuan untuk warga terdampak di Malalo, Batipuah Selatan, Kabupaten Sumatra Barat, Ahad, 7 Desember 2025. (Foto: Muhammad Subhan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM