Oleh Dede Soepriatna
SAIKO telah menunggu-nunggu malam perjamuan ini dengan penuh harapan dan ketakutan. Ia tahu beberapa samurai2 yang akan datang ke rumahnya adalah mereka yang terkenal berani dan tak terbantahkan kehebatannya. Ketakutan Saiko muncul sebab sudah lama ia tidak menjadi tuan rumah dalam acara sebuah perayaan. Ia khawatir pada malam ini tidak bisa menyuguhkan yang terbaik bagi para samurai kehormatan itu. Namun, Saiko juga punya harapan yang begitu besar agar pengakhirannya sebagai geisha3 segera terlaksana.

Saiko selalu berharap agar tugasnya sebagai geisha segera berakhir. Ia ingin bertemu dengan seorang lelaki yang kelak akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik. Meski perlahan-lahan harapan itu mulai kabur dan semakin jauh dalam pandangannya. Tapi Saiko yakin ia tidak ditakdirkan hanya untuk melayani para samurai seumur hidupnya.
“Tuhan telah memberkatimu untuk menjadi seorang seniman, Saiko. Tak seorang pun bisa melakukan lebih dari itu!”
Honami, gadis berusia 21 tahun yang telah menemani Saiko selama beberapa bulan ini menjadi satu-satunya tempat Saiko menumpahkan isi kepala. Tapi sebaliknya, Honami tak pernah menceritakan kehidupannya sedikit pun kepada Saiko termasuk di mana ia dilahirkan. Kini Saiko dan Honami adalah geisha yang begitu terkenal di Shimizu. Selain karena memiliki paras yang begitu menawan, juga keterampilan mereka yang luar biasa dibandingkan para geisha lain.
Saiko tidak mengerti apa yang telah dikatakan oleh Honami, tapi ia tahu bahwa keputusan yang telah ia ambil adalah sebuah kebenaran. Sepuluh tahun ia menjalani kehidupannya dengan penuh penyesalan. Kini saatnya ia meniggalkan kegelisahan-kegelisahan itu dan mengambil risiko yang paling sulit dalam hidupnya. Mungkin, melihat betapa jelas kemungkinan yang kelak akan ia dapatkan setelah ini, pengakhirannya sebagai geisha adalah sebuah pilihan yang tepat.
Matahari musim dingin bergerak semakin jauh, perlahan mendatangkan kegelapan. Salju-salju dipekarangan rumah itu juga telah dibersihkan. Selain Saiko, Honami juga akan ikut menyambut para samurai dan bertugas menuangkan sake4 untuk mereka. Sedangkan Saiko akan menyuguhkan sushi5 dingin di atas tubuhnya yang telanjang.
“Pakaian apa yang pantas untuk kupakai, Nona Honami?” Saiko tiba-tiba berkata.
Mata Honami melirik tubuh Saiko yang berdiri di depan cermin sambil mengangkat dua baju susohiki6 berwarna menyala di tangannya.
“Bukan keduanya!” kata Honami kemudian. “Kamu pasti tahu cara terbaik menyambut para samurai hebat, Saiko. Apalagi kamu adalah seniman terbaik di kota ini!”
Saiko mengerutkan dahi. Keraguan mulai muncul dalam dirinya. Namun, melihat pantulan tubuhnya di cermin seakan memberinya obsesi lebih terhadap apa yang ingin ia dapatkan. Saiko berpaling memandangi Honami, kali ini dengan tatapan yang lain. Ucapan Honami telah memberinya sebuah keputusan yang tak mungkin diubah.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki dan obrolan mulai terdengar dari pekarangan rumah. Saiko dan Honami seakan telah membaca pertanda tentang kedatangan para samurai. Mereka segera mengakhiri obrolan, bergegas untuk menyambut para samurai.
“Bawa mereka untuk beristirahat di depan. Aku segera berkemas!” ucap Saiko dengan wajah yang sedikit ragu-ragu.
“Baik!” sahut Honami sambil beranjak dari tempatnya.
Sekelompok orang kini berkumpul di halaman rumah itu. Dengan tubuh tinggi besar dan wajah penuh keberanian sangat mencerminkan bahwa mereka adalah prajurit bangsawan yang sangat dihormati. Setelah membungkuk, Honami segera menyilakan mereka masuk. Bibir merahnya dengan cepat menarik banyak kekaguman dari para samurai. Tapi bagi Honami, pujian seperti itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Setelah para samurai itu duduk, Honami segera menuangkan sebotol sake pada gelas mereka. Para samurai yang bergembira mengeluarkan suara yang sampai terdengar hingga ke lorong belakang. Dan di sanalah Saiko menunggu dengan perasaan yang campur aduk.
“Apa kamu sudah siap?”
Suara Honami itu seketika mengejutkan Saiko. Melihat wajah Saiko yang dipenuhi keraguan, Honami segera mendekat dan mengusap bahunya secara perlahan. Honami tersenyum dengan senyuman yang begitu lembut.
“Aku yakin kamu bisa melakukan tugas terakhir ini, Saiko. Kamu adalah seniman sejati.”
Saiko terdiam. Tak lama Honami kembali meninggalkan Saiko di depan cermin.
Saat waktu sudah semakin larut, Saiko mengintip melalui celah pintu. Ia mengamati satu persatu para samurai di ruangan itu. Persis seperti apa yang ada dalam bayangannya. Tetapi pikiran Saiko justru melayang ke tempat lain. Pertanyaan yang hinggap dalam kepalanya sekarang, apakah lelaki itu masih hidup? Dan apakah ia benar-benar akan menepati janjinya?
Saiko teringat kejadian dua tahun lalu saat ia bertemu dengan seorang samurai pada perayaan keagamaan. Diam-diam Saiko dan lelaki itu saling temu dan sapa. Namun, sebagai abdi setia kaisar, kesetiaan adalah sebuah prinsip yang fundamental bagi seorang samurai. Lelaki itu hanya berkata akan menemui Saiko kembali selepas peperangan di Shimizu berakhir. Dan Saiko pun berjanji akan menyambut kepulangan para samurai setelah peperangan itu. Dan pada hari inilah Saiko telah menepati janjinya.
Ketika Saiko ingin beranjak, saat itulah ia merasa seperti tertampar begitu keras. Setelah mengamati satu per satu para samurai akhirnya ia menemukan lelaki itu. Lelaki yang sangat ia harapkan. Lelaki itu berada di dalam ruangan. Tak ada yang berubah sedikit pun termasuk bekas luka di keningnya yang masih tergores di sana. Dalam waktu yang begitu singkat, Saiko seperti terkena percikan api dalam tubuhnya. Harapan dan mimpi-mimpi yang ia bangun telah tiba di ujung mata.
Namun, dalam sayup pandangannya, ia melihat lelaki itu merangkul tubuh Honami dan mengecup basah bibirnya. Saiko mematung. Dadanya berdebar. Ia tidak bisa meyakini apa yang ada di hadapannya. Saiko ingin menjerit, tapi ia tidak punya daya.
Beberapa saat kemudian, Saiko muncul dari balik pintu dengan tubuh telanjang. Honami memandang Saiko dan mengatakan beberapa patah kata. Ketika semua samurai perpaling, saat itulah Saiko memberi bungkukan singkat tanda perkenalan. Lelaki yang duduk di sebelah Honami itu memandang getir mata Saiko, seakan banyak sekali penyesalan.
Saiko tersenyum dan menyapa para samurai dengan bungkukan singkat seakan ia tidak merasakan luka dalam tubuhnya. Setelah itu ia segera menuju meja dan berbaring di atas sana. Saiko mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Honami. Honami yang paham dengan maksud dari tatapan itu segera mengambil beberapa sushi dan menyajikannya di atas tubuh saiko yang terbaring.
Saiko berusaha menahan dirinya dari banyak hal. Ia tidak ingin di akhir tugasnya ini menyajikan kenangan buruk bagi para samurai. Saiko terbaring dan dikelilingi para samurai dengan wajah yang sedikit memerah. Ia tidak pernah segugup ini sebelumnya. Tepat di sebelah kanan payudaranya, lelaki itu berdiri menatap Saiko. Banyak yang ingin ia ceritakan tapi pada malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercerita.
“Hide!”
Lelaki itu berpaling ke arah Honami.
Dalam diamnya Saiko tampak terkejut. Ia tidak tahu mengapa Honami mengenal lelaki itu.
“Aku senang kamu bisa kembali ke sini!” ucap Honami seraya merangkul tubuh lelaki itu.
“Aku juga merasa terhormat karena kalian sudah menyambut kami dengan sangat baik!” sahut lelaki itu sedikit tertahan.
“Tentu saja. Aku dan Nona Saiko telah mempersiapkan malam ini dengan sangat matang!” Sahut Honami. “Hari ini adalah perayaan terakhir Nona Saiko, dia bilang kekasihnya akan datang dan melamarnya. Dan mungkin hari ini juga aku akan berakhir menjadi seorang geisha. Aku yakin kamu tidak lupa dengan janji yang kamu ucapkan tentang rencana pernikahan kita, kan?”
Sulit untuk menentukan siapa yang paling terkejut mendengar kata-kata itu, Saiko atau lelaki itu sendiri. Namun Saiko tak mampu menimpali apa yang barusan terdengar di telinganya. Hanya kilauan air yang mulai menggenang di bola mata yang menjadi sebuah jawaban. Baru setelah Honami berjalan pergi untuk menuangkan sake kepada samurai lain, saat itulah Hide mengambil sushi di tubuh saiko dengan perasaan yang campur aduk. Tangannya tanpa sengaja bersentuhan dengan tubuh Saiko. Saiko kembali mengingat rasa hangat tangan lelaki itu. Dan saat Saiko melirik mata lelaki itu, Hide berpaling seakan mengubur dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Tak terasa air mata Saiko mengalir. Turun menyusuri lereng pipinya yang terjal. Pengharapan yang begitu panjang ternyata hanya memberinya luka yang menyakitkan. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Saiko sampaikan. Tapi kata-kata tak dapat keluar karena kesedihan yang begitu mendalam.[]
Catatan:
Nyotaimori : Salah satu tradisi Jepang yang menyajikan sashimi atau sushi di tubuh wanita telanjang.
Samurai : Kelas prajurit bangsawan di Jepang.
Geisha : Seniman-penghibur tradisional Jepang.
Sake : Minuman beralkohol dari Jepang yang berasal dari hasil fermentasi beras.
Sushi : Makanan khas Jepang.
Susohiki : Kimono tradisional Jepang yang khusus dipakai Geisha.

Dede Soepriatna. Lahir di Bogor. Karyanya tersebar di media cetak dan media online. Bergabung di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.
Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan AI.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.
Penulis: Dede Soepriatna ll Editor: Neneng J.K.









