BUKITTINGGI, majalahelipsis.id—Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang menggelar pemutaran film tugas akhir di Rumah Syarikat, Bukittinggi, pada 3—5 Januari 2025. Selama tiga hari, delapan film hasil karya mahasiswa ditayangkan, termasuk film berjudul Diah, karya Salsabilla Putri, Yolanda Tri Wardani, Septian Asniyardi, dan Yoga Febrian.
Pada hari pertama, pemutaran dihadiri Kepala Program Studi Televisi dan Film, beberapa dosen, serta masyarakat umum. Acara dibuka dengan diskusi bersama para pengkarya. Mereka berbagi cerita di balik proses kreatif, termasuk bagaimana film Diah yang berlatar tradisi Jawa berhasil diproduksi di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, berkat kemiripan lokasi.

Salsabilla Putri menjelaskan, “Diah berkisah tentang ketidakpercayaan seorang anak perempuan terhadap tradisi Jawa, khususnya tradisi jamasan yang dianggap keluarganya sebagai pelindung dari marabahaya. Cerita ini menggambarkan konflik antara keyakinan tradisional dan rasionalitas modern.”

Yolanda Tri Wardani menambahkan, konflik memuncak ketika Diah mengalami kejadian-kejadian supranatural dan kerasukan, memaksa keluarganya mengandalkan keris pusaka yang telah dijamas.
“Hanya pewaris keris pusaka yang bisa melakukan ritual jamasan untuk mengusir marabahaya,” jelas Yolanda.
Antusiasme masyarakat Bukittinggi sangat tinggi, bahkan sebagian penonton rela berdiri sepanjang pemutaran film.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memacu semangat generasi muda untuk terus berinovasi dan berkarya, khususnya dalam memajukan industri film Indonesia di Sumatera Barat,” ujar Septian Asniyardi, salah satu pengkarya.
Acara ini tidak hanya memperlihatkan kemampuan mahasiswa ISI Padang Panjang dalam berkarya, tetapi juga menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat diangkat ke dalam karya sinematik yang relevan dan memikat penonton.








