Oleh Putri Oktaviani
Setelah kelahiran adik perempuanku enam tahun lalu, keluarga kami akhirnya merasakan yang namanya pindah rumah. Itu berarti sudah dua belas tahun aku tinggal di rumah ini. Padahal rumah ini begitu nyaman untuk ditinggali. Orang tuaku juga pernah bilang ini adalah rumah pertama dan terakhir kami setiap kali ulang tahun pernikahan.

Namun, nyatanya keluarga kami akhirnya pindah rumah juga. Aku benci pindah rumah. Mengemas barang-barang ke kardus, mondar-mandir ke sana sini, dan harus memilah-milih barang yang dibuang dan disimpan. Pekerjaan itu membuang banyak waktu dan energi.
Tetapi ketimbang lelahnya pindah rumah, aku lebih penasaran alasan kenapa kami pindah.
Pekerjaan ayahku masih sama dan Ibu hanya mengurus rumah tangga. Bahkan sekolahku juga tidak pindah, hanya adikku yang tidak masuk SD serupa denganku sebelumnya.
Kecurigaanku di hari-hari sebelum pindah rumah tak terkuak. Orang tuaku tampak harmonis dan biasa-biasa saja. Mereka bahkan tidak banyak membicarakan tentang pindah rumah, tapi setiap harinya selalu ada mobil besar yang mengangkut barang-barang kami secara bertahap.
“Kenapa kita pindah rumah, Bu? Memangnya ada apa dengan rumah ini?” tanyaku ketika Ayah mengungkapkan bahwa kami sekeluarga akan pindah rumah sewaktu makan malam.
Saat itu pertanyaanku digantung oleh mereka. Keduanya hanya saling tatap yang tak kumengerti artinya. Sampai akhirnya Ibu berkata, “Rumah ini sudah tidak bagus, makanya kita jual.”
“Kalau tidak bagus, kenapa ada yang mau beli?” tanya adikku.
Aku mengangguk, membenarkan pertanyaan adikku. “Iya, padahal menurutku rumah ini bagus-bagus saja, nyaman juga, dan aku senang bermain dengan teman-temanku di sini. Bolehkah kita tidak usah pindah rumah?” Mataku sedikit berair menatap Ayah.
Ayah selalu menjadi alasanku untuk harapan terakhir. Dia yang selalu memberiku izin ketika Ibu tidak memberi izin, dia juga sering membelaku ketika Ibu sudah naik pitam karena ulahku. Aku memohon padanya dengan sungguh-sungguh. Tapi malam itu, dia tampak kusut, tak seperti jagoanku biasanya. Bahkan dia menarik kursi dan beranjak pergi dari ruang makan.
“Sudahlah, habiskan makan malam kalian!” titah Ibu.
Seminggu sebelum pindah rumah, Aldo menghampiriku yang tengah memasukkan mainan ke dalam kardus. Ada sebagian mainan yang sudah tak kuminati. Ibu bilang, nanti dia akan memberikan mainan-mainan itu ke panti asuhan.
“Mau kamu apakan mainan-mainan itu?” tanya Aldo yang usianya di bawahku tiga tahun. Bocah itu memang tidak kenal sopan santun, tidak memanggilku dengan sebutan kakak atau abang.
“Aku mau pindah rumah. Jadi mainan-mainan ini tidak kubawa,” balasku tanpa meliriknya.
“Wah, kamu mau pindah rumah? Baru saja aku pindah di depan rumahmu tiga bulan lalu. Kenapa mesti pindah rumah? Memangnya ayahmu pindah tempat kerja?”
“Tidak tahu!” jawabku seadanya.
“Sayang sekali, kalau kamu pindah rumah, tidak akan ada yang membelikanku mainan pistol-pistolan lagi.”
“Sejak kapan aku membelikanmu pistol-pistolan?”
Bukannya menjawab, bocah itu berlari masuk ke pagar rumahnya. Aku tidak memusingkan pertanyaanku yang tidak terjawab dan melanjutkan kesibukanku.
Sehari sebelum benar-benar pindah rumah, aku mendengar keributan kecil di dapur. Tidak biasanya pemandangan pagiku seperti ini. Ketika kedua orang itu tahu kehadiranku, mereka langsung membisu. Lantas Ibu menghampiriku, “Cepat bangunkan adikmu, lalu mandi, Ibu akan antar kamu ke sekolah.”
“Kenapa tidak Ay–”
“Cepat, Leo!” Ibu meninggikan suaranya.
Aku sempat melihat wajah Ayah yang tampak merah. Begitu menyeramkan untuk dilihat. Apakah keduanya sedang bertengkar? Kemungkinan besar iya. Tapi apa penyebabnya? Bukankah pindah rumah ini keinginan mereka? Banyak pertanyaan di kepalaku pagi itu hingga pulang sekolah. Setibanya di rumah, Aldo menghampiriku lagi. Dia membawa pistol-pistolannya.
“Ini, dari ayahmu. Kalau kau pindah rumah, berarti tidak ada yang membelikanku pistol-pistolan lagi. Bagaimana, bagus, ‘kan?”
Ayah sudah tidak pernah membelikanku pistol-pistolan. Selain karena aku beranjak besar, aku juga kurang suka pistol-pistolan. Aku penggemar Hot Wheels dan Ayah membelikanku beberapa koleksinya. Tapi, melihat Aldo yang dibelikan pistol itu, kenapa aku merasa cemburu?
“Apa kamu sedang ulang tahun saat ayahku memberikanmu mainan itu?”
“Tidak, aku sudah ulang tahun tujuh bulan yang lalu.”
“Lalu, kenapa ayahku membelikanmu? Kamu, ‘kan, bocah nakal!”
Aldo menjulurkan lidahnya dan memainkan pistol-pistolan itu tanpa menjawab pertanyaanku. Kemudian Ibu pulang ke rumah bersama adikku. Katanya dari rumah temannya. Ibu memandang Aldo dengan wajah kesal, mungkin dia sama denganku, kesal karena kenakalan bocah itu.
“Bu, lihat pistol-pistolan itu! Aldo bilang, dia dibelikan sama Ayah.”
“Benar, Aldo?”
Bocah itu mengangguk dan mengarahkan pistol-pistolan itu ke arah adikku. Sehingga aku mendorong tubuhnya. Dia pun terjatuh dan mulai menangis kencang.
Tak lama, ibunya keluar dari pagar rumahnya dan membantu Aldo meredakan tangisannya. Aku dipeluk oleh Ibu yang sudah mengeluarkan air mata.
“Kenapa, Aldo?” tanya ibunya.
“Aku dipukul sama Kak Leo, Bu!” teriak Aldo.
Dasar bocah itu! Dia hanya memanggilku kakak ketika ada orang dewasa di sekitar kami.
Tanpa memarahiku, mereka pergi masuk ke rumah. Ibunya tampak biasa saja ketika anaknya baru saja didorong olehku. Mungkin ibunya tahu kalau anaknya memang nakal.
Malamnya, Ayah baru pulang kerja dengan raut marah. Dia membanting tasnya di meja makan hingga salah satu piring pecah. Kami semua terkejut melihat wajahnya yang merah.
“Leo, kenapa kamu membuat Aldo menangis?!”
Ternyata aku masalahnya. Biasanya Ayah yang selalu membelaku jika buat ulah, tapi malam itu sebaliknya. Ibu yang memasang badan untukku.
“Anak itu ingin menembak Lea dengan pistol-pistolan yang kamu belikan untuknya!” balas Ibu tak kalah teriak.
Baru pertama kali aku melihat keduanya bertengkar di depan mata.
Ayah tak menggubris lagi. Dia hanya masuk ke kamar, lalu pergi ke toilet. Lantas, Ibu mulai menangis di pelukanku. Akhirnya, kami bertiga menangis.
Pada malam terakhir di rumah itu, aku tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 12. Hampir semua barang sudah dipindahkan ke rumah baru. Hanya ada tiga sampai empat kardus tersisa yang akan kami bawa menggunakan mobil ke rumah baru.
Suara jam dinding begitu terdengar karena terlalu sunyinya malam itu. Tiba-tiba saja panggilan alam memaksaku untuk keluar kamar. Rasanya hampa sekali rumahku malam itu, karena barang-barang sudah tidak ada. Namun, suara tangisan menghinggapi pendengaranku. Bukannya ketakutan, aku penasaran. Setelah ditelusuri, ternyata itu dari arah kamar orang tuaku. Itu suara tangisan ibuku, dan aku mulai menempelkan telingaku di pintu karena itu cara yang kutahu untuk mendengar obrolan mereka.
“Aku membelikannya karena Aldo sedang ulang tahun, Sayang.” Itu suara Ayah yang sedang berbohong.
“Tapi soal wanita itu yang mengadu padamu, itu berarti kamu berhubungan dengannya.”
“Sayang, besok kita sudah pindah rumah. Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Renata.”
“Tapi wanita itu mengatakan sebaliknya kepadaku. Dia bilang kamu masih sering bertemu denganya.”
“Harus dengan cara apa lagi aku memberitahumu kalau itu hanya tipu muslihat dia. Dia ingin kita bertengkar seperti ini. Itulah kenapa aku ingin kita pindah rumah.”
Suara kasur berderit menghilangkan obrolan mereka. Aku tidak mendengar suara apa-apa lagi berikutnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Maka aku memutuskan untuk pergi ke toilet dan kembali ke kamar.
Besoknya, di hari terakhir aku melihat rumah itu, Aldo menghampiriku.
“Maaf, aku berbohong kepadamu,” bisiknya di telingaku.
“Soal apa?”
“Pistol ini, ayahmu membelikanku karena aku sedang ulang tahun.”
Aku lega dan memeluk Aldo. Meski aku tidak sepenuhnya mengerti masalah orang tuaku, tapi aku tahu ayahku tidak berbohong.
Bahkan, ketika kami masuk mobil menuju rumah baru, raut wajah Ibu tampak bahagia, begitu juga dengan Ayah. Bahkan mereka saling berpegangan tangan di hadapan kami. Mereka tampak harmonis dan semringah di perjalanan. Mereka pun mulai menyanyikan lagu kesukaan mereka yang tak kuhafal liriknya.
Rumah baru kami tampak lebih luas dan nyaman dari rumah lama. Ada kolam ikan di teras rumah. Dua minggu setelahnya, Ibu memberi kabar pada kami ketika sarapan, bahwa adikku akan punya adik lagi. Rumah yang lebih luas untuk anggota keluarga baru. Sekarang aku tahu alasan kami pindah rumah.[]
Putri Oktaviani. Lahir di Tangerang tahun 2000. Penggemar fiksi thriller dan misteri ini senang mendengarkan radio dan cerita horor. Cerpen terbarunya, “Tetangga yang Budiman”, dimuat di majalah Harmoni yang dikelola oleh Kantor Bahasa Maluku Utara.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.













