Oleh Sulaiman Juned
BULAN ini sedang berlangsung semifinal dan final FLS2N tingkat nasional di Jakarta. Tentu sedang marak-maraknya lomba bidang seni untuk siswa yang disebut FLS2N. Kegiatan ini bermula dari sekolah—SD, SMP, SMA/SMK, hingga MA. Namun, jangan sampai kegiatan lomba seni yang dimulai dari gugus di kecamatan sampai tingkat nasional itu hanya menjadi ajang seremonial belaka.

Sekolah-sekolah cenderung menyepelekan bidang kesenian, padahal setiap manusia harus menyeimbangkan kedua kerja otaknya dalam proses menjadi manusia seutuhnya.
Mempelajari seni tidaklah mungkin tanpa pembimbing; kesenian bukan semata hobi, melainkan memiliki teknik dan ilmu pengetahuan. Pencapaian dalam pembacaan puisi, cipta puisi, pantomim, monolog, cipta cerpen, mendongeng, desain poster, jurnalistik, film pendek, komik digital, hingga solo song yang berkualitas tentu diraih melalui kerja keras dan latihan periodik. Bakat saja tidak cukup tanpa proses pelatihan yang berkelanjutan.
Menjadi pembaca puisi yang andal, misalnya, bukan hanya memilih puisi lalu berlatih membacanya. Begitu pula menjadi aktor monolog atau pemain pantomim, bukan sekadar memilih naskah lalu memulai latihan. Ketiga bidang seni ini menuntut latihan rutin. Latihan pernapasan, olah vokal, olah tubuh, olah sukma, dan meditasi merupakan persiapan utama—bagaimana mempersiapkan tubuh menghadapi latihan melalui teknik dasar yang berkesinambungan. Dengan demikian, tubuh dapat dipadatkan dan dilenturkan. Sementara itu, vokal bagi pembaca puisi dan aktor adalah perangkat ekspresi untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Suara merupakan instrumen ekspresi manusia yang dibentuk secara sadar untuk menghidupkan karakter. Karena itu, latihan tubuh dan vokal sesungguhnya juga latihan pembebasan manusia. Tubuh dan suara adalah bagian dari pikiran manusia yang menerima rangsangan sensitif dari otak melalui proses fisik, sehingga menghasilkan pengucapan yang tepat lewat latihan pernapasan yang maksimal.
Kemampuan mengolah suara dengan emosi yang tepat terpancar melalui hati dan tubuh secara bersamaan. Ekspresi tubuh yang melahirkan karakter vokal juga ditopang oleh seluruh pancaindra dalam merespons sesuatu yang fiktif maupun semu. Latihan seperti ini harus dilakukan terus-menerus untuk membangun konsentrasi maksimal. Latihan ini pun mengerahkan kekuatan rohani dan pikiran ke arah yang jelas. Latihan tanpa henti merupakan proses kreatif bagi pembaca puisi, pemain pantomim, dan aktor teater monolog.
Begitu pula dalam mencipta puisi. Sesungguhnya siapa pun dapat menjadi penyair, sebab menjadi penyair bukan berarti menunggu ‘wahyu’. Seorang penyair harus setiap saat mengasah imajinasi agar mampu ‘merebut’ gagasan yang berserakan dalam realitas sosial—diri, lingkungan, dan masyarakat—lalu menuliskannya menjadi puisi. Ini adalah proses pencatatan peristiwa di masyarakat, kemudian diolah menjadi bentuk mental puisi (tema, amanat, urutan logis, pola asosiasi) serta bentuk fisik (nada, larik, irama, intonasi, bahasa, dan tipografi). Memahami kepuitisan dan puitikal objek kata pun memerlukan proses belajar yang terus-menerus, bukan sesaat.
Berdasarkan pengalaman menjadi juri baca dan cipta puisi, monolog, serta pantomim, hampir seluruh sekolah di Indonesia cenderung baru mencari pelatih menjelang lomba, agar siswa diberikan pemahaman singkat tentang materi tersebut. Padahal, selayaknya sekolah-sekolah memiliki sanggar seni untuk melatih siswa secara reguler. FLS2N dilaksanakan setiap tahun, dan ini menjadi penanda bahwa ajang tersebut bukanlah kegiatan seremonial, tetapi dipersiapkan oleh Kementerian Pendidikan sebagai ruang bagi anak-anak yang memiliki kemampuan dan wawasan seni untuk mengembangkan karakter.
Ayo, berlatih tanpa henti untuk mempersiapkan diri. Bravo! []
Sulaiman Juned adalah Sastrawan, Kolumnis, Esais, Sutradara Teater, Pendiri Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, Pendiri UKM Teater Nol USK Banda Aceh, Pendiri UKM Persma Pituluik ISI Padangpanjang, Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni ISBI Aceh (2012–2015), Penerima Pin Emas Bidang Seni Budaya dan Adat Istiadat Pemko Padang Panjang (2020), Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat (2022–2027).
Penulis : Sulaiman Juned | Editor : Muhammad Subhan









