Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

BERITA

Pascabencana, Dewan Kesenian Aceh Minta Negara Dahulukan Seniman Terdampak

badge-check


					Ketua Dewan Kesenian Aceh, Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn. bersama beberapa anggota DKA memantau perkembangan terkini pascabencana di Aceh. (Foto: Dok. DKA) Perbesar

Ketua Dewan Kesenian Aceh, Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn. bersama beberapa anggota DKA memantau perkembangan terkini pascabencana di Aceh. (Foto: Dok. DKA)

BANDA ACEH, Majalahelipsis.id – Ketua Dewan Kesenian Aceh, Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn., menegaskan bahwa penyelamatan pelaku budaya harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera.

Menurutnya, cagar budaya memang merupakan bagian penting dari objek pemajuan kebudayaan yang perlu diselamatkan. Namun, dalam konteks kebencanaan, fokus utama tidak seharusnya diarahkan terlebih dahulu pada benda atau situs bersejarah, melainkan pada manusia.

“Dalam setiap penanganan bencana di belahan dunia mana pun, kemanusiaan selalu menjadi fokus utama. Menyelamatkan mereka yang masih hidup dan selamat dari bencana adalah hal paling penting, jauh lebih utama dibandingkan benda apa pun, termasuk cagar budaya,” kata Afifuddin.

Ia menegaskan, seniman sebagai pelaku budaya adalah manusia yang seharusnya mendapatkan perhatian dan penanganan utama dari pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan. Situs-situs cagar budaya, menurutnya, masih dapat ditangani kemudian setelah keselamatan dan keberlangsungan hidup para pelaku budaya terjamin.

“Pada prinsipnya, kebudayaan adalah sistem hidup manusia dalam satu komunitas yang disepakati. Tanpa manusianya, kebudayaan kehilangan makna,” ujarnya.

Afifuddin mengaku sangat menyayangkan pemberitaan yang menyebutkan bahwa Kementerian Kebudayaan melalui Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) menjadikan penyelamatan cagar budaya sebagai fokus utama dan melakukan gerak cepat pascabencana. Kebijakan tersebut, menurutnya, mengiris hati para seniman tradisi dan penjaga warisan budaya Aceh yang saat ini masih berjuang untuk bertahan hidup.

Di dataran tinggi Gayo, khususnya di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, banyak seniman dilaporkan masih terisolasi akibat terputusnya akses darat. Mereka kini sangat membutuhkan bantuan sembako, dukungan moral, serta kehadiran nyata negara.

“Namun yang terjadi justru bertolak belakang. Fokus Kementerian Kebudayaan melalui BPK Aceh lebih diarahkan pada penyelamatan cagar budaya, bukan pada pelaku budaya yang hidup dan terdampak langsung,” katanya.

Berdasarkan data terbaru yang diterima Dewan Kesenian Aceh, terdapat lebih dari 250 seniman di wilayah tersebut yang masih berharap bantuan sembako untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah seorang Ceh Didong bernama Ceh Azzam Pegayon, yang harus berjalan kaki hingga ke Lhokseumawe demi membeli beras.

Selain itu, Ceh Hamdani bersama 24 anggotanya dilaporkan sempat terjebak longsor selama empat hari dan kini masih berjuang mendapatkan bantuan kebutuhan pokok.

Terputusnya akses darat membuat penyaluran bantuan menjadi sangat sulit. Saat ini, satu-satunya jalur yang memungkinkan adalah melalui akses udara via Bandara Rembele, Bener Meriah.

“Kami berharap Pak Menteri dapat segera mengubah fokus utama penanganan, dari penyelamatan cagar budaya ke penyelamatan pelaku budaya. Merekalah yang selama ini menjaga dan menghidupkan Warisan Budaya Takbenda,” tegas Afifuddin.

Ia juga menyampaikan bahwa para seniman Aceh saat ini justru banyak terlibat aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sejumlah posko bantuan didirikan oleh komunitas seniman, di antaranya di Taman Seni Budaya Aceh, Aceh Utara, Kuala Simpang, dan daerah lainnya.

“Para seniman kini mengesampingkan aktivitas keseniannya. Alat-alat seni mereka banyak yang rusak akibat bencana, tetapi mereka tetap memilih fokus membantu sesama,” ujarnya.

Afifuddin menilai, narasi bahwa Kementerian Kebudayaan lebih memprioritaskan penyelamatan benda cagar budaya telah melukai perasaan para seniman yang terdampak dan tengah bekerja untuk kemanusiaan.

“Seolah-olah pesan yang disampaikan adalah kementerian lebih peduli pada ‘Batee Jeurat’ (nisan) dibandingkan seniman yang masih hidup. Bahkan, seakan sedang menyiapkan kuburan untuk kami para seniman,” katanya dengan nada getir.

Ia berharap persepsi tersebut tidak benar. Afifuddin menyatakan keyakinannya bahwa Menteri Kebudayaan memiliki kepedulian tinggi terhadap kemanusiaan, sebagaimana rekam jejaknya saat masih menjadi aktivis.

“Semoga fokus kebijakan segera dikembalikan pada nilai kemanusiaan,” pungkasnya. (AAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Jenderal Purnawirawan Turun Menjadi Relawan

7 Januari 2026 - 13:42 WIB

GPMB Aktif Mendorong Peningkatan TGM dan IPLM Kabupaten Maros

7 Januari 2026 - 10:06 WIB

Kubu Gadang Gelar Desa Wisata Fair II Edukatif untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Galodo

3 Januari 2026 - 10:27 WIB

Bachtiar Adnan Kusuma: Setiap Masjid Wajib Menulis Sejarahnya

3 Januari 2026 - 08:28 WIB

Chaidir Syam Hadir di Tengah Keluarga DDI Awal Tahun 2026

1 Januari 2026 - 20:20 WIB

Trending di BERITA