Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

KOLOM

Penulis dan Dunianya yang Tidak Mudah

badge-check


					Penulis dan Dunianya yang Tidak Mudah Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

“Ilmu itu diikat dengan kata-kata.” Demikian pepatah klasik yang sering kita dengar. Kata-kata yang terangkai menjadi kalimat, kalimat yang menjelma paragraf, lalu menyusun sebuah tulisan: buku.

Buku, pada gilirannya, menjadi jembatan antara penulis dengan pembaca, sekaligus medium pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Maka, menulis bukan sekadar profesi. Ia adalah tugas mulia, meskipun di Indonesia profesi ini kerap dipandang sebelah mata.

Menjadi penulis berarti siap hidup dalam kesepian, kesendirian, dan kadang harus berbeda jalan dari segala yang umum di pikiran banyak orang.

Di balik setiap buku atau setumpuk kata-kata yang kita baca, ada jam-jam panjang yang dihabiskan seorang penulis dalam keheningannya: di depan kertas kosong atau layar laptop, sambil berhadapan dengan keraguan, kebuntuan ide, bahkan rasa frustasi.

Tidak semua orang bisa menjadi penulis, sebab menulis bukan hanya soal teknis mengetik huruf demi huruf, melainkan juga perkara ketekunan, kegigihan, konsistensi, serta kekuatan mental.

Ironisnya, kontribusi penulis dalam merawat pengetahuan jarang dihargai sebagaimana mestinya.

Masih ada anggapan keliru bahwa penulis sama saja dengan pengangguran: tidak punya pekerjaan jelas. Mereka dinilai hanya duduk, bermenung, lalu mengetik. Padahal, di balik selembar kertas yang tampak biasa, penulis menguras energi intelektual yang luar biasa. Logika harus tertata, imajinasi terjaga, dan bahasa dipoles agar mengalir.

Semua yang dilakukannya tidak mudah. Ada proses. Ada kerja keras. Ada pikiran, waktu, tenaga, bahkan biaya yang ia keluarkan untuk semua pekerjaan yang dilakukannya secara bertungkus lumus sebagai penulis.

Seorang penulis tidak pernah benar-benar “diam.” Mereka terus berpikir, mengamati, mengolah peristiwa atau pengalaman, lalu menuangkannya menjadi narasi yang bisa dipahami orang lain.

Sungguh tidak mudah menghasilkan tulisan yang menarik, koheren, bernas, serta menyimpan bobot yang melekat dan berumah di pikiran dan hati banyak orang dalam waktu panjang.

Apalagi ketika harus berhadapan dengan kenyataan: rendahnya minat baca membuat karya yang lahir sering tak menemukan cukup pembaca. Kondisi itu secara langsung berimbas bagi penulis jika jalan pendapatan secara finansial yang ia tunggu satu-satunya dari royalti buku.

Hidup seorang penulis memang dekat dengan kesunyian. Tak jarang mereka terjebak jalan buntu: ide macet di tengah jalan, naskah terbengkalai bertahun-tahun, semangat menulis tiba-tiba meredup karena impitan hidup.

Namun, justru dari kesunyian itulah lahir kekuatan reflektif yang jarang dimiliki banyak orang.

Ada penulis pemula yang terinspirasi dari karya orang lain, lalu berusaha menghidupkan kembali semangat yang sempat padam. Mereka menulis di platform digital, sesuai zamannya, menuntaskan satu judul meski dua atau tiga lainnya masih tersendat.

Dari situ kita belajar bahwa menulis bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan perjalanan panjang penuh jatuh bangun. Di perjalanan, tak selalu mulus, kadang juga melintasi pendakian yang terjal, onak dan duri terhampar dan selalu melukai.

Setiap kata yang berhasil dituliskan adalah tanda syukur, kemenangan kecil di tengah banyak kegagalan.

Saya merasa berutang budi kepada para penulis terdahulu yang bukunya saya baca di bangku sekolah. Tanpa mereka, mungkin huruf-huruf hanyalah simbol tak bermakna, mirip coretan kosong di dinding-dinding usang. Penulislah yang memberi nyawa pada abjad, mengajari kita membaca dunia, memahami sejarah, serta membayangkan masa depan.

Karena itu, para penulis pantas mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Mereka lentera yang menerangi jalan pembaca, membentuk pikiran zamannya, meskipun terkadang cahaya itu tampak redup di tengah hiruk pikuk media sosial yang lebih mengutakan video pendek atau gambar.

Namun, lentera itu tak boleh padam, dan generasi muda harus diajak untuk ikut menyalakan apinya.

Di tengah lesunya minat baca, meski gaung gerakan literasi terus digemakan, kita membutuhkan gerakan yang lebih dari sekadar seremonial. Literasi tidak cukup diukur dari jumlah buku yang dibaca, tetapi juga dari kemampuan menulis, mengartikulasikan gagasan, serta menghadirkan solusi melalui kata-kata.

Menulis adalah puncak dari berpikir kritis. Menulis satu dari empat pondasi kecakapan berbahasa. Tanpa penulis, bangsa ini kehilangan salah satu pilar peradaban yang pernah digadang-gadangkannya.

Pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan perlu bersinergi membangun ekosistem kepenulisan. Infrastruktur literasi harus diperluas, penghargaan kepada penulis diperkuat, dan stigma terhadap dunia tulis-menulis harus dihapus. Penulis tidak boleh terus berjuang sendirian.

Menjadi penulis tidak pernah mudah. Dibutuhkan keberanian untuk melawan rasa malas, keteguhan untuk terus menulis meski ada hari-hari baik dan buruk—di saat buku terjual atau tidak, misalnya—, serta keikhlasan untuk berkarya tanpa jaminan materi. Di situlah letak kemuliaannya.

Seorang penulis bekerja bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk orang banyak: yang membaca, belajar, lalu mungkin mengubah hidupnya karena sebuah tulisan.

Maka, jangan pernah meremehkan atau merendahkan pekerjaan menulis. Ia bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, melainkan usaha menyalakan cahaya di tengah gelap.

Selama masih ada orang yang menulis, kita bisa yakin peradaban tetap berjalan. Sebab, kata-kata adalah jejak yang tak akan pernah hilang. Ia melampaui usia manusia, mengikat ingatan kolektif, dan menolak dilenyapkan oleh waktu.

Tulisan adalah benteng terakhir melawan lupa. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana

5 Desember 2025 - 10:26 WIB

Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan

4 Desember 2025 - 08:15 WIB

Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

3 Desember 2025 - 07:41 WIB

Padang Panjang: Simpul Sumatera, Kota Pergerakan, dan Episentrum Bencana

2 Desember 2025 - 08:23 WIB

Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun

1 Desember 2025 - 12:51 WIB

Trending di KOLOM