SMPN 3 Ampek Angkek, Sekolah yang Melahirkan Ratusan Buku Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri”

Sajak

Sajak-sajak Sriyatun

badge-check


					Sajak-sajak Sriyatun Perbesar

Sriyatun. Kelahiran November 1997. Berdomisili Giligenting, Kabupaten Sumenep. Madura. Bergiat di Kelas Puisi Bekasi (KPB).

KASIDAH ANAK RANTAU

1.
aku kembali ke tanah rantau,
sebagai anak jalang
yang meraba jalan pulang
bersama puluhan mimpi
yang lelap di bawah ketiak
yang tak henti kugantung
di lengan nasib

2.
pabila rindu tandang
kutangkup dada,
seraya membuat sketsa desaku
di dalam kepala– sebab
meski telah jauh langkah kaki
aku tak pernah mampu meramal
perjalanan hidup ini

dari sekian ruas jalan
yang ada, beraniku hanya
sekedar menginjak
tanpa pernah tahu
ini serpihan kaca
atau hamparan bunga

3.
di tanah rantau ini
demi menghibur hati,
akan kutulis berlembar-lembar
puisi– sebagai ritual pengikat
antara ruh dan jasadku
kepada ibu yang tengah
menungguku menyelesaikan
mozaik takdir diri

2025

LONCENG MALAM

mengapa setiap malam
ingatan seperti cahaya remang
samar seperti ada matamu
mengintai dari celah lampu
merah; seperti nyala api

tiba-tiba sebuah jalan telah terbuka
di kepalaku– jalan yang telah rimbun
oleh luka dan kenangan
membuatku merasa menjadi
manusia yang paling kehilangan

sementara, aku mulai sibuk
menghimpun puisi rindu
yang tak akan pernah tuntas
sampai kata-kata mulai mendorong
tubuhku ke dalam lamunan nestapa

meski dengan ingatan
yang babak belur – sebab
terlalu sering diamuk kerinduan
aku berhasil merayakan sepi
dengan segenggam emosi
yang telah berhasil
membuat cinta mati suri

2024-2025

MATA YANG GAGAL BERTEMU MALAM

1/
aku sudah lupa
kapan terakhir mataku
bertemu malam; terlelap-
sebab sejak kau pergi
duka mulai menggerogoti
segenapku-waktu tak berdetak
seluruhnya berubah menjadi batu

2/
inikah rupa kehilangan
aku tidak tahu persis;
tapi, setiap malam dadaku
adalah pemakaman;
namun kau tak pernah datang
menabur bunga
atau sekadar menyalakan dupa

3/
pada keputusasaan ini
telah kubuat pasrah
sampai kelak
tak terlupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sajak Muhammad Subhan: Ratib dari Tanah yang Luka

2 Desember 2025 - 17:14 WIB

Sajak-Sajak Sulaiman Juned

2 November 2025 - 20:11 WIB

Sajak-Sajak Mh. Dzulkarnain

26 Oktober 2025 - 19:48 WIB

Sajak-Sajak Yanuar Abdillah Setiadi

19 Oktober 2025 - 18:25 WIB

Sajak-Sajak Kahar DP

12 Oktober 2025 - 18:36 WIB

Trending di Sajak