Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

Serba Serbi

Peragaan Busana “Bergaya dalam Basah” akan Tampil Pembukaan FPM #2 di PDIKM Padang Panjang

badge-check


					Peragaan Busana “Bergaya dalam Basah” akan Tampil Pembukaan FPM #2 di PDIKM Padang Panjang Perbesar

PADANG PANJANG, Majalahelipsis.id–Pada pembukaan Festival Pamenan Minangkabau (FPM) #2, yang direncanakan berlangsung Sabtu (26/7/2025), di kawasan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), Padang Panjang, akan ditampilkan peragaan busana bertajuk “Bergaya dalam Basah” oleh Qytara Handycraft.

Karya ini merupakan rancangan Desra Imelda, seorang desainer busana sekaligus dosen Program Studi Desain Mode ISI Padang Panjang.

Menurut Direktur Festival FPM #2, Afrizal Harun, peragaan busana ini menghadirkan konsep jas hujan artistik yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetik. Ia akan dihadirkan dalam pembukaan FPM #2 nanti.

“Kota Padang Panjang dikenal dengan julukan Kota Hujan. Jas hujan tentu menjadi kebutuhan harian. Maka karya ini menjadi bentuk inovasi fesyen yang menjawab kebutuhan masyarakat: tetap tampil modis meskipun dalam kondisi hujan,” ujar Afrizal Harun, Senin (14/7/2025).

Persiapan peragaan fesyen bertema “Bergaya dalam Basah” karya Desra Imelda oleh Qytara Handycraft Padang Panjang yang akan tampil dalam pembukaan FPM #2 di PDIKM. (Foto: Dok. Istimewa)

Ia menyebutkan, salah satu elemen menarik dalam Festival Pamenan Minangkabau #2 kali ini—selain seni pertunjukan dan literasi—adalah peragaan busana (fashion show) yang menampilkan baju basiba dan jas hujan.

“Jas hujan menjadi representasi keseharian masyarakat Padang Panjang—kota hujan yang subur dan memiliki ketersediaan air sepanjang tahun. Dalam konteks tersebut, pertunjukan fesyen ini bukan hanya tentang pakaian, tetapi tentang identitas, lanskap, dan gaya hidup masyarakat yang menyatu dengan alam dan nilai budaya,” urai sosok aktor teater yang akrab dipanggil Babab ini.

Sementara itu, Desra Imelda, salah seorang adibusana, mengatakan, tema “Bergaya dalam Basah” terinspirasi dari kebutuhan akan jas hujan di daerah berhawa sejuk dengan curah hujan tinggi seperti Kota Padang Panjang.

Desra Imelda—yang juga dosen Desain Mode ISI Padang Panjang—menggabungkan elemen gaya feminine romantic, classic elegant, exotic dramatic, hingga casual dalam setiap potongan busana yang diperagakan sehingga tampil menarik namun tetap praktis.

“Kami ingin menjawab kebutuhan masyarakat akan jas hujan yang tidak hanya fungsional, tapi juga modis dan penuh gaya. Di kota dengan curah hujan tinggi seperti Padang Panjang, penting sekali merancang sesuatu yang bisa membuat orang tetap nyaman dan percaya diri meski dalam kondisi basah,” jelas Desra Imelda di sela-sela persiapan d studionya.

Sebelas model tampil memukau membawakan koleksi ini di tengah suasana terbuka pelataran PDIKM, menciptakan kontras menarik antara busana tahan air dan lanskap alam Minangkabau yang sejuk.

Penampilan mereka dirias apik oleh Yusuf Pahreza, didukung oleh tim eksekutor produksi: Suci Arma Nasution, Hakim Arif Billah, Silwi Azizah, dan Siti Rafifah.

Qytara Handycraft sendiri merupakan jenama lokal yang berdiri sejak 10 Januari 2020 di Padang Panjang Barat, bergerak dalam produksi kain ecoprint serta aksesori fesyen berbasis kerajinan tangan. Kiprah mereka telah tercatat di berbagai panggung peragaan dan pameran fesyen.

Penampilan “Bergaya dalam Basah” menjadi salah satu sorotan pembukaan FPM #2 yang tahun ini tidak hanya menampilkan permainan tradisional, tetapi juga menekankan pada pelestarian nilai budaya melalui pendekatan kreatif lintas bidang, termasuk fesyen, seni rupa, dan pertunjukan.

“Penampilan Qytara Handycraft ini menjadi salah satu suguhan pembuka yang mencerminkan semangat FPM #2 tahun ini yang bertema “Padusi di Rumah Gadang”—yakni menghadirkan ragam ekspresi budaya Minangkabau dalam bentuk yang kreatif, lintas disiplin, dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari Masyarakat,” tutup Babab.

Festival Pamenan Minangkabau #2 digelar Sabtu-Minggu, 26-27 Juli 2025. Dalam rangkaian yang sama, sebelumnya, di lokasi yang sama, 24-25 Juli juga digelar Festival Literasi yang digagas Pemerintah Kota Padang Panjang.

Festival Pamenan Minangkabau #2 dilaksanakan atas dukungan Danaindonesiana-LPDP Kementerian Kebudayaan RI yang penyelenggaraannya oleh Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang. (*/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Angkat Silek Minangkabau ke Panggung Nasional, Jenilva Raih Juara 2 di Bacodaco 2025

2 Desember 2025 - 12:14 WIB

Remaja dan Wanita Muslimah Indonesia Wajib Berkontribusi Untuk Negara

20 November 2025 - 14:50 WIB

Dr. Sulaiman Juned Hadiri Rapat Kerja MAA di Banda Aceh

19 November 2025 - 21:40 WIB

“Susur Sisir Tengger”, Karya Keenam PPI Diluncurkan dalam Festival Penyair Perempuan Indonesia

19 November 2025 - 21:22 WIB

Soluzioni pratiche per risolvere problemi comuni nelle slot famose

14 November 2025 - 03:23 WIB

Trending di Serba Serbi