Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

KOLOM

Nasib Penulis

badge-check


					Nasib Penulis Perbesar

Nasib Penulis

Oleh Muhammad Subhan

MENJADI penulis di negeri ini adalah memilih jalan sunyi. Tak ada janji gaji bulanan. Tak ada tunjangan hari tua. Tak ada asuransi, kecuali doa harapan semoga ada keajaiban.

Di negeri ini, pena bukan alat tukar yang dihargai. Buku dianggap pajangan, bukan makanan jiwa. Tulisan tak selalu dihitung sebagai kerja. Menulis dianggap hobi, bukan profesi.

Penulis harus kuat. Bukan karena kebal luka, tapi karena sudah biasa terluka. Biasa dibayar murah. Biasa diabaikan. Biasa dilupakan setelah buku mereka usai dibaca.

Royalti jumlahnya kecil sekali, hanya sepuluh persen. Bahkan lebih kecil bila naskah diterbitkan sendiri. Buku dijual Rp70.000, penulis hanya kebagian Rp7.000. Kalau terjual seribu, hanya Rp7 juta. Dan seribu itu pun, kadang butuh setahun untuk dicapai—tak jarang setengah dari jumlah itu pun tak terjual.

Penulis tak menanam emas. Mereka menanam gagasan. Tapi siapa peduli gagasan?

Di pinggir jalan, buku diskon bertumpuk. Di dalam rak-rak toko, buku berkualitas dihinggapi debu. Sementara dunia maya dijejali konten instan—yang cepat laris karena tak perlu direnungkan.

Penulis dihadapkan pada dinding dilema: Menunggu buku laku di tengah rendahnya minat literasi. Problem hak cipta pun rentan. PDF bajakan beredar seperti kutukan. Buku fisik digandakan tanpa izin. Sementara undang-undang tidur di meja birokrasi.

Penulis bukan dewa. Mereka juga makan nasi. Tapi profesi ini dianggap setengah manusia.

“Ngapain nulis, itu kan cuma hobi,” begitu kata tetangga, bahkan mungkin mertua. Sinis. Tak sedikit penulis yang ditolak calon mertua karena diragukan kelak ketika berumah tangga bisa memberi makan anak gadisnya.

Penulis pun mencari pelarian. Mengajar. Mengisi pelatihan. Membuka toko. Atau diam-diam mendaftar jadi PNS, karena hidup butuh kepastian yang tak diberi oleh pena.

Yang lebih pahit: waktu. Ketika masa tua datang, banyak penulis justru meredup. Buku mereka tak lagi dicetak ulang. Nama mereka hanya tinggal kenangan di sampul usang.

Royalti tak menetes lagi. Badan mulai lemah. Mata tak tajam. Dan laptop dibiarkan mati tanpa kata terakhir.

Sebagian dirawat oleh anak. Sebagian hidup dari belas kasih teman. Sebagian yang lain … sendirian, tanpa siapa-siapa.

Tidak ada dana pensiun untuk penyair. Tidak ada rumah singgah bagi esais tua. Tidak ada BPJS untuk novelis yang tak punya kartu pegawai. Negara hanya datang saat mereka hampir wafat—itu pun kadang lewat berita duka.

Padahal, mereka pernah membentuk kesadaran bangsa. Mereka menulis tentang kemerdekaan. Tentang cinta pada negeri. Tentang makna manusia. Tapi bangsa ini pelupa. Dan pelupa yang buruk, adalah yang lupa pada penulisnya.

Namun, harapan itu belum mati. Masih ada jalan. Masih ada penulis yang menulis dari sudut kamar, dan suaranya menggema hingga layar gawai.

Mereka yang melek digital mulai bertahan. Mereka menjual e-book. Mereka menulis di platform berbayar. Mereka membuat konten edukatif di media sosial.

Mereka tak tunggu penerbit besar. Mereka bangun penerbit sendiri. Menjual buku langsung ke pembaca. Mengirimnya lewat kurir dan doa.

Mereka menjadi guru literasi. Mentor di kampung dan di kota. Pendamping di sekolah. Pembangun harapan di tengah gersangnya bacaan.

Ada juga yang hidup dari skenario. Menulis film. Menulis drama panggung. Menulis untuk anak-anak, karena masa depan ada di tangan kecil itu.

Ya, penulis yang cerdas bukan hanya menulis. Mereka juga mengelola. Menyiapkan masa depan. Mengarsipkan karya. Mewariskan hak cipta kepada anak-anaknya.

Menulis itu mencipta. Tapi juga harus melindungi ciptaan. Menulis itu menyala. Tapi juga mesti merawat api.

Dan kini, jalan baru terbuka. Komunitas tumbuh. Solidaritas muncul. Gerakan membeli buku asli mulai menguat. Sekolah mulai membaca karya lokal. Gerakan literasi sekolah sadar tentang pentingnya buku cetak dan mereka perlu mendukung penulis dengan membeli buku-bukunya.

Negara pun, meski masih lamban, mulai mendengar. Ada penghargaan untuk sastrawan yang telah 40-50 tahun berkarya. Tapi itu belum cukup. Yang dibutuhkan bukan sekadar penghargaan, tapi perlindungan jangka panjang.

Bayangkan jika ada lembaga yang merawat budayawan lansia. Bayangkan jika royalti dikumpulkan secara kolektif. Bayangkan jika negara menjamin asuransi untuk pekerja kreatif. Bayangkan jika kita benar-benar menghargai tulisan—seperti kita menghargai teknologi, atau bahkan selebritas.

Penulis adalah penjaga peradaban. Tanpa mereka, bangsa tak akan punya ingatan. Tak akan ada yang menulis sejarah, mencatat kesalahan, menyuarakan kebenaran.

Mereka bukan pengangguran. Mereka bukan hobiis semata. Mereka adalah pekerja kebudayaan. Dan kebudayaan adalah jiwa bangsa.

Jika kamu penulis, jangan patah arang. Terus menulis. Terus hidup. Terus mencipta. Tapi juga, terus beradaptasi.

Pikirkan nasibmu 20–30 tahun dari hari ini. Bukan untuk takut, tapi agar tak lupa menyiapkan.

Dan, jika kamu bukan penulis, tapi pembaca, ketahuilah satu hal—Setiap buku yang kamu baca, adalah detik-detik hidup seseorang yang tak pernah dikenalmu, tapi mencintaimu lewat kata.

Maka, jangan biarkan mereka mati dalam sunyi. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Lukisan ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelispis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana

5 Desember 2025 - 10:26 WIB

Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan

4 Desember 2025 - 08:15 WIB

Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

3 Desember 2025 - 07:41 WIB

Padang Panjang: Simpul Sumatera, Kota Pergerakan, dan Episentrum Bencana

2 Desember 2025 - 08:23 WIB

Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun

1 Desember 2025 - 12:51 WIB

Trending di KOLOM