Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun

badge-check


					Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

MENDUNG masih menggantung di langit Padang Panjang, meski matahari mulai bersinar. Ada air mata tersisa paska galodo besar yang meluluhlantakkan pemukiman dan jembatan kembar di batas kota.

Siapa sangka, Kamis, 27 November 2025, siang, menjadi hari nahas yang menerbitkan kedukaan, merenggut nyawa warga dan pengguna jalan, juga merusak sejumlah bangunan.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun ….

Kota kecil ini, yang dikelilingi rimba dan dipagari bukit-bukit dan tiga gunung sebagai pasak bumi Ranah Minang; Tandikak, Marapi, dan Singgalang, sesungguhnya kota yang indah. Sastrawan A.A. Navis (1924—2003) yang tanggal kelahirannya dirayakan UNESCO pernah mengatakan, “Padang Panjang kota yang berbahagia.”

Berbahagia, kata Navis lagi, “Di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup.”

Di zaman kolonial Belanda, kapur pernah menjadi emas putih. Ditambang orang di pinggang Bukit Tui, lalu bergerbong-gerbong diangkut ke Emmahaven; Pelabuhan Teluk Bayur kini, sebelum diboyong ke negeri-negeri jauh di Eropa. Di Lembah Anai setelah Padang Panjang, rel kereta apinya bergerigi, yang dibuat Belanda untuk menembus medan pegunungan yang curam, terutama untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto, melewati Padang Panjang, termasuk membawa penumpang orang dan barang lainnya.

Jalur kereta itu masih ada, meski Mak Hitam; kereta api yang di zamannya menjadi primadona transportasi antarkota di Sumatra Barat sudah tidak melewati jalur ini lagi. Jalur rel bergerigi itu masih awet dan merupakan bagian dari situs Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2019.

Sawah-sawah di Padang Panjang masih ada, meski tak banyak lagi. Sungai-sungainya juga masih ada, yang berhulu di puncak Singgalang, dan sungai-sungai itu beberapa tahun terakhir menjadi sumber malapetaka, meluap deras, mendatangkan galodo, menghancurkan pemandian Lubuk Matakucing, memutuskan jembatan, juga merusak rumah-rumah warga, termasuk pemandian alam di Lembah Anai.

Namun sesungguhnya, sungai-sungai itu berada di jalurnya, bergerak sesuai kodrat alamiahnya, menurunkan air dari ketinggian yang mencari kerendahan, dan terkadang orang-orang lupa alam tidak selalu bersahabat didorong faktor cuaca dan lainnya.

Tapi tentu, setiap musibah ada hikmah. Setiap air gadang (besar) tepian akan berubah. Perubahan itu bermacam-macam bentuknya, seiring masa dan pergantian waktu.

Demikianlah, Tuan. Semoga musibah yang membawa sedih di masa mendatang tidak menyinggahi lagi.

Padang Panjang, ada yang menulis nama kota ini satu kata: “Padangpanjang”. Namun, kalau Tuan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI, tampak di sana dua kata: “Padang Panjang”. Sejak lama kota ini terkenal dengan sebutan Kota Serambi Makkah.

Kalau nanti jalan nasional sudah mulus lagi di kawasan Lembah Anai, dan Tuan datang dari arah Padang, hendak ke Bukittinggi barangkali, sempatkanlah singgah sejenak di Padang Panjang. Nikmati sudut-sudut kota ini. Saya yakin Tuan akan takjub dan pulang membawa setumpuk kenangan.

Setelah melewati batas kota, terus ke bukit berbunga, tak jauh dari sana, berbeloklah Tuan ke kanan. Tuan akan ditunjuk orang jalan ke tempat pemandian yang indah. Namanya Minangkabau Fantasi. Lanskap alamnya indah, memesona, dilingkungi rimba dan akan Tuan jumpai sekawanan kera jinak yang menyapa, minta diberikan makanan jika Tuan membawa.

Sebelum masuk ke pemandian, ada rumah gadang besar. Rumah itu ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Rumah gadang itu difungsikan sebagai Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, disingkat PDIKM. Di dalamnya tersimpan manuskrip dan arsip penting, tentang potret orang Minang masa lampau.

Kalau hati sudah senang, Tuan jangan langsung pulang. Berjalanlah lagi ke jalan raya. Lurus sedikit, Tuan akan sampai ke lepau kuliner legendaris, Sate Mak Syukur, juga ada Sate Saiyo.

Konon, presiden, pejabat, dan pembesar-pembesar negeri pernah singgah di lepau sate ini. Melepas lelah. Sambil menyeruput teh telur, ditemani angin sejuk dari Tandikek dan Singgalang. Kabut dan rinai membuat mata Tuan terbuai.

Selain Sate Mak Syukur dan Saiyo, masih banyak lepau lain. Di pusat kota ada pasar kuliner. Lengkap isinya. Segala makanan khas Padang Panjang tersedia di sana, dari yang tradisional hingga modern.

Dari lepau tadi, kalau sudah kenyang, teruslah Tuan berjalan lagi. Lurus sedikit. Belok ke kiri. Mampirlah ke pesantren putri termegah. Namanya Diniyyah Puteri.

Perempuan hebat banyak dilahirkan dari pesantren ini. Ada yang jadi tokoh, ada yang jadi pendamping tokoh. Didirikan oleh Doktor Honoris Causa Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah. Satu-satunya perempuan Padang Panjang bergelar Syekhah dari Universitas Al Azhar, Kairo. Baru-baru ini, Pemerintah RI memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepadanya.

Agak dekat dari situ ada pesantren lain. Perguruan Thawalib. Untuk santri putra. Dua pesantren ini berdampingan. Masing-masing punya ciri khas dan keunggulan yang lulusannya banyak menjadi tokoh penting.

Tak jauh dari situ, ada Surau Jembatan Besi, dikenal dengan nama Jembes. Sekarang sudah jadi masjid, namanya Masjid Zu’ama. Dulu, tempat berkumpulnya kaum muda. Guru besarnya Syekh Inyiak D.R.—ayah dari Buya Hamka, dan Syekh Abdullah Ahmad. Juga tempat Zainuddin Labai, kakaknya Rahmah El Yunusiyyah belajar. Zainuddin, ulama dan pengarang yang menguasai enam bahasa di zamannya.

Kalau siang datang menjelang, cuaca Padang Panjang terik juga, tetapi udaranya tetap sejuk. Angin dari gunung menyegarkan badan dan pikiran.

Kalau ingin bermandi-mandi lagi, beloklah ke kanan. Tuan akan sampai ke Lubuk Matakucing, sebuah lubuk berair jernih, berbatu. Airnya dingin, merasuk tulang. Sumber airnya dari Gunung Singgalang.

Dulu, Hamka muda sering duduk di sana, bermenung, mencari inspirasi menulis.

Kalau sudah segar, kembalilah Tuan ke pusat kota. Lurus ke tengah pasar. Kalau perut lapar, mampirlah ke Lepau Gumarang. Rumah makan legendaris.

Dulu, ada Meja Satu di lepau itu. Disebuat Meja Satu, kursinya diduduki tokoh-tokoh kota. Tempat ‘berota’. Tentang kota, tentang kepemimpinan, tentang masa depan Padang Panjang, dan tentang apa saja yang perlu “diotakan” sambil minum teh telur.

Selain Gumarang, banyak rumah makan lain di Padang Panjang. Tuan bebas memilih. Menunya lezat-lezat juga.

Kalau waktu salat tiba, mampirlah ke Masjid Jihad atau di Masjid Muhammadiyah di Kauman. Di Kauman, ada Pesantren Kauman Muhammadiyah, awal mula didirikan Buya Hamka, sebagai Tabligh School. Banyak santrinya. Kalau ke Masjid Jihad Tuan salat, pergilah Tuan ke pasar. Masjid itu dulu didirikan oleh Syekh Adam Balai-Balai. Sebelum menjadi ulama, beliau seorang parewa. Preman. ‘Orang bagak’. Tapi akhirnya jadi ulama besar. Orang-orang segan dan menaruh hormat kepadanya.

Tak jauh dari Masjid Jihad, ada bukit menjulang. Bukit Tui, namanya. Di pinggangnya, batu kapur ditambang. Itulah tadi di awal tulisan ini saya sebut, bergerbong-gerbong Mak Hitam membawa emas putih itu ke Padang, ke Emmahaven, terus ke Eropa.

Kalau Tuan belum ingin pulang, mampirlah ke Institut Seni Indonesia (ISI) di Guguak Malintang. Satu dari dua sekolah seni di Sumatra. Dulu satu-satunya sebelum ada ISBI di Aceh. Di ISI, kalau ada pertunjukan, tontonlah. Ada tari, ada musik, ada teater, film, dan lukisan. Menghibur, tentunya.

Di kota ini, Tuan tak harus bawa oto sendiri. Tumpang saja ojek pangkalan atau ojek online. Transportasi sudah modern. Dulu masih ada bendi. Ditarik kuda. Kusirnya suka berpantun. Lucu pula. Kalau tali lecut jatuh, dia tergopoh-gopoh mengambilnya.

Dari atas bendi, pemandangan kota tampak rancak. Tapi bendi kini jarang terlihat. Zaman menggilasnya. Kalah bersaing dengan oto bermesin.

Kalau jam pulang sekolah, jalanan semarak. Anak-anak berseragam beriringan di trotoar. Ramai. Senyum mereka semringah. Sekolah di kota ini cukup banyak. Sekolah umum dan agama. Salah satunya SMA Negeri 1 dan SMP Negeri 1. Sekolah ini bekas peninggalan Belanda. Gedungnya masih awet. Jendela dan pintunya tinggi besar.

Setelah puas berjalan, mampirlah ke Bancahlaweh, di kaki Bukit Tui. Ada lapangan pacuan kuda. Kadang dihelat pacuannya. Orang berbondong-bondong datang. Ramai sekali.

Hamka menjadikan lapangan ini sebagai latar kisah Zainuddin dan Hayati, sepasang kekasih yang cintanya tak sampai dalam novel “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk.” Kisah yang bikin pembaca menitikkan air mata. Sudah difilmkan pula.

Kalau hari sudah senja, dan Tuan ingin berpesiar ke Bukittinggi, jangan lupa singgah di Aie Angek. Minumlah Kopi Kawa Daun di sana. Enaknya, amboi. Apalagi dicampur susu. Atau ditemani lemang tapai dan durian.

Di Aie Angek itu, ada Rumah Puisi Taufiq Ismail. Kini telah menjadi Museum Sastra Indonesia. Di depannya Rumah Budaya dan Aie Angek Cottage. Pemandangan di sekelilingnya indah. Apalagi kalau rinai dan kabut turun dari pinggang Singgalang. Novel saya, “Rinai Kabut Singgalang”, di Rumah Puisi itu saya tulis, di tahun 2009.

Kalau Tuan lapar lagi, cobalah Soto Pak Sep. Lepaunya tak jauh jaraknya dari Rumah Puisi. Aroma sotonya sedap nian. Kalau ditambah kerupuk jangek, rasanya makin lezat. Gurih dan renyah. Ladonya, berpeluh Tuan memakan.

Kalau Tuan benar-benar belum ingin pulang ke daerah asal Tuan, dan balik ke Padang Panjang, Tuan bisa bermalam di home stay. Banyak home stay di Kubu Gadang, sebuah desa wisata di Padang Panjang. Penginapannya asri. Menghadap sawah. Harganya murah. Tuan juga bisa mencicipi kuliner tradisional khas Kubu Gadang.

Begitulah, Tuan. Padang Panjang bukan kota biasa. Di sini, alamnya sejuk. Warganya ramah. Sejarah, seni, dan agama hidup berdampingan.

Kota kecil ini menyimpan banyak cerita. Banyak kenangan. Penuh warna. Tak cukup selembar dua lembar kertas saya tuliskan.

Di lain hari, datanglah Tuan lagi ke Padang Panjang. Nikmati udara bersihnya. Sejuk air jernihnya. Jelajahi lebih dalam kampung-kampungnya. Di sini, Tuan bukan sekadar tamu. Tuan akan merasa pulang ke rumah sendiri.

Dan, melalui tulisan ini yang sedang Tuan baca, saya mengucapkan Selamat Berulang Tahun kepada Kota Padang Panjang. 1 Desember 2025, hari ini, Padang Panjang berusia 235 tahun. Lebih dua abad sejak menjadi kota.

Semoga Padang Panjang terus bertumbuh. Terus menjadi kota yang berbahagia dan dirindukan banyak orang untuk datang dan datang lagi. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM