Oleh Mahfuzh Amin
“RUMAH ini adalah kelas favoritku untuk mengajar,” ungkap Manabu-san sambil memandang ke luar jendela, ke arah gedung Daikyojin yang merupakan gedung tertinggi di negeri Wano. Gedung yang memiliki dua ratus lantai.

“Pasti bukan karena gedung Daikyojin, kan?” sahut Kagemaru yang duduk berhadapan dengan Manabu-san. Di antara mereka ada sebuah meja dengan dua gelas berisi teh hijau yang sudah dingin.
Sejak Kagemaru gagal melanjutkan sekolah daringnya beberapa bulan yang lalu, lelaki berusia sembilan belas tahun ini ikut bersama kelompok “Kossori Benkyou Suru” yang didirikan oleh ayah Manabu-San. Kelompok yang sebenarnya diharamkan oleh pemerintahnya.
Manabu-san terkekeh mengejek “Bagiku, Daikyojin itu justru lambang kehancuran pendidikan di negeri Wano.”
Kagemaru pernah mendengar cerita bahwa sebelum gedung Daikyojin dibangun, tempat itu adalah sekolah ternama di ibu kota Bunga, Negeri Wano. Sekolah Sakura, begitu orang-orang menyebutnya, karena banyak ditumbuhi pohon sakura di halaman sekolah. Namun, sejak tidak ada lagi siswa yang bersekolah di sana, pemerintah pun merobohkan sekolah Sakura dan menggantinya dengan gedung Daikyojin sebagai pusat hiburan di negeri Wano. Itu terjadi lima puluh tahun yang lalu.
“Padahal,” Manabu-san memandang ke langit seakan sedang menyusun sejarah indah negeri Wano, “di masa klan Kozuki, pendidikan adalah bagian paling penting negeri Wano.”
Sejak 800 tahun yang lalu, setelah Monkey D. Luffy mengalahkan Kaido dan membawa kembali kebahagiaan rakyat Wano, negeri Wano mulai berkembang di tangan Kozuki Momonosuke. Selain memanfaat sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat, Momo juga mengutama pendidikan bagi rakyat Wano. Ia menyadari begitu pentingnya pendidikan dalam memajukan negaranya dan menyejahterakan rakyatnya. Tak ayal, pada masa pemerintahannya dan klan Kozuki setelahnya, para guru selalu mendapat fasilitas yang istimewa dari pemerintah. Bahkan mereka juga bebas dari pajak.
“Huh! Sayangnya, sekarang guru justru disebut sebagai beban negara.” Manabu-san menghela napas. Terlihat jelas gurat kesedihan di antara keriput lelaki yang telah berusia hampir tujuh puluh tahun itu.
Jatuhnya klan Kozuki seratus tahun yang lalu, membuat negeri Wano berubah menjadi negara demokrasi. Warga Wano yang memilik kekuatan dan harta yang banyak mulai berebut suara untuk menduduki posisi tertinggi di negeri Wano. Perlahan, nilai-nilai etika dan budaya yang ditanamkan sejak masa Kozuki Momonosuke pun menghilang, termasuk pentingnya pendidikan.
“Saatnya kita merevolusi sistem pendidikan kita menjadi sekolah daring. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, harusnya kita tidak perlu lagi direpotkan dengan sistem sekolah konvensional. Sistem sekolah daring akan memudahkan masyarakat untuk belajar, tanpa diatur tempat dan waktunya. Bahkan, negara pun tidak perlu lagi mengeluarkan biaya operasional sekolah, termasuk membayar gaji guru. Kita bisa membangun kemegahan di negeri Wano dengan memangkas anggaran biaya pendidikan.”
Pidato Kenshiro-san, seorang politikus kaya yang berhasil menjadi presiden negeri Wano berkat kekayaannya memulai masa kepemimpinnya dengan mengubah sistem pendidikan. Ia terpilih sebagai presiden setelah tiga puluh tahun jatuhnya klan Kozuki. Sebagai orang yang diam-diam anti-kozuki, ia ingin menghilangkan jejak klan kozuki di masa pemerintahannya. Dan program sekolah daring adalah salah satu misinya untuk mewujudkan keinginannya itu.
Program sekolah daring yang Kenshiro-san jalankan adalah sistem sekolah yang bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Siswa cukup menonton video pembelajaran secara streaming, tentu saja gratis – dan melakukan ujian untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Tujuannya adalah agar para siswa bisa sekolah sambil bekerja. Apabila siswa juga berpenghasilan, maka jumlah pajak penghasilan yang diterima negara akan semakin bertambah.
Untuk menyukseskan programnya itu, Kenshiro-san mengeluarkan aturan yang nyeleneh, yaitu penerapan pajak profesi guru yang sangat tinggi sebagai ganti rugi mereka pada negara karena tidak pernah membayar pajak selama masa klan Kozuki dan pajak kegiatan belajar di luar program sekolah daring. Bagi mereka yang menentang aturan ini, maka dianggap sebagai aksi makar pada pemerintah.
Meski sempat terjadi gelombang perlawanan oleh para guru, sayangnya perlawanan itu tidak berarti apa-apa karena masyarakat sudah terlena dengan kemudahan sistem sekolah daring. Lambat laun, para guru mulai mengubah profesinya ke pekerjaan lain demi bertahan hidup. Hingga, akhirnya tidak ada lagi guru, tidak ada lagi mahasiswa jurusan keguruan, dan tidak ada lagi sekolah yang beroperasi. Hanya segelintir guru yang masih bertahan karena kecintaan mereka pada dunia pendidikan. Itu pun sebagian dari mereka ada yang menghilang tanpa kabar dan tidak pernah kembali lagi.
“Padahal, sekolah daring justru lebih membebani,” Kagemaru mengungkapkan sakit hatinya. Ia adalah satu dari jutaan pelajar di negeri Wano yang tidak bisa melanjutkan sekolah daring karena tidak ada biaya.
Akal licik Kenshiro-san muncul ketika semua sekolah telah dihancurkan. Streaming video pembelajaran yang semula gratis, tiba-tiba berubah menjadi berbayar dengan biaya hampir separuh dari nilai UMR negeri Wano. Ini hanya untuk biaya streaming video tingkat SD. Semakin tinggi tingkat sekolahnya, semakin tinggi juga biayanya. Rakyat Wano pun mulai protes.
“Di dunia ini tidak ada yang selamanya gratis. Sebagai presiden Wano, saya tidak ingin mengajarkan rakyat saya menjadi lembek dan tidak bisa mandiri gara-gara program yang selalu gratis. Sekolah daring dibuat tanpa waktu yang ditentukan, tujuannya adalah agar kalian bisa bekerja mengumpulkan uang untuk sekolah. Buat apa jadi orang pintar kalau kalian menjadi orang yang malas bekerja!”
Nyatanya, mayoritas warga tidak berani melawan pemerintahan Kenshiro-san dan pemerintahan setelahnya. Mereka lebih memilih diam dan pasrah dengan aturan pemerintah. Daripada mendadak menjadi orang hilang seperti para aktivitas dan guru yang tergabung dalam kelompok “Kossori Benkyou Suru”.
“Pemerintah tidak akan peduli dengan beban kita. Mereka hanya mempedulikan pajak yang harus kita bayar. Agar mereka bisa berfoya-foya di tempat hiburan yang mereka bangun dengan uang pajak kita,” nyinyir Manabu-san.
“Untungnya, negeri Wano masih memiliki orang seperti sensai, yang masih peduli dengan pendidikan,” ungkap Kagemaru. Ia teringat ketika ia depresi karena tidak memiliki uang untuk melanjutkan sekolah daring. Tiba-tiba Manabu-san datang dan mengajak bergabung ke kelompok “Kossori Benkyou Suru”. Kelompok yang tanpa pamrih menjalankan program pendidikan untuk rakyat Wano yang putus sekolah daring.
Kelompok yang harus bergerak sembunyi-sembunyi karena dianggap pengkhianat negara oleh pemerintah Wano sebab telah mengganggu program sekolah daring dan tidak membayar pajak. Saking terorganisasinya pergerakan kelompok ini, pemerintah yang kewalahan menangkap mereka pun mengeluarkan poster borunon mereka dengan bounty yang besar.
“Wano justru lebih beruntung karena masih memiliki pemuda yang peduli dengan pendidikan, sepertimu.”
Perkataan Manabu-san membuat Kagemaru terhenyak. Meski baru beberapa bulan mengenal Manabu-san, ia telah mendapat banyak pelajaran yang berharga. Tentang etika, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, kepedulian, dan masih banyak lagi, yang tidak akan pernah didapatkan di sekolah daring. Matanya pun mulai basah. Ia menyesal karena telah melakukan hal yang sangat bodoh untuk kepentingan dirinya sendiri.
“Sensai masih sempat kabur!” Kagemaru seketika bangkit dari tempat duduknya. “Ayo, pergi, Sensi! Biar aku di sini yang menghadapi polisi. Aku yang bertanggung jawab atas tindakan bodohku ini.”
Kagemaru teringat dengan kebodohannya yang begitu mudah terhasut oleh seorang teman yang licik. “Lebih baik kamu serahkan ia ke pemerintah agar kamu mendapat bounty dan bisa melanjutkan sekolah daring. Lagipula ijazah sekolah mereka tidak akan laku di negeri ini.”
Manabu-san menarik napas panjang. “Tidak ada tindakan bodoh yang harus kamu pertanggungjawabkan, Kagemaru. Apa yang kamu lakukan ini sudah benar.”
“Tapi, aku telah menjebakmu. Aku mengkhianatimu!”
Manabu-san tersenyum. “Aku sudah terlalu tua untuk melanjutkan perjuangan ini. Jika memang ini adalah cara terbaikku untuk mengakhiri masa perjuanganku demi seorang penerus yang layak untuk kuperjuangan, maka aku rela.”
Tangis Kagemaru pecah. Manabu-san diam sambil mengigit bibirnya agar air matanya tidak ikut jatuh.
“Terima kasih, Sensai,” ucap Kagemaru seraya membungkukkan badannya di hadapan Manabu-san. “Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan sensai ini.”
Cukup lama Kagemaru membungkukkan badan, hingga pintu rumah didobrak oleh sekelompok polisi. Manabu-san, salah satu buronan dengan bounty yang paling tinggi di negeri Wano pun akhirnya berhasil ditangkap.
“Jagalah semangat juang Nika, Joy Boy, Monkey D. Luffy, dan Kozuki Oden yang ada dalam dirimu, Kagemaru,” pesan Manabu-san sebelum ia dibawa polisi untuk diadili sebagai pengkhianat negara. []
Tabalong, 20 Agustus 2025
Mahfuzh Amin. Lahir di Ujung Murung (Hulu Sungai Utara), 01 Mei 1990. Pernah menerbitkan novel Superstar Udin, novelet Insiden April-Mei, dan kumcer Simalakama Cinta. Aktif di Sanggar Seni Langit Tabalong dan terdaftar sebagai anggota di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Berdomisili Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









