MAKASSAR, Majalahelipsis.id—Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), hadir dan menyampaikan gagasan tentang Penguatan Ekosistem Literasi Pra Menikah, Menikah, dan Pasca Menikah, dalam agenda bersama Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Jumat (18/7), di Lantai 6 Balaikota Makassar.
Dalam forum yang dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Dr. Aryati Puspasari Abady, M.Si., para kepala bidang, sekretaris dinas, dan staf jajaran Dinas Perpustakaan Kota Makassar, BAK memaparkan pentingnya penguatan literasi keluarga melalui peran aktif Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa Munafri.

BAK yang didampingi Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si., Herman Lilo, S.Sos., M.Si., dan Ani Kaimuddin dari Gerakan Sayang Buku “Ibu Suka Membaca Sulawesi Selatan”, menyampaikan keyakinannya bahwa pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin dan Aliah Mustika Ilham, akan memberi perhatian penuh pada kemajuan literasi sebagai pilar utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di Makassar.

“Tak ada kemajuan suatu kota atau daerah tanpa kemajuan literasinya. Saya percaya Wali Kota Munafri akan memberikan perhatian pada pertumbuhan dan geliat literasi dalam berbagai dimensi. Apalagi, Bunda Literasi Makassar, Hj. Melinda Aksa Munafri, adalah sosok yang sangat peduli pada pendidikan dan literasi,” ujar BAK.
Menurut tokoh penggagas Perpustakaan Lorong Makassar ini, keterlibatan Bunda Literasi dalam ekosistem literasi selaras dengan Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 4 Tahun 2021 tentang Akademi Literasi, yang menempatkan bunda literasi sebagai pegiat literasi dengan peran strategis dalam pembudayaan gemar membaca.
Untuk mendukung peran tersebut, BAK mengusulkan action plan atau aksi nyata bertajuk “Literasi Dimulai dari Rumah Kita”. Ia mempresentasikan program bertajuk “Dari Diksi ke Aksi”, termasuk perlunya pendampingan Bunda Literasi oleh para pegiat literasi yang memiliki komitmen, semangat voluntarisme, dan kepedulian terhadap gerakan literasi.
BAK menekankan pentingnya penguatan literasi berbasis keluarga, dimulai dari calon pasangan usia pra-nikah, pasangan menikah, hingga pasca-menikah. Literasi, menurutnya, bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga menyangkut kesiapan intelektual, emosional, dan spiritual dalam membina keluarga dan melahirkan generasi melek literasi.
“Pasangan usia pra-nikah hingga pasca-menikah perlu diberi ‘injeksi literasi’ berupa pemahaman pentingnya asupan literasi sejak awal. Harapannya, mereka kelak akan melahirkan anak-anak yang juga cinta literasi, karena berasal dari keluarga yang literat,” ungkap BAK, yang juga penerima Pin Emas tiga kali berturut-turut dari Pemerintah Kota Makassar.
Program Aksi Bunda Literasi Kota Makassar yang digagas Hj. Melinda Aksa Munafri sendiri, lanjut BAK, merupakan bentuk percepatan Gerakan Literasi Berbasis Keluarga yang menyasar pasangan usia subur, pra-nikah, menikah, pasca-nikah, ibu rumah tangga, hingga generasi milenial.
“Harapan kita, Makassar bisa menjadi kota percontohan nasional dalam gerakan literasi berbasis keluarga, dimulai dari lingkaran paling kecil dan utama, yaitu rumah tangga,” pungkasnya.
Mengakhiri paparannya, BAK menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan Kota Makassar atas dukungan dan ruang diskusi yang terbuka bagi para pegiat literasi.
“Terima kasih kepada Ibu Dr. Aryati Puspasari Abady yang memimpin langsung diskusi santai namun bermakna bersama kami. Kami merasa sangat dihargai dan didukung dalam menyebarkan semangat literasi,” tutup Bachtiar Adnan Kusuma.









