Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

Sajak

Sajak-Sajak F.A. Lillah

badge-check


					Sajak-Sajak F.A. Lillah Perbesar

F.A. Lillah. Lahir di Madura. Kini masih menjadi mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Tulisannya berupa puisi dan esai terpublikasi di media cetak dan online.

Kursi Roda
: Maniyah

aku ingin belajar menangis tanpa air mata. tanpa harus memaki waktu yang mulai mengkerut usiamu. meskipun tak setiap hari, itu adalah menu favorit ketika bermalam di kuil cintamu. terkadang aku juga perlu menjelma sebagai puisi interteks yang terhindar dari kata-kata malas untuk mencintaimu. agar sakitmu nyenyak oleh selimut silsilah kata-kata yang berupaya merawat ingatan dengan sejumlah aura lentera. dan acap kali aku berterima kasih kepada semesta karena tidak terbenam oleh rahasia-rahasia di balik kursi roda yang membayang satu kisah air mata atas bunyi roda yang amat misteri.

Yogyakarta, 2025

Trilogi Nyanyian Angsa
: Ahmad Ridla Jazuli

/1/
engkau adalah pelita yang menembus dinding-dinding tanpa pintu di pagi hari. bunga melati di halaman, sepenuhnya menjadi jejak langkah yang berkecambah hingga ke arafah. seharian merindang riang mengisap sari puisi yang tumbuh dari rangkaian subuh. namun mengapa di pagi hari yang lain, suara derap kaki turun dari masjid, sudah menjadi pelabuhan rasa asin air mata.
—sampai hari ini, aku masih bertanya antara siapa yang sebenarnya tiada.
/2/
aku tak tahu apakah angin berdesir di bibir pekarangan. yang pasti kesucian suasana berubah menjadi lagu-lagu elegi. seketika perabotan dan para tetangga terombang-ambing sekian jam oleh irama-irama yang tak diketahui makna tunggalnya. dan setelah semuanya membaca kitab kepulangan, aku kandas merasakan nyala api hantaran “ketika bertepatan dengan waktu mata hari terbenam, kejayaan akan terkubur bersama?!”
/3/
dalam tubuhku, air yang jernih dan batu sungai meminta ampunan untuk kesembuhan dan kesadaran. penderitaan—penolakan adalah menu semesta yang amat manis; yang terang tak terlihat dalam kemilau aurora kehidupan.

Cafe Joglo, 2025

Senandika

sebelum benar-benar padam lampu main. telah lama aku mencintai pekerjaan ini. seperti rumah yang menyediakan pintu membasuh penat. meskipun musim hujan melangkah lebih cepat, senantiasa kurasakan terik doamu di setiap perjalanan. akan tetapi menyimak parade kisah pengguna ojek online: terkadang penuh drama, bikin tertawa, ada pula yang jengkel, dan tak sedikit penuh haru. membentur laju semangatku menuju alamat rumahmu. seakan aku jatuh di jalan kota tertimpa tenaga. dan meskipun hati kami tidak dapat digusur, taring bahasa keluargamu merobek pembuluh darah. biarlah kata-kata terlepas dari geggaman, menemui kediaman yang tidak hidup di belakang halaman tanah kelahiran.

Yogyakarta, 7/5/25

Etnografi Tubuh-Tubuh Hewan Terpelajar

akhirnya kita dihadapkan dengan suatu tempat paling liar di muka bumi. akar minat publik tak pandai meniti buih-buih algoritmik. respon kemajuan mempreteli trend sebagai produk visual hedonistik. tenggelam dan kita masih dalam skenario derita pandemi yang lain. manakala keterbukaan jalan setia budi tidak cukup membendung gencatan senjata laras latah yang sudah membiak sebagai virus endemis.
*
sesungguhnya kita lahir dengan mimik dwibahasa kekuasaan: mencintai dan ditakuti. aritmetika dan pecahan saintis terpandang hijau. pertanda roda-roda musim berputar mendeklamasikan kendala dapat dikenali. namun pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar siap untuk mengurai cipta kebebasan? mengingat peristiwa social engineering tumbuh di ujung gelap bersama information disaster.

belum memiliki tawaran malah ikut alur ketidak wajaran. adalah gelombang elektromagnetik yang sering berkeliaran di dekat kita dengan identitas virtual yang gandrung akan ketenangan. keluar-masuk seakan tidak paham arti sebuah arah kehidupan. di mana semua lebih natural mengatakan—baik mencintai diri sendiri adalah ibadah kekinian jika sebelumnya kita sudah memblokir masa depan.

—ke mana kita hari ini membawa autobiografi.

Yogyakarta 2025

Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi AI.

Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sajak Muhammad Subhan: Ratib dari Tanah yang Luka

2 Desember 2025 - 17:14 WIB

Sajak-Sajak Sulaiman Juned

2 November 2025 - 20:11 WIB

Sajak-Sajak Mh. Dzulkarnain

26 Oktober 2025 - 19:48 WIB

Sajak-Sajak Yanuar Abdillah Setiadi

19 Oktober 2025 - 18:25 WIB

Sajak-Sajak Kahar DP

12 Oktober 2025 - 18:36 WIB

Trending di Sajak