Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Tak Ada yang Menyangka, Galodo Itu Datang Tiba-Tiba

badge-check


					PENGUNGSI – Bersama warga penyintas musibah galodo dan banjir bandang di Lembah Anai dan Jembatan Kembar Padang Panjang yang mengungsi di sebuah rumah di RT 23, Silaiang Bawah, Kota Padang Panjang. (Foto: Angel Andreas) Perbesar

PENGUNGSI – Bersama warga penyintas musibah galodo dan banjir bandang di Lembah Anai dan Jembatan Kembar Padang Panjang yang mengungsi di sebuah rumah di RT 23, Silaiang Bawah, Kota Padang Panjang. (Foto: Angel Andreas)

Oleh Muhammad Subhan

FOTO bersama paman dan keponakannya dalam hitungan jam sebelum galodo terjadi adalah foto kenangan terakhir bagi Rahmat Hidayat. Entah dorongan apa, ia ingin sekali berfoto sebelum bergegas menggunakan sepeda motor ke kantor PLN melaporkan kondisi listrik yang mati di kampungnya.

Namun, sekembalinya dari PLN, ia mendapati potret kampungnya di RT 20, Kelurahan Silaiang Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, telah habis dihondoh galodo. Rumah-rumah hilang diseret material batu, kayu, dan lumpur dari dinding bukit di kawasan Jembatan Kembar. Jalan utama yang menghubungkan Padang Panjang–Padang pun rusak parah.

Bukan hanya paman dan keponakan yang menjadi korban meninggal dunia, tetapi juga ayah, ibu, kakak, etek, dan beberapa saudara serta familinya. Air bah hari Kamis, 27 November 2025 siang itu seperti memutus sebagian besar tali keluarga yang selama ini mengikat batin Rahmat.

Rahmat Hidayat, Ketua RT 20 Silaiang Bawah, mengisahkan musibah itu dengan bola mata berkaca-kaca. Air mukanya masih menyiratkan kedukaan yang dalam. Di sampingnya duduk Sabil Rahmatullah, keponakan istrinya, yang juga kehilangan ayah dan ibunya. Sabil tertegun, tak dapat berkata-kata. Tubuhnya gelisah, seolah menahan sesuatu yang tidak tertahan: kehilangan.

Meski telah kehilangan banyak keluarga dan saudara, namun Rahmat tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Ketua RT. Ia tetap berkoordinasi dengan pihak terkait sejak awal masa tanggap darurat, termasuk memberikan informasi kepada awak media yang mewawancarainya. Siang malam ia memantau keadaan warga yang turut menjadi korban—mereka yang meninggalkan rumah hancur dan kini berdiam di sejumlah titik pengungsian di Padang Panjang.

Malam itu, saya melihat wajah lelah Rahmat Hidayat, tetapi yang tampak juga adalah ketegaran. Ia bercerita dengan suara berat dan sesekali terdiam menarik napas panjang.

Di sebuah rumah di RT 23, Silaiang Bawah, saya datang bersilaturahmi didampingi pegiat Ruang Baca Rimba Bulan, Alvin Nur Akbar, seorang jurnalis muda, Angel Andreas, juga ditemani Andra Eka Putra, staf THL Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehsos) pada Dinas Sosial Kota Padang Panjang. Di rumah itu mengungsi empat KK lainnya: dua keluarga warga Tanah Datar dan dua keluarga dari RT 20 Silaiang Bawah, Padang Panjang.

Kedatangan saya malam itu menyampaikan amanah dari seorang hamba Allah di Jakarta yang menitipkan sedikit donasi untuk beberapa penyintas musibah galodo Jembatan Kembar Padang Panjang.

Selain kisah duka Rahmat Hidayat, saya juga menyimak cerita Lindu Pricilia, warga Tanah Datar yang turut mengungsi di rumah tersebut. Ia tinggal tak jauh dari objek wisata air terjun Lembah Anai. Pagi itu hujan deras turun tiada henti. Rumahnya yang berada beberapa meter dari aliran Batang Anai tak luput dari amukan sungai itu.

Mulanya ia ragu mengungsi. Namun, air terus mengalir deras, hujan tidak berhenti, dan malamnya dinding bukit di kawasan itu longsor dan menimbun badan jalan. Lalu lintas lumpuh. Lindu memilih meninggalkan rumah lalu menyelamatkan diri ke rumah kakaknya, Asri Yenti, di dekat Jembatan Silaiang Kariang arah Padang Panjang. Karena jalan terban, ia dan keluarganya menyisiri jalur di sisi rel kereta api yang sudah lama mati.

“Di sepanjang berjalan di bawah guyuran hujan itu, saya cemas … kalau-kalau dinding bukit longsor lagi dan tiba-tiba menjadi galodo yang menimpa kami,” ujarnya terbata-bata.

Setiba di rumah kakaknya, keadaan pun tak benar-benar aman. Batang Anai masih mengamuk, mengalir sejalur dengan aliran air menuju rumah mereka. Mau tak mau, dua keluarga itu kembali mengungsi, meninggalkan rumah menuju titik aman di Padang Panjang.

Di rumah pengungsian tempat mereka berkumpul malam itu, keadaan sangat sederhana. Mereka kekurangan kebutuhan harian, selimut, dan kasur. Beberapa orang tidur beralas tikar tipis, sebagian lagi duduk bersandar pada dinding karena keterbatasan tempat membaringkan tubuh. Di dapur, hanya ada satu kompor kecil yang mereka gunakan bergiliran untuk memasak air dan menyiapkan makanan seadanya.

Anak-anak tidur memeluk lengan ibu mereka. Mereka tidak tahu kapan keadaan kembali pulih, dan tidak tahu pula ke depan harus tinggal di mana.

Ketidakpastian itu lebih menakutkan daripada suara gemuruh air pada hari bencana.

Jembatan Kembar adalah batas kota Padang Panjang, gerbang masuk dari arah Padang maupun menuju Bukittinggi atau Tanah Datar. Kawasan ini lembah yang di kiri kanannya perbukitan hutan lindung lebat di kaki Gunung Tandikek. Dua tahun lalu, banjir bandang besar seiring erupsinya Gunung Marapi telah merusak jalan dan sejumlah bangunan termasuk pemandian alam di Lembah Anai.

Kawasan ini rawan longsor dan sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Kontur alamnya yang ekstrem membuat banyak orang berpikir bahwa infrastruktur di kawasan ini tak bisa lagi dibangun secara biasa-biasa saja. Sudah selayaknya dibangun jembatan layang seperti Kelok Sembilan.

Bencana yang datang silih berganti adalah tanda yang tak boleh lagi diabaikan: bahwa kita harus lebih melek literasi kebencanaan, lebih hormat pada alam, lebih cermat dalam merencanakan kehidupan.

Namun, di balik seluruh kehancuran itu, bencana juga membangun solidaritas. Saya menyaksikan di beberapa titik pengungsian, ketika relawan dari berbagai daerah duduk bersama, berbagi ruang, makanan, memberi ‘trauma healing’, dan merasakan kesedihan yang sama. Orang-orang dari kota lain datang mengulurkan tangan, mengirim bantuan, mengirim doa-doa menguatkan.

Di tengah luka yang panjang ini, manusia justru menemukan kembali kemanusiaannya.

Padang Panjang hanya satu kota di antara kota-kota lainnya di Sumatra Barat yang tertimpa bencana. Di luar Sumatra Barat, terutama Aceh dan Sumatra Utara, ujian tak kalah berat. Jumlah korban meninggal dan orang hilang akibat musibah ini telah ribuan. Puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah, bangunan, dan fasilitas umum seperti jembatan penghubung hancur akibat longsor dan banjir bandang.

Sungguh, kita merasakan duka yang sangat dalam.

Namun, setiap kali bencana tiba, pintu kemanusiaan kita terketuk. Hati kita miris dan teriris sebab ikut merasakan kedukaan. Meski tak banyak yang dapat kita perbuat, tapi sekecil apa pun tindakan adalah bentuk empati yang yang tak boleh mati.

Dan mungkin, pada titik itulah sebuah kota bisa terus membangun diri: dari rasa saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa alam bukan musuh, tetapi sesuatu yang harus dipahami, dihormati, dan diantisipasi dengan kesiapsiagaan.

Tak ada tanggal khusus kapan bencana tiba. Namun, kita bisa memperkecil lukanya bila lebih melek literasi kebencanaan—membaca tanda alam, mendengar peringatan, dan mempersiapkan diri sebelum semuanya terlambat. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM