Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

Apresiasi

Puisi-puisi Hidayatul Ulum

badge-check


					Puisi-puisi Hidayatul Ulum Perbesar

Hidayatul Ulum. Alumnus Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia. Single Pantofel (Perahu Litera, 2017) adalah buku antologi cerpen pertamanya.

Rahasia

Sebelum ke ranjang ketika gelap telah nyenyat,
aku merasa perlu menghaturkan segala hajat
kepada Tuhanku; dan tidur nyenyakmu adalah juga doa
yang selalu kupinta dengan penuh harap pada-Nya.

Sebelum terpejam ketika kantuk tak bisa lagi kutawar-tawar,
kubiarkan kerinduan padamu menikam-nikam hatiku barang sebentar.
Aku sering merasa perlu begitu, menggeletarkan hati
dengan alasan yang aku sendiri tak bisa mengerti.

Sebelum pagi tiba ketika senyum surya mengetuk jendela,
sengaja kupangkas jam tidur yang tak seberapa
demi mencicil kedekatan dengan Tuhanku
ketika Dia turun ke langit dunia
pada waktu mustajab terkabulnya doa-doa.

: Itulah saat-saat
aku senang melangitkan namamu
agar bersanding panjang umur usia,
sehat senantiasa,
dan mudah dalam segala urusan kerja.
Apa nama kita bersanding adalah juga pinta?
Itu, rahasia.

K, 2023-2024

Bagaimana Tuhan Hadir dalam Doaku

Kini
Aku segan berpengharapan muluk
Karena kepada diri
Aku gamang beri maaf dan peluk

Ada
Yang kusangka tak bisa terampuni
Dari
Jiwaku yang berlumur syahwat duniawi

Tapi setiap kali aku duduk
Dalam tengadah atau tunduk
Dia yang kuketuk
Tak pernah hadir dengan muak atau amuk
Lalu aku tahu
Bagaimana Tuhan hadir dalam doaku

Dia hadir
Lewat air mata yang bergulir
Sepanjang komat-kamit bibir
Sabar mendengar
Tabah memberi wadah
Bagi ulangan kisah tentang dosa yang kerap tak kucegah
Atau hajat-hajat yang kian bertambah

Dia sampai
Lewat malam yang merayap gontai
Lewat hati yang merasa damai
Hingga akhirnya benar-benar usai
Kulangitkan semua pinta dari hatiku yang lalai
: Semua pinta
yang sepertinya
tak akan selesai-selesai.

K, April 2023

Modar

Galat yang bersemayam di hatiku sejak lama, kupikir serupa lubang hitam yang dapat kau temukan di semesta. Mampu telan cahaya yang tak tahu jalan keluar, hingga akhirnya terjebak, lalu lenyap menghilang.

Sebab itu, aku takut mencintaimu.

Kau adalah cahaya yang kuinginkan terangi kegelapan jiwa ini, tetapi mana bisa aku tega melenyapkanmu, meski itu ke dalam hatiku sendiri? Kau adalah cahaya yang kudamba ada bagi galat hatiku, tetapi aku tak mau, kau akan jadi padam dan tak berpendar lagi.

Jika tidak lagi mencintaimu adalah cara untuk menjagamu tetap bersinar, aku ingin melakukannya benar-benar. Sebab bagiku, lebih baik aku pergi menghindar daripada karena galatku, kau akan jadi terhantar, terkapar. Modar.

K, 18 April 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Puisi-Puisi Fileski Walidha Tanjung

25 November 2025 - 11:50 WIB

Dr. Sulaiman Juned Hadiri Rapat Kerja MAA di Banda Aceh

19 November 2025 - 21:40 WIB

Puisi-Puisi Dewis Pramanas

5 November 2025 - 10:00 WIB

Puisi Rahmita Rahayu

22 Oktober 2025 - 21:20 WIB

Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

17 Oktober 2025 - 20:37 WIB

Trending di Apresiasi