Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

Apresiasi

Puisi-Puisi Fida Amarza

badge-check


					Puisi-Puisi Fida Amarza Perbesar

Fida Amarza. Lahir di Jakarta, 8 April 2002. Seorang penyendiri yang jatuh cinta dengan karya-karya Jane Austen, The Brontë, Franz Kafka, dan William Shakespeare.
Dari ruang paling senyap, ia memintal kata hingga menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Seribu Aksara untuk Lentera Intuisi Malam”. Kata-katanya adalah cara ia menyentuh dunia tanpa menyentuh apa pun. Ia menulis bukan untuk didengar, tapi untuk dikenang, sebab baginya luka, cinta, dan kehilangan punya bahasa sendiri dan puisi adalah satu-satunya tempat untuk menampung semuanya.

Belati Namamu

dada ini menganga—
bukan karena waktu,
tapi belati yang kau hunus
tepat di celah nyawa dan namamu.

aku hidup,
tapi tak utuh.
kau cabik siangku
dengan diam yang tak bisa kuretakkan,
kau sayat malamku
dengan ingatan yang tak bisa kukuburkan.

aku tak mati,
tapi barangkali sudah separuh kubur.
kau telantarkan aku di antara napas dan amarah—
di mana sajak berubah jadi sembilu basah.

Namamu Terjebak di Langit

ada yang tidak kembali,
tapi tak juga hilang.

namamu,
terselip di langit paling muram—
tak jatuh ke bumi,
pun tak jua lenyap bersama angin.

ia terjebak,
berbicara dalam bahasa paling lirih:
“aku masih di sini,
tak benar-benar pergi.”

sedangkan aku,
diam-diam tenggelam di cakrawala
menatap sore tanpa suara.

Persimpangan Jalan

di persimpangan jalan itu
kutaruh rindu dari langkahmu
yang pergi tanpa suara,
dengan dada tak utuh
dan namamu yang kuyup di pelipis waktu

di sana aku terlampau diam
sementara getir terus meraung
dalam nyaring yang tak didengar.

aku pernah menjerit pada batu,
menyumpahi waktu
yang tega mengoyak temu
hingga suaraku hilang ditelan malam—
beku menatap sepi yang bertalu.

dan rindu masih mengendap,
di simpang jalan yang enggan kau lintasi
hingga di sudut malam ia menyalang
bagai bayang yang dilahap buasnya kenangan
di atas aspal yang tak sudi memberi jawaban.

[]

Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi AI.

Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Puisi-Puisi Fileski Walidha Tanjung

25 November 2025 - 11:50 WIB

Dr. Sulaiman Juned Hadiri Rapat Kerja MAA di Banda Aceh

19 November 2025 - 21:40 WIB

Puisi-Puisi Dewis Pramanas

5 November 2025 - 10:00 WIB

Puisi Rahmita Rahayu

22 Oktober 2025 - 21:20 WIB

Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

17 Oktober 2025 - 20:37 WIB

Trending di Apresiasi