Oleh Sulaiman Juned
PERUPA Indonesia sekaligus dosen Jurusan Seni Murni ISI Padangpanjang, Hamzah, S.Sn., M.Sn., merebut inspirasi dari realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya. Ia berangkat dari fenomena hidup yang dialami dan dirasakan, ketika nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan sering kali terabaikan oleh sistem yang melahirkan penindasan atas nama kekuasaan. Jabatan kerap menjadi alat untuk menindas, bukan sarana untuk memimpin dengan kebijaksanaan.

Kehidupan dewasa ini tengah mengalami perubahan yang signifikan. Dampaknya terasa hingga ke ranah paling kecil: keluarga. Banyak keluarga kini menghadapi degradasi ekonomi, yang berujung pada sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Hamzah memandang bahwa persoalan ekonomi—yang dalam istilah Minangkabau disebut “pariok bareh” (periuk beras)—tidak boleh dianggap sepele. Ia merupakan urat nadi kehidupan, simbol dari keberlangsungan individu, keluarga, dan masyarakat.
Lewat sapuan kuasnya, Hamzah mengangkat tema “Pariok Bareh” sebagai kritik terhadap ketimpangan dan kemerosotan ekonomi. Karya-karya terbarunya akan dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa dan Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang, di Galeri ISI Padangpanjang, pada 21–24 Oktober 2025.
Secara filosofis, konsep Pariok Bareh menjadi ruang kritik terhadap degradasi ekonomi dengan menegaskan nilai-nilai kesederhanaan dan keseimbangan. Pariok (periuk) dan bareh (beras) bukan sekadar simbol benda rumah tangga, melainkan lambang kemakmuran dan kecukupan hidup. Periuk adalah wadah, tempat mengolah beras menjadi sumber kehidupan.

Hamzah memilih warna kuning keemasan pada lukisan periuknya—simbol kemakmuran yang menggoda, namun juga mengandung kritik: kekuasaan yang memberi kesejahteraan kerap membuat manusia enggan melepaskannya, hingga terjebak dalam post power syndrome.
Lebih jauh, pariok dan bareh dapat dimaknai sebagai keseimbangan antara bentuk dan isi, antara kehidupan material dan spiritual. Ia juga menegaskan nilai kebersamaan: periuk beras sering menjadi pusat aktivitas sosial dan keluarga, tempat berbaurnya kehangatan dan kasih sayang, asalkan dijalankan dengan prinsip keseimbangan dan saling menghormati.
Dengan demikian, konsep filosofis Pariok Bareh dalam seni rupa bukan sekadar metafora visual, melainkan representasi nilai-nilai kehidupan yang sederhana, seimbang, dan sarat makna. Hamzah ingin menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium refleksi sosial, bukan hanya penciptaan estetika semata.
Hamzah telah lama menempuh jalan seni. Ia bersekolah di SMSR Padang (1986–1990), melanjutkan studi di ISI Yogyakarta (1990–1996), dan menamatkan S2 di ISI Yogyakarta (2008–2010). Ia aktif berorganisasi dalam berbagai komunitas seni, seperti SAKATO, SEKATA, Tambo Art Center Sumatera Barat, SCALA Yogyakarta, Perupa Bukittinggi, dan Komunitas Ruang Sumatera Barat. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Sumatera Barat bidang Seni Rupa (2007–2010), serta penerima PIN Emas bidang Budaya dan Adat dari Kota Padang Panjang.
Kini, ia juga dipercaya sebagai penghulu kaum Suku Melayu, Manganti, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, bergelar Paduko Rajo. Dalam setiap karyanya, Hamzah tidak hanya menggoreskan cat di atas kanvas, tetapi juga menyampaikan kritik moral yang menggugah kesadaran sosial.
Sapuan kuasnya adalah doa dan kritik—upaya mentransformasikan moralitas untuk membangun peradaban anak bangsa. []
Sulaiman Juned adalah sastrawan, kolumnis, esais, kurator seni, sutradara teater, dosen Seni Teater ISI Padangpanjang, Ketua Panitia Pendirian ISBI Aceh (2012–2015), pendiri/penasihat Komunitas Seni Kuflet, dan Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat.












