Oleh Muhammad Subhan
ORANG TUA mana yang tak bangga ketika anaknya sukses menjadi sarjana. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kuliah selesai. Dan, untuk sampai ke titik itu, tak sedikit pengorbanan diberikan. Tetesan peluh, keringat, air mata, dan biaya.

Sarjana adalah harapan ibu dan ayah. Untuk mewujudkannya, mereka berlelah-lelah bekerja di ladang, di sawah, di pasar, di kantor, dan di mana saja. Tak jarang sawah digadaikan demi kuliah anak. Kerbau dijual demi gelar yang akan disandang.
Empat tahun, bahkan lima, dan tak sedikit yang baru lulus lebih dari angka itu.
Malam-malam tanpa tidur, bergelut dengan teori dan skripsi. Menghapal hukum, logika, strategi, seni, atau ekonomi.
Lalu, tibalah hari itu: yudisium dan wisuda. Tangis pecah. Haru. Toga dilemparkan ke udara. Setelah itu berfoto keluarga, dihadiri kawan-kawan sepermainan yang datang dari mana saja. Gelar pun melekat: S.H., S.Pd., S.T., S.Sos., S.Kom., S.Kep., S.Sn., dan sejenisnya.
Tapi setelah itu hendak ke mana kaki mau dilangkahkan?
Kantor demi kantor dikunjungi. Perusahaan demi perusahaan didatangi. Lamaran dikirim via daring dan pos. Duduk di ruang tunggu dengan napas tersengal. Jawaban klise terdengar: Maaf, belum ada lowongan. Maaf, belum sesuai kualifikasi. Maaf, kami sudah punya kandidat.
Ijazah menguning di map plastik. Langkah lesu. Dada sesak. Ke mana lagi harus mencari? Sementara waktu terus berjalan. Biaya hidup menuntut. Dan, gengsi mulai menggerogoti.
Dengan nada sendu Iwan Fals bernyanyi: “Termenung lesu engkau melangkah ….”
Iwan Fals memotret nasib sarjana muda. Lagu itu populer di era 1980-an. Kini, pertengahan tahun 2025. Tapi nada luka itu masih relevan. Bahkan, semakin tajam menusuk.
Perguruan tinggi tumbuh di mana-mana. Gedungnya mewah dan megah. Menjanjikan masa depan cerah. Masuk tak mudah, berjuta-juta uang harus dikeluarkan. Ada yang dapat beasiswa, tapi itu nasib-nasiban.
Persoalannya, sebandingkah lapangan kerja yang tumbuh dari ekspektasi yang dibangun perguruan tinggi?
Penganggur intelektual terus lahir dan menumpuk. Lulusan pintar, tapi bingung harus ke mana. Syukur, bagi yang memiliki orang tua mapan, atau setidaknya tetap mengupayakan, si anak dapat terus melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya: S-2 dan S-3. Yang tidak, harus bertungkus lumus mencari kerja, menjadi ‘orang gajian’.
Sampai kini, masyarakat tak lepas dari konstruksi abu-abu: menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) adalah pilihan terbaik dan prestasi tertinggi. Jika lolos menjadi ASN, kerja dianggap mapan. Ada gaji bulanan. Ada tunjangan. Ada jaminan pensiun dan pinjaman lunak di perbankan. Itu realita. Maka, tak sedikit yang berbondong-bondong ingin jadi ASN.
Dan, setiap tahun, jutaan pelamar berebut ribuan kursi ASN.
Sisanya? Menganggur lagi. Menunggu tahun depan dengan harapan sama. Tak jarang kecewa berulang karena nasib baik belum berpihak.
Tapi, kenapa harus ASN yang diburu? Bukankah hidup tak harus menempuh satu jalur saja? Tak semua jalan harus melalui kantor pemerintah. Tak semua rezeki mengalir dari gaji tetap. Bekerja itu mulia. Meski tak berseragam. Meski tanpa papan nama di dada.
Maka, muncullah pilihan lain: wirausaha, usaha kecil, usaha rumahan, usaha berbasis kreativitas, atau usaha berbasis minat dan bakat.
Hari ini teknologi membuka peluang tanpa batas. Internet telah menjadi pasar raksasa. Media sosial menjadi etalase.
Di internet anak muda bisa menjual apa saja: karya tulis, lukisan, busana, makanan, kerajinan tangan, bahkan ide-ide pun bisa diuangkan.
Bekerja tak lagi soal masuk pukul 8 dan pulang pukul 4 sore. Hari ini bekerja bisa di mana saja: dari kafe, rumah, atau taman kota. Kantor tak harus punya atap, cukup gawai dan jaringan. Yang penting: bergerak, berkarya, dan bertanggung jawab.
Tentu itu tak mudah membalik telapak tangan. Modal tetap dibutuhkan. Ilmu harus dipelajari. Pengalaman harus didapat. Bayang-bayang gagal pasti ada. Tapi kegigihan akan melampaui semua rintangan.
Berjualan nasi bungkus, membuka laundry, menjadi penulis lepas, membuka jasa desain, atau menjadi content creator, semuanya sah dan halal. Asal sungguh-sungguh. Asal tidak merugikan orang lain.
Menjadi wirausahawan adalah keberanian. Bukan hanya soal dagang dan uang, tapi soal semangat, tekad, dan tanggung jawab.
Mahasiswa yang berjualan sejak kuliah, yang belajar membangun bisnis kecil-kecilan, lebih siap menghadapi dunia nyata setelah ia keluar kampus. Mereka tangguh. Mereka kreatif. Dan mereka pantas menjadi pemimpin masa depan.
Kita butuh revolusi pola pikir. Sarjana tidak hanya identik dengan pencari kerja. Sarjana harus menjadi pencipta kerja. Menjadi produsen, bukan semata konsumen. Menjadi penggerak ekonomi, menjadi pemantik inspirasi.
Negara pun harus mendukung. Bukan hanya menambah kursi ASN, tapi juga membangun ekosistem wirausaha muda. Negara harus banyak-banyak memberi pelatihan, akses permodalan, dan pendampingan berkelanjutan. Untuk apa? Tentu agar semangat rakyat yang menyala tidak padam di tengah jalan.
Seorang sarjana, jangan duduk diam menunggu nasib. Jangan habiskan usia dengan melamar kerja dan kecewa. Bangkitlah. Rancang masa depan sendiri. Jika satu pintu tertutup, ciptakan pintu lain. Jika tak ada jalan, tebaskan semak-semak dan buat jalan sendiri. Jika tak ada panggung, ciptakan panggung sendiri.
Karena, bukan gelar yang menentukan arah hidup seseorang, tapi keberanian melangkah dan kemauan untuk terus belajar.
Sarjana bukan gelar mati. Ia adalah bara yang harus terus menyala. Dan bara itu hanya Anda sendiri yang bisa menjaga apinya. Jangan biarkan siapa pun memadamkannya, termasuk Anda sendiri.
Seorang sarjana sejati bukan ia yang hanya tahu banyak, tapi ia yang mampu menciptakan sesuatu dari yang sedikit. Teruslah bangkit. Bangun dunia kecilmu. Mulai dari apa yang kamu punya dan apa yang kamu bisa. Dari sana, semoga rezeki mengalir, martabat terjaga, dan hidup semakin bermakna. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.













