Oleh Muhammad Subhan
NOVELIS Joel Pasbar malam itu turun gunung. Ia datang dari Timbo Abu di pinggang Talamau. Talamau, pasak bumi Pasaman. Gunung itu rancak dari jauh dipandang.

Kami bertemu di rumah Denni Meilizon, Ketua Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Beberapa hari saya bermalam di rumah Denni di Simpang Empat. Joel juga bermalam di sana.
Keesokan harinya, kami melakukan perjalanan ke Ujung Gading, menuju Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Olalaa milik Sumira Putri. Sudah lama Sumira mengundang saya, tapi kesempatan belum ada. Saya diimpit berbagai kesibukan lain, yang juga di ranah literasi.
Undangan itu baru terpenuhi kemarin. Selain saya, TBM Olalaa mengundang Denni Meilizon. Kami diminta sebagai pembicara dalam bincang literasi. Olalaa bekerja sama dengan TK Al-Mukhlisin, Ujung Gading, menghadirkan masyarakat setempat, terutama dari kalangan orang tua.
Turut hadir perwakilan kecamatan, Bamus, wali nagari, sekretaris nagari, serta sejumlah pengelola taman bacaan di Ujung Gading.
Saya salut melihat semangat Sumira Putri. Sejak pulang dari rantau di Jambi, ia memilih mengabdikan dirinya di kampung halaman. Ia mendirikan taman bacaan sekaligus sebuah kafe dengan menu khas teh telur. Ia meracik sendiri teh telur dengan sejumlah varian. Saya mencicipi langsung teh telur itu di TBM Olalaa. Rasanya sedap sekali.
Kalau Denni Meilizon, saya sudah lama mengenalnya, sejak 2010, ketika ia masih bermukim di Kota Padang. Ia penulis produktif, pegiat literasi, dan sedikit orang tahu kalau ia seorang ASN. Di tengah kesibukannya sebagai abdi negara, ia tak sungkan keluar dari zona nyaman, menggerakkan berbagai kegiatan literasi di masyarakat. Ia memilih jalan yang tak mudah itu. Tapi sampai kemarin, saya masih melihat kebahagiaan di wajahnya. Tandanya dia bahagia menjalani jalan literasi itu.
Denni siang itu berpidato berapi-api. Saya bertanya, kenapa kali ini suaranya menggelegar membahana seperti Bung Tomo atau Bung Karno sedang berorasi. Ia tertawa. Alasannya suaranya dibesarkan, karena lokasi acara ada anak-anak TK yang sedang riuh bermain. Suaranya harus bersaing dengan suara tawa dan teriakan anak-anak yang berkejar-kejaran.
Saya ikut tertawa. Memang, acara itu diadakan di ruang pertemuan terbuka yang di sekelilingnya kelas-kelas TK. Anak-anak ramai. Suara mereka juga ramai. Saat saya tampil berbicara, suara juga ikut terbawa besar.
Syukurlah, hingga acara selesai, konsentrasi peserta tetap terjaga dengan baik.
Ada satu hal yang membuat saya kagum pada semangat Denni Meilizon. Melalui komunitasnya, ia bercita-cita hingga 2030 mendatang tumbuh 900 kantong literasi di Pasaman Barat. Minimal, setiap desa atau nagari memiliki sepuluh kantong literasi.
Kantong literasi itu bisa berupa taman bacaan, perpustakaan desa atau nagari, perpustakaan surau dan masjid, hingga sudut-sudut baca dengan berbagai penyebutan. Intinya satu, mendekatkan buku (sumber-sumber bacaan) dan pengetahuan kepada warga.
Itulah alasan Denni memilih pulang kampung ke Pasaman Barat setelah lama bermukim di Padang. Ia ingin memajukan kampung halamannya lewat literasi. Ia percaya, perubahan besar selalu bermula dari kerja-kerja kecil yang konsisten.
Impian itu cukup beralasan. Rendahnya minat baca masyarakat masih menjadi tantangan serius. Buku sering kali dianggap barang mewah, bukan kebutuhan. Gawai lebih cepat memikat perhatian, sementara membaca memerlukan kesabaran. Di sinilah peran pegiat literasi diuji, bagaimana menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar imbauan.
Pasaman Barat bukan hanya dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sawit terbesar. Sedikit yang tahu, di Negeri Tuah Basamo ini pernah lahir seorang tokoh sastrawan perempuan Indonesia bernama Sariamin Ismail (31 Juli 1909 – 15 Desember 1995). Ia tercatat sebagai novelis perempuan pertama di Indonesia. Sariamin sering memakai nama samaran Selasih dan Seleguri, atau gabungan keduanya.
Sariamin menulis novel “Kalau Tak Untung” yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1934. Ia juga menulis untuk sejumlah surat kabar dan majalah, antara lain Pujangga Baru, Panji Pustaka, Soeara Kaoem Iboe Soematra, Sunting Melayu, Sinar Soematra, dan Bintang Hindia.
Kini, Denni dan kawan-kawan di Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat melekatkan nama “Selasih” dalam salah satu programnya: Selasih Writing Camp (SWC). Program ini rutin menggelar pelatihan menulis kreatif, penerbitan, dan peluncuran buku. Nama Selasih bukan sekadar simbol, melainkan penanda sejarah yang dihidupkan kembali.
Dari SWC diharapkan lahir bibit-bibit calon sastrawan baru yang kelak mengharumkan nama Pasaman Barat melalui karya-karyanya. Sejarah bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk dilanjutkan.
Tentu, literasi tidak hanya persoalan menulis. Membaca dan menulis hanyalah alas, pondasi awal untuk membuka jalan yang lebih lebar menuju capaian kesejahteraan, kemandirian berpikir, dan keberanian bersuara.
Pihak kecamatan dan sejumlah nagari di Kecamatan Lembah Melintang merespons baik gerakan yang dibangun TBM Olalaa dan Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Harapan akan tumbuhnya 900 kantong literasi perlahan menemukan pijakan, tentu dengan semangat kolaborasi dan saling percaya.
Usai bincang literasi, Sumira Putri mengundang kami ke TBM Olalaa yang tak jauh dari lokasi acara. Di sana telah hadir beberapa pegiat literasi lain yang juga mengelola komunitas mereka masing-masing. Kami melanjutkan bincang-bincang sembari menunggu teh telur racikan Sumira tiba.
Tak lama, teh telur itu datang, seiring makan siang bersama. Nasi bungkus dengan menu beragam. Saya memilih ikan bakar. Saya memang suka ikan bakar, terutama ikan air tawar. Makan siang sederhana, tapi percakapannya kaya.
Banyak yang kami obrolkan siang itu, di sela gerimis yang jatuh di halaman. Mulai dari penguatan komunitas literasi, program berkelanjutan, hingga strategi bertahan. Kebertahanan menjadi kata kunci. Dan kuncinya adalah sabar.
Menggerakkan komunitas literasi memang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Sabar menghadapi proses yang lambat, sabar ketika kegiatan sepi peminat, sabar saat janji dukungan tak selalu tepat waktu. Kesabaran itu bukan pasrah, melainkan keteguhan untuk terus berjalan meski hasil belum tampak.
Sabar juga berarti kesiapan untuk jatuh-bangun. Ada masa semangat meninggi, ada masa letih menyergap. Pegiat literasi belajar menerima bahwa perubahan tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh perlahan, seperti pohon yang akarnya harus kuat sebelum berbuah.
Sehabis dari Olalaa, saya dan Denni berkunjung ke TBM Ara milik Halomoan Lubis, yang juga menjabat sebagai Pj. Wali Nagari Koto Sawah. Lokasi TBM ini cukup jauh, masuk ke area perkebunan sawit yang luas. Jalannya masih berupa tanah, membuat kendaraan terguncang-guncang. Sebagian jalan beraspal dan bersemen beton, namun banyak yang rusak parah dan berlubang di sana-sini.
Namun, justru dari perjalanan itu saya memungut satu pelajaran penting: semangat para pegiat literasi di daerah tidak pernah memilih jalan mudah. Keterbatasan akses buku, kondisi jalan yang jauh dan penuh rintangan, keterbatasan penerangan, hingga jaringan internet yang tak selalu stabil adalah tantangan sehari-hari.
Di tengah keterbatasan itulah literasi dirawat. Dengan apa adanya, dengan keyakinan, dan dengan sabar. Karena mereka percaya, di balik jalan yang rusak dan buku-buku yang terbatas, selalu ada anak-anak yang menunggu masa depan yang lebih terang. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.









