Rahmat M. Harahap. Bernama lengkap Rahmat Mulia Harahap. Lahir di kota Padangsidimpuan, Sumatra Utara. Sejak tahun 1995 sampai sekarang tinggal di kota Palembang. Tulisannya berupa cerpen dan puisi telah dimuat di media online dan surat kabar yang terbit di Kota Medan, Padang, Palembang, dan Jakarta. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit “Pembunuh Ibu” (2023) dan “Haruskah Kutulis Aku Bahagia?” (2024).
Nikah Ilalang

Letih menunggumu
Merdekakan rinduku yang membatu
Aku nikahi kembang ilalang yang gugur bersama wajahmu
Lenyap di savana tak perpengharapan.
Mestinya tidak kita retas jalan pergi
bila membuatmu tersesat untuk pulang.
Mestinya kita tidur saja di atas tanah merasakan alun napasnya
merestui gemintang yang bersinar di dada kita.
Mestinya kudekap erat dirimu, kuciumi, kulumat sampai tidak bersisa
agar jarum jam tidak selalu memaksakan perpisahan.
Dan jika beringin meranggas kawin dengan angin utara
biarkan aku terlelap di akarnya.
Bukan menunggumu.
Tidak menunggu siapa-siapa.
Hanya menjalani titah yang tertulis di langit.
Palembang
Enam Ribu Lima Ratus Matahari
Istriku.
Enam ribu lima ratus matahari
telah bersama kita lalui dengan cinta kita yang sederhana
memberi banyak tanpa pernah berharap kembali.
Sebelum denganmu.
Aku adalah penggali cinta memburu sejatinya.
Pejalan yang hamburkan benih di ladang-ladang kerontang.
Hingga terpuruk di gerbang hari berbalut hampa dan sesal
tersia menebar jelaga di sukma.
Denganmu
denting waktu selalu dendangkan bening cinta.
di teduh pondok mungil bersama bocah-bocah bernyanyi surga.
Denganmu segala hasrat tandas terpuaskan.
Denganmu malam selalu purnama
Istriku.
Beribu kali matahari masih akan kita hadapi
dengan berbagai mungkin dan badai.
Palembang
Sesungguhnya
Jejak mawar membeku di diari lusuh
senja nanti bersanding derap sepatu pemburu badai
atau terkapar di kegelapan sempurna
Sepertinya panggulmu telah melebar
setelah partus beratus kutukan.
Datanglah ke penjahit tua itu untuk memotong sesalmu
dan menutup keriput pilu di sudut matamu.
Biarkan ombak membawa potret kita ke kedalaman samudera.
Sendiri melepas perih
ribuan gelembung wangi mengajakku bernyanyi
hingga lupa ukuran bajumu.
Tapi aku tidak mampir ke penjahit tua itu
melepas zirah mendengar celotehnya tentang gundah gulanamu.
Robeklah segala yang robek.
Sirnalah yang mau sirna.
Orkestra taman kota ini merdekakan diriku dari bayangmu.
Palembang
Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan Bing Image Creator.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.













