Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Selamat Datang 2026, Selamat Tinggal 2025

badge-check


					Selamat Datang 2026, Selamat Tinggal 2025 Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

SETIAP tahun berganti, selalu ada tanya yang berumah di pikiran: apakah banyak impian telah digapai, atau justru masih mengulang risau di jalan yang sama?

Pertanyaan itu datang tanpa undangan, kadang lirih, kadang keras, seolah meminta kejujuran yang tak bisa ditunda.

Saya tahu, pikiran-pikiran seperti itu juga berkelindan di benak banyak orang. Lumrah, sebab kita manusia, makhluk yang hidup dari harap sekaligus cemas.

Namun, tahun yang berganti bukan sekadar pergantian angka di kalender. Ia adalah pengingat bahwa usia tak lagi muda.

Waktu berjalan tanpa menoleh.

Sudah banyak jalan ditempuh, dekat dan jauh, lapang maupun terjal. Ada langkah yang mantap, ada pula yang ragu. Ada keberanian, ada pula ketakutan yang diam-diam disembunyikan.

Rasanya baru kemarin saya menjadi murid SD, lalu SMP dan SMA, lalu kuliah. Dan momen yang paling terasa “hidup” justru ada di masa remaja, ketika beban belum menumpuk, ketika kemerdekaan sebagai manusia masih terasa utuh, sebelum dunia memperlihatkan wajah keras dan lebih banyak kepura-puraannya. Masa ketika kegagalan belum terasa sebagai “kejatuhan”, dan mimpi belum dipasung oleh kalkulasi.

Di SMP itulah saya pertama kali menulis. Sebuah puisi pendek di majalah dinding sekolah. Tak ada niat besar, tak ada rencana jauh. Hanya ingin menumpahkan isi kepala.

Saya anak yang minder, kerap di-bully teman, lebih sering menunduk daripada menatap. Tapi justru dari situ hidup mulai memberi belokan dan tanjakan.

Seorang kepala tata usaha mengajak saya bergabung dengan organisiasi Pramuka. Ajakan yang awalnya terasa biasa saja, namun kelak mengubah banyak hal dalam hidup saya.

Pramuka menempa saya dengan cara yang keras tapi jujur. Digembleng, dilatih, dipaksa berdiri tegak. Dari anak yang takut berbicara, saya belajar memimpin barisan. Dari yang gemetar mengambil keputusan, saya belajar bertanggung jawab.

Pramuka mengajarkan kepemimpinan, bukan lewat ceramah, melainkan lewat pengalaman.

Saya mulai memimpin kegiatan teman-teman di sekolah, dan perlahan keberanian tumbuh. Luka batin akibat ejekan tak serta-merta hilang, tapi saya punya bekal untuk berdiri.

Memasuki SMA, minat membaca kian kuat. Saya bertemu guru-guru inspiratif. Guru yang tak sekadar mengajar, tetapi juga memberi keteladanan, terutama membaca, menulis, berdiskusi, lalu mengajak murid-muridnya melakukan hal yang sama.

Dari merekalah saya paham bahwa buku bukan hanya benda mati, dan menulis bukan sekadar tugas sekolah.

Di zaman itu, saya mendirikan majalah sekolah stensilan. Dicetak sendiri, dengan mesin stensil manual yang sangat sederhana, dirakit seadanya. Tinta sering belepotan, kertas kadang rusak, tapi majalah itu terbit juga.

Ada kebanggaan yang sulit dijelaskan ketika karya sendiri bisa dibaca orang lain, meski dalam lingkar kecil.

Guru-guru pula yang mendorong saya mengirim tulisan ke koran. Agar tulisan tak hanya berputar di lingkungan sekolah. Saya tak tahu caranya. Saya bahkan tak tahu alamat redaksi.

Tapi semua dipelajari pelan-pelan.

Mengirim via surat, menunggu berhari-hari, berminggu-minggu. Berkali-kali ditolak. Namun, suatu hari, tulisan itu dimuat. Senangnya bukan main. Rasanya seperti menjadi artis, meski nama hanya tercetak kecil di pojok halaman.

Dari penolakan-penolakan saya belajar ilmu dan pengalaman paling berharga dalam hidup bernama “sabar”.

Di luar sekolah, saya aktif di organisais remaja masjid. Di kantor remaja masjid itulah, di pengujung 1990-an, sebuah komputer hadir, barang langka di kampung kami. Dengan komputer itu, saya terus menulis. Mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Dunia terasa lebih luas, meski layar masih hitam dan huruf hijau.

Kesukaan menulis kemudian membawa saya merantau. Dunia rantau membuka mata dan hati: hidup tidak mudah. Setiap orang harus berjuang. Setiap orang harus bekerja.

Saya mencoba banyak pekerjaan. Tak semuanya membuat betah. Tak semuanya memberi rasa aman dan nyaman.

Hingga akhirnya saya kembali pada hobi lama: menulis. Dari sanalah jalan hidup menemukan bentuknya. Menulis bukan hanya penghasilan, tetapi juga terapi. Obat untuk letih dan luka yang tak selalu bisa diceritakan.

Ketika dunia cetak perlahan binasa digerus digital, saya memilih tidak tinggal diam. Saya belajar, menyesuaikan diri. Media publikasi berubah, dari kertas ke maya, dari halaman koran ke linimasa media sosial.

Dunia masa depan dikuasai internet, itu tak terbantahkan. Saya sangat menyadari itu. Maka, saya berusaha tetap terhubung, agar tidak tercecer oleh zaman.

Namun, hidup di dunia digital juga melelahkan. Kita berhadapan dengan sebagian orang yang memvalidasi segalanya dari apa yang mereka lihat di internet. Seolah kebenaran hanya sah jika viral. Padahal, tidak semua kebenaran ada di internet. Ada yang tumbuh dari pengalaman, dari keheningan, dari proses panjang yang tak bisa dipadatkan menjadi unggahan singkat.

Saya pun begitu, tidak semua yang saya lakukan saya bagikan di internet, terutama media sosial. Yang saya bagikan hanya sebagian kecil saja. Itu pun semua bermuara ke tulisan.

Di titik inilah saya menutup 2025 dengan autokritik. Sudahkah saya cukup jujur pada diri sendiri? Sudahkah saya menjaga api yang dulu dinyalakan para guru, sahabat, dan pengalaman?

Menyambut 2026, saya ingin melangkah dengan kesadaran yang lebih utuh. Bahwa hidup bukan lomba cepat-cepatan, melainkan perjalanan merawat hidup: hati dan akal sehat. Bahwa menulis bukan soal tepuk tangan, melainkan keberanian untuk terus berkata benar, meski pelan, meski pahit, meski harus sendiri.

Dan jika suatu hari langkah ini goyah, semoga ingatan akan masa lalu, tentang semangat dan impian tak padam itu, cukup kuat untuk membuat saya kembali berdiri. Meski dalam berdiri itu lebih banyak jatuhnya. Tapi saya ingin berdiri lagi, dan berjalan lagi, hingga langkah ini benar-benar berhenti, dan tak kuat lagi. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM