Oleh Dee Ha
DI sudut kota yang sesak anak berbaju hitam, celana pendek, menenteng koran duduk di trotoar. Tengok kanan kiri, kemudian berjalan di keramaian menuju lampu merah. Kira-kira seumuran sekolah dasar kelas enam. Perawakannya kurus, hitam, rambut merah akibat menahan terik matahari tiap hari. Pemandangan ini terlihat dari gedung tempatku. Di saat menggeliatkan badan menyempurnakan kopi, sesaat lelah membaca, menganalisis pekerjaan. Reaksinya alami. Dari jendela, jalanan padat, dia ikonografisnya.

“Koran…!” Aku melambai memanggil dari bahu jalan.
“Sebentar, Bang.” Jawabnya bersemangat. Respon cepat mendengar panggilan.
“Pos Kota dan bisakah mencarikan koran hari Minggu kemarin? Tanyaku.
“Bisa, Bang. Tapi harganya beda.” Jawabnya.
“Tidak masalah, bedanya berapa?” Usahaku menelisik.
“Dua kali lipat harga biasa.” Terkesan ragu.
Aku tahu keraguannya membuat matanya terbenam tertunduk enggan kulihat.
“Deal .” Aku ajak salaman. “Sudah siang, mau makan bersamaku?” Ajaku.
Dia mengerak-gerakan badan tidak menjawab. Langsung saja aku ajak menuju food court terdekat, ia tidak menolak. Di pintu otomatis, dia terhenti.
“Ayo! Pintunya keburu tutup kalau kelamaan!” Ajaku menggandengnya.
Kami duduk di pojok. Aku pesankan chiken juga minuman dingin.
“Ini jam istirahat. Kamu lapar, kan?” Aku membetulkan makanan dari pramusaji.
“Iya, Bang.” Jawabnya singkat.
“O, ya, saya panggil kamu siapa?”
“Balgis,” Kemudian meminum es nya.
“Oh, Aku Abdul.”
Dia hanya mangut-manggut dan mengulang meminum es-nya.
“Tidak makan, Balgis?”
“Bolehkah saya bawa pulang, Bang?” Tanyanya ragu.
“Makan saja, nanti saya pesan di bawa pulang.”
Mendengar itu sekejap berseri mukanya.
“Untuk adik?” Aku menebaknya.
Dia menggeleng selagi makan dan noda saus terdampar di pipinya.
“Lalu …?”
“Bapak…”
“Oooh, habiskan jangan disisakan!” Kataku.
Jam istirahat habis. Sepertinya tidak dihabiskan Balgis. Sisa-sisa makanan dimasukkan jadi satu untuk dibawa pulang. Kuabaikan itu.
Keesokan hari, Balgis tidak terlihat. Dari jendela aku mencarinya, tidak ada. Suara telepon berdering. Aku balik.
“Hallo …. Selamat pagi, Abdul Hani, ABHE Entertain.”
“Hallo, ini, Pak Bima.”
“Oh, Pak Bima. Kenapa tidak menelpon Hp?”
“Pers rillisnya Bagus. Tolong dipantau perkembanganya. Artikel juga ok. Kerja Bagus.”
Lega. Kerja membangun citra perusahaan bukan perkara mudah. Memeras otak juga mental. Koran Balgis? Itu dokumentasi dan analisa ke depan. Segera Aku turun. Pedagang asongan biasa bersamanya tidak tahu. Syukur dapat alamat. Siang itu hubungi kantor untuk keluar alasan observasi. Kerjaku fleksibel. Siang itu cukup jalan kaki.
Masuk bantaran sungai, gang sempit, kesemrawutan kampung berhias jemuran pakaian dalam, motor dongkrok, tong sampah kumuh dan tembok grafiti.
“Permisi, Bu, mau tanya, di mana rumah Balgis yang biasa jualan Koran?”
“Oh Balgis, Itu gang lurus mentok warna kuning pintunya. Kenapa, Bang?”
“Tidak apa-apa, Bu …” Aku bergegas.
“Bang!” Ia menghentikanku. “Tuh, anak kasihan. Bersama adik dan ayahnya seorang diri. Ayah sakit-sakitan.” Ibu itu memberitahu. Sesekali matanya berkaca saat bercerita. Ibu Balgis meninggal tahun lalu.
Mendengarnya jantung seperti jatuh, Glek, terhenti lalu berdetak cepat. Terbayang, makan kemarin ternyata bisa untuk Ayahnya dan sisa makanannya? Oh my God.
*
Balgis berlari kecil bersama bungkusannya. Dari kejauhan warga-ribut-berkerumun. Ia belum tahu keributan apa. Mendapati kehadirannya, beberapa ibu mendekap Balgis. Ia meronta berhasil berlari mendekati rumahnya. Adiknya menangis sesenggukan. Seketika itu laparnya lenyap terganjal duka.
Air mata tumpah tanpa suara di mulut kakunya, Bungkusan terlempar entah ke mana. Tidak kuasa menjawab siapapun yang mengajaknya bicara. Cukup mengangguk, menggeleng. Menyaksikan perkabungan menyelimuti dirinya.
*
Kuputuskan kembali. Lagi pula mereka tidak ada di rumah. Rasa tali asih bela sungkawa bisa nanti ketika bertemu lain hari.
Tiga hari kemudian aku masih tidak melihatnya. Aku berusaha bersiap melupakan. Lagi pula tidak ada ikatan emosional selain janji Koran pesanan. Saat istirahat, aku menuju food court seperti biasa. Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang yang tidak lain Balgis.
“Bang, maaf ini korannya, juga makanan dari bang Abdul kemarin. Abang tidak usah beli makan siang!” Senyumnya resah.
Aku terdiam. Menerima bungkusannya.
“Bang?!” Balgis menyadarkan. “Maaf tidak tepat janji, kemarin tidak jadi termakan.”
Aku mengangguk mendekapnya.
“Maukah makan bersamaku lagi?”
Bungkusan itu kumasukkan ke dalam tas Balqis dan aku bercerita embari menunggu makanan datang.
“Di antara puing-puing bebatuan zaman Kapur di Tiongkok, ada pemandangan membekukan waktu. Beberapa fosil bayi Psittacosaurus terlindung di bawah naungan kakak mereka yang lebih besar. Makhluk muda ini tampak seperti berlindung saat bencana tiba-tiba melanda, kemungkinan besar letusan gunung berapi memuntahkan aliran puing mematikan dan mengubur mereka dalam sekejap.”
Balgis perhatian mendengar.
“Ini luar biasa, Balgis. Bukan cuma keutuhannya, tetapi diam-diam ia bisikkan kepada kita: cerita ikatan keluarga, perlindungan, dan keberanian menghadapi kehancuran.”
Kuambil napas. “Tahukah kamu, ahli paleontology, Dean Lomax, mempelajari fosil ini mengungkap bahwa individu terbesar dalam kelompok tersebut belum mencapai kedewasaan seksual. Ini berarti ia bukan induk melainkan kemungkinan besar saudara yang lebih tua, Itu menunjukkan bahwa ikatan sosial dan perilaku merawat di antara dinosaurus jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Fosil itu ada dan ditemukan, Balgis. Menjadi saksi sejarah paling kuat tentang bagaimana makhluk purba memperlihatkan sisi kasih sayang. Terperangkap dalam momen dramatis namun abadi, sebagai penjaga terakhir memberikan kita sekilas tentang hidup dan hubungan emosional masa prasejarah.” Tetiba mata ini bekam namun segera kutahan.
“Masa lalu tidak hanya dipenuhi kekuatan brutal alam, tetapi juga kisah kelembutan yang bertahan hingga kini. Seperti kamu berjuang untuk keluargamu.”
Balgis hanya tertunduk. Jelas upayannya menahan tangis terlihat. Untung berhasil. Jika tidak situasi emosional itu bisa menjadi situasi yang merusak makan siang semua orang.
“Kita laki-laki. Tidak harus menangis! Sebaiknya jangan biarkan mata ini memanjakan dirinya hanya persoalan brutalnya hidup.” Kataku mengajak menikmati paha ayam.
“Baik bang, Abdul…”
Kami berdua menikmati makan dengan delay waktu beku. Hati perih dari harapan masa depan dan harus bangkit dari situasi apapun.
“Punya saudara?” Tanyaku mencuci tangan setelah tidak ada lagi yang bisa dimakan.
Balgis hanya menggeleng dan menunduk. Aku memperhatikannya disela kain lap.
“Apa rencanamu?”
“Bekerja dan menyekolahkan Adik, Bang.” Jawabnya pendek,
“Mulia….”
“Bang adakah buku…?” Terlihat sulit mengatakan
“Ya?” Sahutku.
“Psittacosaucucucs, tadi!?” Ia salah mengatakanya.
“Ohh Psittacosaurus? Ada. Besok.” Jawabku pendek.
Sampai di kantor, Aku mencari jurnal paleontology mengulas makluk prasejarah. Tidak sulit menemukannya di tumpukan majalah. Kubuka ada lembar kertas menarik. Aku baca informasi Sekolah Semesta. Sekolah menampung siapapun yang ingin tetapi memiliki keterbatasan. Alhamdulillah ada nomor kontaknya. Kuambil handphone; tut…tut…
Obrolan singkatku dengan Rani dari Sekolah Semesta menjelaskan banyak hal tentang anak putus sekolah. Lebih khusus, Balgis dan adiknya. Apakah kondisi seperti mereka dapat diakomodasi lembaganya. Kabar baiknya, mereka fokus di pemberdayaan demikian. Obrolan kami akhiri untuk berkunjung.
Siang itu kucari Balgis dan memberikan majalah yang kujanjikan. Niatnya sekaligus mengabarkan tentang Sekolah Semesta. Kali ini Balgis membawa bekal sendiri. Dia bilang dimasak oleh adiknya. Itu mengagumkan. Sekalipun seiris telur dadar serupa pizza dan sedikit sayur oseng.
Balgis tertarik dengan Sekolah Semesta. Kemudian aku menghubungi Rani. Rani masih muda, kira-kira berusia dua puluh tujuh. Percakapan kami tenang bagaimana sisi keamanan dan prosedur standar di Sekolah Semesta.
“Kami pastikan aman. Kami di bawah Lembaga resmi internasional. Monitoring juga oleh pemangku kota. Dan tentu saja reputasi kami bisa dilihat di web resmi Sekolah Semesta.” Gadis pintar ini menjelaskan.
Aku membuka web Sekolah Semesta.Id, gelar akademik Rani adalah doktor. Wow, semuda ini? Tiba-tiba aku diberi tahu kalau aku kedatangan tamu kecil.
“Bagaimana, Balgis, Sekolah Semesta?
Balgis mengangguk, “Adik juga mau Bang. Kami mau sekolah biar bisa menjawab semua persoalan dunia. Seperti bang Abdul dulu bilang. Ilmu akan menjaga kita, kalau harta harus kita jaga. Bukankah begitu, Bang?”
“Baik. Sekarang kamu pulang. Saya menyusul dan akan ke pak RT untuk memberikan keterangan.Saya percaya seberat apapun di sana, kamu lebih tangguh.”
“Baik, Bang terima kasih.”
Dua anak menemukan harapan barunya. Bahwa sekolah adalah fondasi dan jalan utama untuk hidup. Bangsa yang sadar akan melihat pendidikan “bersih” sebagai investasi. Bangsa yang akan mempertaruhkan apapun untuk mencerdaskan rakyatnya. Dan yakinlah, mereka tidak akan melupakan bangsa dan negaranya.[]
Solo, 27 Agustus 2025

DeeHa. Adalah nama pena dari Didik Haryanto, S.S. Seorang Guru Bahasa Jawa SMP Sekolah Khusus Olahraga, Surakarta. Saat ini berdomisili di JalanDr. Rajiman 521, Surakarta. Kode Pos 57148. Masih terus belajar menulis cerpen dan opini. Belasan cerpennya dimuat di majalah pelajar mop Jawa Tengah dan beberapa opini dimuat di Koran Solo Pos.
Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi AI.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.









