Catatan Rizal Tanjung — Padang
ORASI Budaya 2025 yang disampaikan oleh Harris Effendi Thahar dalam acara Panggung Ekspresi dan Orasi Budaya yang digagas Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat pada 25 Februari 2025 merupakan refleksi mendalam tentang kondisi seni dan budaya di Sumatra Barat, khususnya di Kota Padang. Dalam orasi tersebut, tersirat harapan besar bagi kebangkitan kembali ekosistem seni yang pernah hidup dan berkembang di Taman Budaya serta Museum Adityawarman. Berbagai pengalaman dan pandangan yang dituangkan dalam orasi ini memberikan dorongan bagi seniman, budayawan, dan pemerintah untuk bekerja sama dalam membangun kembali panggung kesenian yang pernah berjaya di masa lalu.

Menyadari Sejarah Kesenian di Sumatra Barat
Salah satu poin penting dalam orasi ini adalah penekanan pada sejarah panjang Taman Budaya Sumatra Barat sebagai pusat aktivitas seni yang dulu begitu hidup. Diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Gubernur Azwar Anas (1977–1987), Taman Budaya menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas seni. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi aktif tampil di panggungnya, sanggar-sanggar seni tumbuh subur, dan masyarakat bisa menikmati seni berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Keadaan ini menunjukkan bahwa seni bukan hanya sebatas hiburan, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat Minangkabau.
Kesadaran akan sejarah ini sangat penting, karena sering kali kita hanya melihat kesenian sebagai sesuatu yang bersifat seremonial atau hanya untuk hiburan semata. Padahal, seni memiliki nilai yang jauh lebih besar, termasuk sebagai sarana pendidikan, kritik sosial, hingga penguatan identitas budaya. Dengan memahami bagaimana seni berkembang di masa lalu, kita dapat merancang langkah-langkah strategis untuk menghidupkannya kembali.
Kritik Konstruktif terhadap Kondisi Kesenian Saat Ini
Orasi ini juga dengan jujur mengungkapkan kondisi seni dan budaya di Sumatra Barat yang kini semakin meredup. Taman Budaya yang dulu penuh dengan kehidupan kini hanya menjadi nama dengan sekelompok administrator yang bekerja sebagai pegawai negeri. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan infrastruktur seni tanpa adanya dukungan komunitas dan kebijakan yang berpihak kepada seniman tidak akan berarti banyak.
Namun, alih-alih hanya berkeluh kesah, Harris Effendi Thahar memberikan gagasan solutif yang patut diapresiasi. Salah satunya adalah pemanfaatan Museum Adityawarman sebagai tempat alternatif untuk kegiatan seni. Jika museum dapat membuka ruang bagi pertunjukan seni, bukan tidak mungkin tempat tersebut akan lebih hidup dan menarik lebih banyak pengunjung. Ini adalah ide yang sangat menarik, karena di banyak negara maju, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga ruang interaksi budaya yang dinamis.
Revitalisasi Ruang Seni sebagai Solusi
Melihat kondisi saat ini, langkah konkret yang bisa diambil adalah revitalisasi ruang seni, baik secara fisik maupun fungsional. Salah satu caranya adalah dengan membangun kembali Taman Budaya sebagai tempat yang tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga menghidupkan kembali komunitas-komunitas seni yang pernah berjaya. Pemerintah, dalam hal ini Dinas Kebudayaan, harus lebih proaktif dalam mengundang dan memfasilitasi seniman agar kembali menjadikan tempat ini sebagai rumah mereka.
Selain itu, Museum Adityawarman juga bisa menjadi ruang alternatif bagi ekspresi seni, seperti yang diusulkan dalam orasi ini. Jika museum menyediakan ruang bagi pertunjukan tari, teater, atau pameran seni rupa, maka tempat tersebut tidak lagi terasa “angker” dan sepi, tetapi justru menjadi pusat interaksi budaya yang menarik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.
Pentingnya Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Revitalisasi seni dan budaya tidak bisa hanya mengandalkan seniman dan komunitas seni, tetapi juga memerlukan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah daerah harus melihat seni bukan sebagai sektor pinggiran, tetapi sebagai bagian dari pembangunan sosial dan ekonomi. Seperti yang dicontohkan dalam orasi ini, di negara-negara maju, seni dan budaya mendapatkan perhatian serius karena keduanya bisa menjadi daya tarik wisata dan memperkuat identitas suatu bangsa.
Di sisi lain, masyarakat juga harus kembali menyadari pentingnya seni dalam kehidupan mereka. Jika dahulu warga Kota Padang bisa menikmati pertunjukan seni berkualitas secara gratis, maka semangat apresiasi itu harus dikembalikan. Jika ada konser orkestra seperti yang dicita-citakan oleh Almarhum Leon Agusta, tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumatra Barat.
Orasi Budaya 2025 adalah sebuah seruan untuk kembali menghidupkan dunia seni dan budaya di Sumatra Barat. Dengan melihat kembali kejayaan masa lalu, kita bisa belajar bahwa seni bukan hanya milik segelintir orang, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Gagasan untuk memanfaatkan Museum Adityawarman sebagai ruang seni sementara adalah ide yang patut dipertimbangkan, setidaknya sampai Taman Budaya dapat kembali berdiri dengan megah.
Sebagai tanggapan positif terhadap orasi ini, kita semua memiliki peran dalam mendukung kebangkitan seni dan budaya. Pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih serius, komunitas seni harus kembali bergerak, dan masyarakat harus kembali memberikan apresiasi. Jika ketiga elemen ini bisa bersinergi, bukan tidak mungkin kita akan melihat kembali kejayaan Taman Budaya dan lahirnya generasi seniman baru yang membawa seni Minangkabau ke panggung dunia.
Rizal Tanjung, seniman/budayawan Sumatra Barat, menetap di Kota Padang.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.













