Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

Sajak

Sajak-Sajak Abdul Wachid B.S.

badge-check


					Sajak-Sajak Abdul Wachid B.S. Perbesar

Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

BALADA HUTAN

1.
Di antara akar damar yang menembus tanah Bukit Barisan,
bisik tanah basah mengalir seperti doa yang tak terhitung.
Daun meranti bergesekan,
menyanyikan zikir kepada angin,
sementara pohon kapur berdiri tegak menahan berat langit.

2.
Sungai-sungai kecil dari lereng gunung mengalir ke rawa,
membawa rahasia hujan tropis,
dan bunga kantong semar di sela bebatuan
menjadi huruf-huruf doa bagi setiap langkah yang melintas.

3.
Di sini, waktu tidak tergesa,
dan setiap hembusan napas adalah pelajaran tentang sabar.

4.
Burung enggang berteriak di tajukku,
orangutan bergelantungan mendengar,
siamang menelusup di cabang tinggi.
Mereka belajar dari akar yang menembus gelap,
dari daun yang menjemput cahaya,
bahwa hidup adalah zikir yang terus berulang,
dan kehati-hatian adalah wujud cinta kepada Sang Pencipta.

5.
Angin barisan pegunungan mengelus puncak-puncak pohon,
membawa bisikan dari daun ke daun,
menyampaikan kisah manusia yang lalai,
yang sering menebang tanpa menimbang,
mengalirkan air tanpa tahu sumbernya.

6.
Di lereng, tanah longsor pelan berderak,
seolah mengingatkan siapa pun yang mendengar,
“Setiap pohon meranti yang rebah adalah tangisku,
setiap sungai yang tersumbat adalah doaku yang tertahan.
Peliharalah aku, maka engkau akan belajar sabar dan rendah hati.”

7.
Manusia datang dengan kaki dan tangan bercampur tanah,
mengukur keberanian dan kesabaran.
Mereka berdiri di antara rimbun daun,
mendengar bisikku yang tak bersuara.
Aku menyimpan rahasia setiap langkah mereka,
menanam hikmah di setiap helai daun.

8.
Hujan tropis turun lembut,
membasuh debu dan luka,
mengalir di batang, meresap ke akar,
menghidupkan bunga kantong semar yang menutup mata.

9.
Ia mengajarkan manusia tentang kesetiaan alam.
Setiap tetes adalah doa,
setiap percikan adalah pengingat dari Yang Mahakuasa.

10.
Aku Hutan, tubuhku adalah kitab,
setiap serangga dan burung adalah ayatnya,
setiap bunga, buah, dan getah adalah surahnya.

11.
Aku menegur, menasihati, menuntun,
dengan suara yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang rindu.

12.
Ketika manusia lupa, aku menahan nafas angin,
menyimpan kabut yang menelan jejak kaki,
menyuarakan rahasia,
“Barangsiapa menghancurkan aku, menghancurkan dirinya;
barangsiapa menyayangiku, menemukan jalan pulang ke hati dan Tuhan.”

13.
Di puncak pagi, sinar mentari menembus sela daun,
menjadi tanda bahwa hidup adalah cahaya,
dan setiap makhluk adalah pengingat akan kasih-Nya.

14.
Aku Hutan, tubuhku adalah doa,
tubuh ini menangis, tersenyum, dan bersujud,
menjadi cermin bagi yang ingin memahami:
alam bukan milik manusia,
melainkan sahabat dan guru yang menuntun langkah manusia.

15.
Akar damar menancap, menahan beban langit,
ranting kapur menari di angin,
setiap daun menyimpan doa yang tak terdengar.

16.
Burung enggang dan siamang menjadi saksi,
sungai dan tanah menjadi pena,
menggoreskan pelajaran hidup bagi setiap yang melintas.

17.
Aku Hutan, tubuhku adalah doa,
suara semesta yang abadi,
menyala di setiap helai daun,
menuntun manusia pulang
kepada kesadaran dan ketundukan yang hakiki.

2025

BALADA ANGIN DAN KABUT

1.
Kabut menetes di lembah,
menyelimuti akar damar dan meranti,
seperti suara doa yang tak terucap.
Angin membawa bisikan rahasia hutan,
menggoyang bambu dan ranting kapur,
mengajarkan sabar kepada setiap yang menatapnya.

2.
Setiap butir embun adalah ayat,
setiap hembus angin adalah surah,
yang menyebarkan benih, kesadaran, dan cahaya.
Burung enggang menunggu di tajuk tinggi,
siamang menelusup di celah daun,
mereka membaca ayat kabut, memahami sabar.

3.
Angin berlari di antara lembah dan jurang,
menggerakkan pohon, menyejukkan tanah,
mengalirkan cerita tentang manusia yang lalai,
yang menebang tanpa menimbang,
mengalirkan air tanpa mengerti sumbernya.

4.
Kabut memeluk pohon-pohon,
menyembunyikan rahasia hutan dari mata lalai.
Di setiap helai daun, ada pesan tersimpan,
“Cintailah bumi ini, maka engkau mencintai dirimu.
Hidup adalah keseimbangan antara memberi dan menerima.”

5.
Sungai kecil mengalir di bawah kabut,
membawa serpihan daun, biji, dan doa yang jatuh.
Angin menuntun mereka ke tanah,
menghidupkan akar, menegakkan batang,
menjadi bahasa yang hanya dimengerti oleh jiwa yang rindu.

6.
Burung dan serangga menari di udara,
mengiringi musik kabut dan angin,
menyuarakan hikmah yang tidak terdengar,
bahwa setiap langkah manusia adalah tanggung jawab,
setiap napas adalah doa, setiap gerakan adalah shalat.

7.
Kabut menghilang perlahan saat mentari menembus tajuk,
namun pesan tetap tinggal,
tersimpan di ranting, daun, dan akar,
mengajarkan sabar, rendah hati, dan kesadaran,
bahwa setiap makhluk adalah guru yang menuntun manusia pulang.

8.
Angin berhenti sejenak,
menjadi hening yang penuh makna,
mendengar bisik dari daun dan tanah,
mengajarkan manusia,
“Barangsiapa merusak aku, menghancurkan dirinya sendiri.
Barangsiapa menjaga aku, menemukan jalan pulang ke hati dan Tuhan.”

9.
Kabut, angin, dan daun bersatu,
menjadi nyala yang menuntun,
menjadi doa yang hidup,
mengalir ke setiap helai daun dan batang,
membawa manusia kembali kepada kesadaran,
kepada Tuhan yang menghidupkan alam ini.

2025

BALADA RAWA RAWA DAN SUNGAI

1.
Rawa menunduk di lembah Bukit Barisan,
daun pandan basah berbisik,
memintal doa dari tanah yang menahan hujan.
Sungai menanggapi dengan aliran yang lembut,
menghapus jejak langkah lalai manusia.

2.
Embun pagi menetes di sela rumpun alang-alang,
menghidupkan lumut dan bunga kantong semar,
setiap tetes adalah huruf yang menyusun surah alam,
dan setiap riak sungai adalah jawaban dari doa yang tersimpan.

3.
Burung enggang terbang rendah di atas rawa,
siamang menjerit dari pucuk meranti,
mereka mengingatkan:
hidup adalah zikir yang berulang,
dan kesabaran adalah cinta yang tak bersuara.

4.
Sungai bercerita tentang hulu yang tertindas,
tentang banjir yang menelan ladang dan rumah,
raja rawa menanggapi,
“Setiap genangan adalah peringatan,
setiap tanah yang tergenang adalah ayat yang tersimpan.”

5.
Angin barisan pegunungan membawa benih,
kabut menyejukkan setiap akar yang lapar,
daun pandan menari di tepian,
mereka berbisik, “Jagalah keseimbangan,
agar manusia mengerti arti memberi dan menerima.”

6.
Hujan tropis membasahi batang dan akar,
menghidupkan tanah, meresap ke dalam rawa,
membisikkan rahasia lama,
“Kesadaran manusia adalah doa yang paling murni,
dan alam adalah guru yang paling setia.”

7.
Setiap pohon yang rebah, setiap ranting patah,
adalah pelajaran bagi predator dan mangsa,
untuk manusia yang hadir:
belajar mendengar suara semesta,
menemukan hikmah dalam aliran dan genangan.

8.
Sungai dan rawa bergandeng dalam simfoni,
mengalun sebagai doa, zikir, dan pengingat,
bahwa kehidupan bukan milik satu pihak,
melainkan tarian seluruh makhluk,
yang menuntun pulang ke kesadaran hakiki.

9.
Embun terakhir menetes di pucuk pandan,
sungai menelan cahaya sore, menyalakan renungan,
dan manusia, yang berjalan di tepian,
merasakan bahwa setiap genangan, setiap arus,
adalah suara semesta yang menuntun hati pulang.

2025

BALADA SATWA HUTAN

1.
Kabut pagi menutup lereng Bukit Barisan,
harimau melangkah, jejaknya menekan tanah lembap,
daun-daun bergeser, akar menahan bisik rahasia bumi.

2.
Orangutan meniti ranting tinggi,
tangannya menyentuh dedaunan yang basah,
menghitung hari, menyalakan sabar dalam denyut hutan.

3.
Burung enggang menoreh langit dengan sayapnya,
suara panggilannya memantul dari lembah ke lembah,
mengajarkan manusia: hidup adalah keseimbangan yang rapuh.

4.
Siamang menjerit dari cabang ke cabang,
ritme suaranya menganyam mantra sunyi,
menyampaikan hukum alam dan kasih yang tersembunyi.

5.
Setiap predator adalah doa bagi mangsanya,
setiap mangsa adalah pelajaran bagi predatornya,
dan manusia, pengamat lalai, belajar dari ritme alam.

6.
Bunga kantong semar menutup mata,
buah durian jatuh diam, membisikkan rahasia kesabaran,
dan pepohonan menahan tangis bagi setiap yang ditebang.

7.
Hujan tropis menembus tajuk, membasuh luka bumi,
tanah longsor mengingatkan siapa yang menebang tanpa hati,
sungai kecil mengalir, menyampaikan bisikan, “Peliharalah kami.”

8.
Satwa dan tumbuhan bersuara bersama semesta,
mengalun sebagai doa, zikir, dan pelajaran,
menuntun manusia pulang ke kesadaran dan ketundukan.

9.
Orangutan, harimau, burung enggang, siamang,
bukan sekadar makhluk, tetapi ayat-ayat hidup,
mereka mengajarkan doa, kehati-hatian,
dan cinta yang abadi kepada Sang Pencipta.

2025

BALADA AKAR DAN TANAH

1.
Akar menembus gelap tanah, meresap rahasia bumi,
mengikat harta air dan mineral yang tak tampak mata.
Di sela batu dan lumpur, mereka berbisik kepada benih,
“Bangkitlah, tumbuhlah, karena hidupmu adalah doa.”

2.
Di bawah daun yang menari dengan angin,
tanah mengandung kenangan hujan,
menghidupkan lumut dan jamur,
menjadi pusaka bagi setiap langkah yang melintas.

3.
Cacing dan serangga berderap dalam senyap,
menyiapkan meja bagi akar untuk berbagi,
mengajarkan manusia: kesuburan bukan milik sendiri,
tapi jaringan kehidupan yang tak ternilai.

4.
Hujan menetes, meresap, menyuburkan akar,
menyulut napas pohon meranti dan kapur,
mengajarkan sabar, ketahanan, dan penyerahan,
bahwa setiap rintik adalah bisikan Sang Pencipta.

5.
Akar memeluk tanah, menahan longsor,
menahan gelombang aliran sungai yang ganas,
mereka adalah guru tanpa kata,
menunjukkan keseimbangan antara memberi dan menahan.

6.
Di sini, kehidupan hutan tersusun rapi,
predator dan mangsa menari dalam harmoni,
daun gugur menjadi makanan, ranting patah menjadi rumah,
semua berjalan sesuai nyala yang tak terlihat.

7.
Manusia datang, mengukur tanah dengan kaki dan tangan,
mereka sering lalai pada harta yang tak tampak,
tanah bergetar, akar menekankan,
“Hormatilah aku, maka engkau akan belajar rendah hati.”

8.
Bunga dan biji menanti cahaya,
jamur dan lumut menunggu lembap,
tanah mengingatkan: hidup adalah kesabaran,
dan setiap helai daun adalah surat dari Yang Mahakuasa.

9.
Akar menancap, tanah bernafas,
menghidupkan pohon dan seluruh makhluk di atasnya.
Balada ini adalah doa yang tersimpan dalam tanah,
mengajarkan manusia pulang ke kesadaran,
menjadi sahabat dan pelindung bumi yang subur.

2025

BALADA DAUN MERANTI DAN CAHAYA

1.
Puncak rimbun meranti menari dalam cahaya pagi,
daun-daunnya berbisik seperti zikir tanpa suara.
Setiap hela napas angin adalah doa,
menyapa akar yang menempel di tanah lembab,
menyampaikan rahasia hidup yang tak tergesa.

2.
Sinar mentari menembus celah daun,
menjadi garis cahaya yang menuntun embun jatuh ke bumi.
Bunga-bunga kecil menyingsingkan mahkota,
menyiramkan cahaya pada setiap langkah serangga,
mengajarkan kesetiaan dalam kesederhanaan.

3.
Burung enggang melintas, terbang rendah di sela dahan,
siamang bersiul di cabang yang tinggi.
Mereka menjadi saksi bagi kehidupan yang rukun,
mengingatkan manusia bahwa tiap daun adalah pesan,
dan tiap ranting adalah surah yang tak bersuara.

4.
Angin barisan pegunungan berkelana di antara pucuk,
menyebarkan benih, membawa kabut yang menyejukkan tanah.
Di tiap gerak daun, terdengar bisikan,
“Jagalah aku, jagalah aku, agar kau tetap belajar sabar.”

5.
Hujan tropis turun, lembut membasahi batang meranti,
meresap ke akar, menembus tanah hingga sungai.
Air menari di sela akar, menyejukkan tanah,
menghidupkan kehidupan yang tersembunyi di bawah rimbun hijau,
dan membisikkan doa kepada yang Maha Kuasa.

6.
Setiap daun yang berguguran adalah surat,
setiap ranting yang patah adalah amanat.
Aku menegur yang lalai, menuntun yang tersesat,
melalui cahaya yang menembus rimbun meranti,
hingga hati manusia bersujud dalam kesadaran.

7.
Manusia datang, kaki mereka menyatu dengan tanah,
tangan mereka menyentuh daun lembab dan akar yang menjerat bumi.
Mereka mendengar suara yang tak terdengar,
merasakan doa yang mengalir di tiap hela daun,
dan belajar bahwa hidup adalah keseimbangan memberi dan menerima.

8.
Di pagi yang sama, sinar mentari menembus pucuk meranti,
membentuk pola cahaya yang menuntun embun jatuh,
setiap tetes menjadi cermin, setiap percikan menjadi pelajaran,
bahwa alam adalah kitab, dan manusia adalah murid yang rindu.

9.
Puncak rimbun meranti tetap menari dalam cahaya,
daun-daunnya menyala dengan doa yang abadi,
menyebarkan suara semesta,
menuntun manusia pulang kepada kesadaran,
kepada ketundukan dan kasih yang hakiki.

2025

BALADA PERCAKAPAN SUNGAI

1.
Krueng Jambo Aye mengalir di bawah kabut pagi,
menyentuh akar pohon, membisikkan rahasia bumi,
“Aku menampung tangis hujan, serpihan dahan, dan debu jalan,
manusia lalai pada nyawaku,
namun aku tetap menuntun kehidupan yang terhanyut.”

2.
Krueng Peureulak beriak pelan di tepian sawah,
mengadu pada batu-batu dan daun bambu,
“Setiap aliran adalah doa,
setiap pusaran adalah nasihat;
tapi mereka memotong hutan tanpa rasa,
menyebar duka hingga ke desa yang lelap.”

3.
Sungai Kluet menanggapi dengan suara lembut namun tajam,
“Hujan menimpa tubuhku, tanah longsor meremukkan tepian,
anak-anak basah kuyup memandangku.
Aku mengalir bukan untuk menenggelamkan,
tapi untuk menuntun manusia pulang ke kesadaran.”

4.
Sungai Tamiang berdesir, menyapa akar-akar pohon meranti,
“Airku membawa kehidupan,
membasuh luka bumi,
tapi mereka tetap menebang tanpa doa,
mengalirkan air tanpa menghitung sumbernya.”

5.
Krueng Teunom menutup mata airnya sejenak,
mengangkat kabut menjadi tirai rahasia,
“Bumi yang subur menangis,
hutan yang basah berdoa,
dan kami, sungai-sungai, adalah guru sunyi bagi yang mau mendengar.”

6.
Sungai Simpang kanan menambahkan desahnya,
“Percakapan kami bukan sekadar aliran air,
tetapi zikir yang menuntun manusia memahami:
setiap pusaran adalah amanat,
setiap gelombang adalah pelajaran bagi yang lalai.”

7.
Krueng Jambo Aye, Peureulak, Kluet, dan Tamiang bersatu dalam bisikan,
“Manusia lupa bahwa kami bukan milik mereka,
kami adalah nyawa, doa yang mengalir, dan rahasia semesta.
Bumi menahan, hutan menekankan sabar,
kami menuntun siapa pun yang rindu kembali.”

8.
Hujan tropis menetes, membasahi tepian sungai,
membangkitkan embun, menari di daun bambu dan meranti,
memanggil orangutan, burung enggang, dan siamang,
mereka ikut bersuara dalam lagu kehidupan:
zikir alam yang tak henti, penuh sabar dan hikmah.

9.
Manusia datang, langkah mereka berat dan cepat,
tapi air mengalir, menuntun kaki yang lalai,
menunjukkan jejak aman untuk kembali,
dari hutan ke sawah, dari gunung ke desa,
hingga hati mereka belajar menimbang dan bersyukur.

10.
Sungai-sungai menatap langit, membisikkan doa kepada awan,
“Cintailah aku, peliharalah tubuhku,
supaya hujan tidak menjadi bencana,
dan setiap tetes tetap menjadi berkah,
setiap aliran tetap menjadi pengingat akan kasih-Nya.”

11.
Krueng Jambo Aye, Peureulak, Kluet, Tamiang, dan Teunom,
menjadi nyawa yang bersatu dalam suara semesta,
mengingatkan manusia akan amanat kehidupan:
keseimbangan adalah doa,
kesadaran adalah shalat,
dan setiap aliran sungai adalah ayat yang hidup.

2025

Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Sulaiman Juned

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sajak-Sajak Tahun Baru Fileski Walidha Tanjung

28 Desember 2025 - 14:02 WIB

Syal Merah di Genggaman

28 Desember 2025 - 12:58 WIB

Penjual Kupu-Kupu

21 Desember 2025 - 12:34 WIB

Sajak-Sajak Sulaiman Juned

7 Desember 2025 - 19:57 WIB

Nyotaimori

7 Desember 2025 - 11:41 WIB

Trending di Gelanggang