Oleh Muhammad Subhan
TIGA tahun lalu, 25 Februari 2022, pagi, gempa besar 6,1 SR di kedalaman 4 kilometer yang berpusat di lereng Gunung Talamau mengguncang Pasaman Barat. Rumah-rumah warga roboh dan sebagian lain menyisakan kerusakan parah, termasuk rumah ibadah.

Ketakutan atas bencana itu juga membekas di wajah anak-anak dan remaja.
Saya merasakan betul kedukaan masyarakat Pasaman Barat, terutama di Kajai, Talu, Timbo Abu, dan daerah-daerah di sekitar Gunung Talamau.
Kampung Pasir, Nagari Kajai, kampung ibu saya, menjadi salah satu saksi betapa bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merobek rasa aman manusia.
Saya melihat sendiri bagaimana trauma itu lekat dalam waktu lama, terutama pada anak-anak. Mereka terbangun di malam hari karena mimpi buruk, menangis ketika hujan turun, dan berlarian ketakutan setiap kali tanah bergetar akibat gempa susulan.
Di situlah saya mulai berpikir, apa yang bisa saya lakukan selain ikut menyalurkan bantuan semampunya.
Makanan, minuman, pakaian, dan hunian sementara memang mutlak diperlukan, tetapi luka batin membutuhkan penanganan berbeda. Dari kegelisahan itu, saya memilih membangun sebuah taman bacaan yang kemudian kami beri nama Rumah Baca Aia Tayo. Sampai hari ini, rumah baca itu terus aktif mendampingi puluhan anak yang belajar, membaca, bercerita, dan perlahan-lahan memulihkan diri.
Mulanya, Rumah Baca Aia Tayo tak mempunyai gedung, hanya menempati ruang tengah rumah kakak saya di Kampung Pasir yang dindingnya juga nyaris roboh. Meski begitu, anak-anak terus belajar, dan kemudian jalan pun terbuka. Tiga bulan setelah itu, sebuah lembaga kemanusiaan di Jakarta menghubungi saya. Mereka ingin membangunkan gedung Rumah Baca Aia Tayo yang lebih layak. Semua biaya dibantu oleh lembaga kemanusiaan tersebut, yang sumber pendanaannya berasal dari donasi ribuan orang baik yang peduli pada literasi.
Alhamdulillah. Saat ini anak-anak Rumah Baca Aia Tayo dapat belajar lebih nyaman karena rumah baca itu sudah memiliki ruang belajar yang lebih baik dari sebelumnya.
Setelah itu, bantuan lain pun datang: buku-buku, alat permainan edukatif, maupun program kolaborasi dengan banyak pihak.
Sejak itu, “trauma healing” menjadi salah satu program penguatan Rumah Baca Aia Tayo di Pasaman Barat untuk anak-anak binaannya.
Pengalaman itu kembali terngiang di benak saya ketika banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung 2025. Berdasarkan data dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat, 12 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, yang juga dilansir Kompas.com, bencana tersebut telah menyebabkan 992 orang meninggal dunia dan 158.000 rumah rusak. Angka-angka itu menghentakkan jiwa. Di balik data tersebut ada kisah anak-anak yang kehilangan orang tua, remaja yang kehilangan rumah dan masa depan yang semula mereka impikan, serta orang dewasa yang memikul duka berlapis.
Penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada urusan perut dan atap. Trauma healing harus menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan. Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa membutuhkan penguatan mental dan psikologis agar mereka mampu bangkit dan menjalani hidup secara lebih normal.
Trauma yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjelma menjadi ketakutan kronis, depresi, bahkan kemarahan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di lapangan, saya belajar bahwa trauma healing tidak selalu harus berbentuk terapi formal di ruang tertutup. Di daerah terdampak bencana, pendekatan yang membumi justru sering lebih efektif. Karena itu, penting gerakan kolaboratif: tim trauma healing menurunkan relawan literasi masyarakat, pustakawan, komunitas seni, organisasi kebudayaan, serta mahasiswa perguruan tinggi untuk bersama-sama hadir di tengah warga. Mereka membawa buku, alat gambar, alat musik, permainan tradisional, kegiatan pentas seni, dan yang terpenting, kehadiran manusia yang peduli.
Buku dan cerita memiliki daya penyembuh yang luar biasa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak yang semula murung mulai tersenyum ketika dibacakan cerita atau puisi. Melalui cerita, mereka belajar menamai ketakutan, menyalurkan emosi, dan membayangkan masa depan yang lebih baik.
Di Rumah Baca Aia Tayo, membaca dan menulis menjadi salah satu sarana terapi. Anak-anak menulis pengalaman mereka, menggambar mimpi buruk yang menghantui, lalu perlahan menggantinya dengan gambar-gambar yang penuh harapan. Taman bacaan pun menjelma menjadi pusat “trauma healing”, ruang aman tempat anak-anak merasa dilindungi.
Bagi remaja, pendekatannya berbeda. Mereka membutuhkan ruang berekspresi dan dialog. Musik, teater, fotografi, dan film pendek bisa menjadi media untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Komunitas seni dan mahasiswa dapat memfasilitasi lokakarya seperti menulis lagu tentang kampung yang hilang, membuat mural tentang ketahanan, atau mementaskan teater tentang keberanian. Kegiatan-kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan proses penyembuhan kolektif.
Orang dewasa pun tidak boleh dilupakan. Banyak di antara mereka yang terlihat tegar, tetapi menyimpan duka mendalam. Diskusi kelompok, pengajian, doa bersama lintas komunitas, hingga kelas-kelas keterampilan tertentu dapat membantu memulihkan rasa berdaya.
Saya percaya bahwa trauma healing juga berarti mengembalikan martabat manusia: memberi ruang agar mereka merasa berguna, didengar, dan tidak sendirian.
“Trauma healing” tidak cukup dilakukan sekali dua kali. Ia membutuhkan pendampingan jangka panjang. Karena itu, kehadiran relawan literasi, pustakawan, dan komunitas seni diharapkan tidak bersifat temporer. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil perlu bersinergi membangun pusat-pusat kegiatan berbasis komunitas: taman bacaan, sanggar seni, dan ruang belajar yang hidup.
Bencana selalu meninggalkan dua jenis puing: yang tampak oleh mata dan yang tersembunyi di dalam jiwa. Membersihkan yang pertama memang penting, tetapi menyembuhkan yang kedua adalah kerja kemanusiaan yang tak kalah penting. “Trauma healing” bukan proyek sesaat yang selesai ketika kamera media berhenti merekam. Ia adalah proses menemani manusia kembali percaya pada hidup.
Penyembuhan tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah atau istilah-istilah psikologis yang rumit. Yang dibutuhkan adalah ruang aman, aktivitas yang bermakna, dan kehadiran orang-orang yang tulus mendengar. Buku, cerita, seni, dan kebersamaan adalah bahasa universal yang mampu menjangkau hati siapa pun, lintas usia dan latar belakang.
Karena itu, setiap wilayah terdampak bencana seharusnya tidak hanya memiliki pos logistik, tetapi juga ruang-ruang pemulihan jiwa. Taman bacaan, sanggar seni, pusat kegiatan komunitas, dan kantong-kantong literasi lainnya harus dipandang sebagai bagian dari infrastruktur kebencanaan. Di sanalah harapan ditumbuhkan kembali.
Bencana memang tak pernah kita undang. Namun, cara kita meresponsnya akan menentukan apakah luka itu membusuk atau perlahan sembuh. “Trauma healing” adalah ikhtiar menjaga kemanusiaan tetap utuh, agar generasi yang tumbuh dari tanah bencana tidak mewarisi ketakutan, melainkan ketangguhan dan harapan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, dan founder Sekolah Menulis elipsis.
Foto: Anak-anak Rumah Baca Aia Tayo, Kampung Pasir, Nagari Kajai, Kabupaten Pasaman Barat. (Foto: Dok. Majalahelipsis.id)









