Oleh Muhammad Ishak
KISAH seorang maestro biola yang memainkan musik di dua tempat dengan penghargaan yang sangat berbeda mengundang pertanyaan mendalam tentang bagaimana manusia menentukan nilai. Di teater megah, sang maestro biola musiknya dihargai ribuan dolar per menit, didukung oleh suasana eksklusif, pencahayaan sempurna, dan penonton yang datang dengan ekspektasi tinggi. Namun, di stasiun kereta bawah tanah, karya yang sama hanya menghasilkan $30 dalam 45 menit—sebuah ironi yang memperlihatkan bahwa nilai sering kali lebih dipengaruhi oleh tempat dan konteks daripada substansi itu sendiri.

Apakah tempat menentukan nilai, atau nilai ditentukan oleh tempat?
Ahli ekonomi dan psikologi telah lama mempelajari fenomena ini. Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia sering kali dipengaruhi oleh bias konteks. Nilai bukanlah angka objektif, melainkan konstruksi yang dipengaruhi oleh lingkungan, ekspektasi, dan emosi. Dalam konteks teater, musik maestro tersebut dibingkai sebagai “mewah” karena hadir dalam ekosistem yang mendukung penghargaan tinggi: penonton datang bukan hanya untuk musik, tetapi juga untuk pengalaman eksklusif yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Sebaliknya, di stasiun kereta bawah tanah, musik itu menjadi latar belakang, tenggelam dalam kebisingan dan rutinitas.
Dalam teori ekonomi klasik, teori nilai subjektif yang diperkenalkan oleh Carl Menger menyatakan bahwa nilai suatu barang atau jasa ditentukan oleh persepsi individu, bukan oleh karakteristik inheren benda itu. Seperti ketika membeli air mineral dijual dikedai kecil pinggir jalan dengan harga 5 ribu rupiah, dengan air mineral merek yang sama disebuah cafe hotel berbintang bisa menjadi 15 ribu rupiah. Hal ini berlaku pula pada seni dan budaya. Penghargaan terhadap kesenian tidak hanya bergantung pada kualitas karya, tetapi juga pada bagaimana karya itu dikemas, disajikan, dan diterima dalam masyarakat.
Namun, nilai bukan hanya soal tempat, melainkan juga ekosistem yang menopangnya. Dalam konteks budaya dan kesenian, ekosistem yang menghargai seni membutuhkan kolaborasi antara pelaku seni, masyarakat, dan pemangku kebijakan. Tanpa dukungan dari pemegang kekuasaan atau stakeholder yang peduli, kesenian akan sulit mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat. Richard Florida, dalam bukunya The Rise of the Creative Class, menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas. Tanpa tempat dan ekosistem yang tepat, nilai sebuah karya seni akan sulit berkembang, bahkan mungkin hilang dalam keramaian yang tidak peduli.
Apakah kita perlu pindah ke tempat yang lebih menghargai?
Terkadang, langkah terbaik untuk mendapatkan penghargaan yang lebih layak adalah dengan berpindah ke tempat di mana nilai kita diakui. Dalam dunia seni, tempat yang mampu memahami dan mendukung karya sering kali menjadi penentu keberhasilan. Namun, ini bukan hanya tentang berpindah tempat, melainkan juga tentang membangun perspektif yang komprehensif untuk mengubah nilai. Hal ini melibatkan edukasi masyarakat, advokasi seni, dan kolaborasi lintas sektor.
Mengubah Nilai dengan Perspektif Baru
Nilai adalah refleksi dari bagaimana masyarakat melihat dan menghargai sesuatu. Dalam budaya dan kesenian, nilai ditentukan oleh kombinasi tempat, ekosistem, pelayanan, dan penghargaan individu maupun kolektif. Untuk menciptakan perubahan, pelaku seni tidak hanya membutuhkan tempat yang mendukung, tetapi juga harus aktif membangun ekosistem yang memperkuat nilai karya mereka.
Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk menghargai seni, bukan hanya dalam ruang mewah, tetapi juga dalam keseharian. Dengan begitu, kita tidak hanya mengubah tempat, tetapi juga menciptakan dunia yang lebih menghargai nilai karya dan manusia yang ada di baliknya. []
Muhammad Ishak, aktif di kegiatan silat, baca puisi, dan teater sejak belia sampai remaja, aktif dalam pementasan teater dan baca puisi sejak tahun 1989 sampai dengan 1995, tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta, dalam kelompok Teater Dayung Dayung pimpinan A. Alinde (alm.) tahun 1992 dan juga tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta (TIM) dengan Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi (alm.) tahun 1994 ,dan aktif pementasan teater di Taman Budaya Sumbar dan kota lainnya, ikut dalam Forum Pejuang Seniman Sumatera Barat (FPS-SB), serta terlibat sebagai pembicara dalam Kelompok Kreator Era AI, bekerja di dunia perbankan selama lebih kurang 28 tahun sejak tahun 1996 sebagian dihabiskan menjadi Direktur Utama selama 20 tahun di beberapa Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Sumbar dan mendirikan BPR milik Pemda Padang Pariaman pada tahun 2007. Sekarang sebagai Komisaris di samping Advokat dan aktif dalam kegiatan Kebudayaan dan Kesenian di Sumatera Barat.













