Oleh Emi Suy
DALAM pandangan Islam, peran perempuan bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan bagian penting dari denyut peradaban itu sendiri. Ia bukan hanya ibu dan pendamping, tetapi juga pelopor perubahan, penjaga nilai, sekaligus penumbuh harapan.

Sosok dr. Aldena Cinka Nauratefida Putty, C.EI., MARS., FISQua adalah salah satu contoh nyata perempuan muda yang menghidupkan makna itu. Namanya mungkin belum begitu akrab di telinga publik, namun jejak karyanya telah menyentuh banyak hati. Ditemui usai menjadi pembicara dalam Seminar Inspiratif Woman di Jakarta, perempuan yang lembut tutur katanya dan sopan perilakunya ini berbicara dengan tenang, namun tegas.
“Islam memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berkembang dan berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan,” ujarnya. “Baik di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Dengan demikian, perempuan Muslimah dapat berperan aktif dalam membangun kehidupan yang harmonis dan sejahtera tanpa kehilangan nilai-nilai keluarga.”
Menurut dr. Cinka, Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia dan setara. Melalui pendidikan, dakwah sosial, dan karya nyata, perempuan dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Peran mereka beragam sebagai pendidik generasi, penjaga moral keluarga, pelaku ekonomi, hingga pemimpin yang menebar nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Wanita Muslimah Indonesia, dr. Cinka memahami betul luasnya ladang kontribusi perempuan.
“Wanita Islam berperan dalam pembangunan bangsa melalui banyak jalan,” ungkapnya. “Mereka menjadi pendidik bagi generasi muda, penggerak ekonomi seperti pelaku UMKM, hingga pelopor kegiatan sosial dan keagamaan melalui majelis taklim, dakwah media sosial, dan berbagai gerakan kemasyarakatan lainnya.”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perempuan juga memiliki peran strategis di sektor publik politik, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Namun di atas semua itu, perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat karakter, etika, dan nilai-nilai kebaikan pertama kali ditanamkan.
Dalam sesi seminar tersebut, dr. Cinka juga mengingatkan pentingnya kebahagiaan dan pola pikir positif bagi perempuan dan remaja. Ia menyoroti fenomena banyak remaja yang mulai mengesampingkan nilai sopan santun dan etika.
“Remaja adalah generasi penerus perjuangan bangsa. Mereka harus belajar dalam segala hal — termasuk belajar tentang adab. Sebab ilmu tanpa etika hanyalah cahaya yang tak tahu arah,” ujarnya lirih.
Penerima Penghargaan Citra Istakarya Nusantara 2023 ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bima Sakapenta, Tegal. Pola pikirnya yang luas dan kepekaannya terhadap dunia sosial membuatnya aktif memberi edukasi bagi generasi muda terutama mereka yang membutuhkan teladan dan ruang untuk tumbuh.
“Semoga apa yang saya sampaikan bisa memotivasi banyak wanita dan generasi muda Indonesia untuk terus belajar, berkreasi, berinovasi, dan berproduksi,” ungkapnya sambil tersenyum lembut.
Ia seorang ibu tunggal dari Althafandra Atharrazka Khawarizmi Rafie, namun tetap berdiri teguh — membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu harus bersuara keras.
Dalam acara yang sama, hadir pula Dr. Aliefety Putu Garnida CHt., SST., SKM., SH., MH.Kes., M.Psi., MARS., FISQua., C.Ei., FRSPH., M.B.A, Ketua Umum Wanita Muslimah Indonesia. Ia memuji semangat para pembicara yang mampu menghadirkan inspirasi dan harapan bagi banyak perempuan.
“Acara ini memberi warna dan semangat tersendiri bagi perempuan Indonesia,” tuturnya. “Banyak di antara mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi, bahkan kekerasan rumah tangga. Melalui kisah-kisah seperti ini, kami ingin menyampaikan pesan: jangan pernah berhenti bermimpi. Jika kita takut mencoba, kita tak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita.”
Menutup perbincangan siang itu, dr. Cinka menegaskan kembali bahwa Islam menekankan kesetaraan dan perlindungan bagi perempuan.
“Islam memuliakan perempuan. Karenanya, wanita Muslimah harus menjadi cahaya di keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kita berperan bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tetapi untuk bersinergi dalam kebaikan.”
Langkah yang Tak Pernah Padam
Menjadi perempuan Muslimah di zaman ini adalah perjalanan antara menjaga dan memperjuangkan — menjaga nilai-nilai yang diwariskan iman, sekaligus memperjuangkan ruang untuk tumbuh dan memberi makna.
Di tengah derasnya arus modernitas, perempuan bukan sekadar penonton perubahan. Mereka adalah denyut yang membuat kemajuan tetap bernapas dengan nurani. Mereka menanam keteguhan di rumah, menebar ilmu di sekolah, menggerakkan hati di ruang sosial, dan menyembuhkan luka di masyarakat.
Seperti dr. Cinka dan banyak perempuan lainnya, mereka berjalan tanpa banyak suara, namun setiap langkahnya menyala. Mereka tidak selalu tercatat di buku sejarah, tetapi kehidupan yang lebih lembut, manusiawi, dan penuh harapan sering kali tumbuh dari tangan-tangan mereka yang bekerja dalam diam.
Hari ini, perempuan Muslimah Indonesia sedang menulis bab baru dalam kisah bangsanya bab tentang keberanian untuk berpikir, berbuat, dan beriman tanpa kehilangan kasih. Sebab sesungguhnya, berkontribusi untuk negeri bukan hanya tentang jabatan atau prestasi, melainkan tentang bagaimana setiap niat kecil diubah menjadi cahaya yang menuntun sesama menuju kebaikan. []
Penulis : Emi Suy
Editor : Muhammad Subhan









