Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Merindukan Tulisan Tangan di Tengah Dunia yang Tergesa

badge-check


					Merindukan Tulisan Tangan di Tengah Dunia yang Tergesa Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna pada 20 Oktober 2025 tentang pentingnya menghadirkan kembali pelajaran menulis tangan di sekolah adalah kabar yang menyejukkan di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan.

Di zaman ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai ketimbang pena, gagasan itu terasa seperti ajakan pulang—pulang kepada keheningan, ketekunan, dan daya cipta yang murni.

Saya pribadi sangat mendukung langkah ini jika terwujud. Sebab, menulis dengan tangan bukan sekadar keterampilan motorik, melainkan sebuah proses batin yang mengasah imajinasi, kesabaran, dan kepekaan berpikir.

Saya masih ingat betul, pada masa SMP dan SMA di pertengahan 1990-an, menulis tangan adalah bagian dari keseharian yang paling mengasyikkan. Saya—dan orang-orang seumuran dengan saya atau di atas saya—hidup di zaman surat-menyurat, ketika pesan dikirim lewat amplop dan perangko, perantara kantor pos, bukan lewat notifikasi di ponsel. Ada kerinduan, ada jeda, ada ruang untuk merenung sebelum menulis.

Surat-surat ditulis dengan pena di kertas bergaris, dengan huruf yang rapi dan gaya bahasa yang indah. Dunia terasa lambat, tetapi begitu nikmat. Dalam setiap tulisan tangan, seakan tersimpan denyut jiwa penulisnya, yang kini makin jarang dijumpai dalam ketikan cepat di layar digital ataupun di laptop.

Diakui, kemajuan teknologi membawa manfaat luar biasa, namun juga menggerus kepekaan manusia terhadap proses. Anak-anak sekarang menulis lebih sedikit dan mengetik lebih banyak. Tulisan tangan mereka kecil, tergesa, kadang sulit dibaca. Bahkan, ada yang sama sekali tidak terbiasa menulis panjang karena terlalu bergantung pada fitur “copy–paste”.

Padahal, menulis tangan adalah latihan berpikir pelan namun mendalam. Ia memaksa kita menata ide sebelum dituangkan. Setiap huruf yang ditulis adalah bentuk disiplin dan kesadaran penuh terhadap gagasan yang ingin diucapkan.

Presiden Prabowo mengungkapkan kerisauan dan kekhawatirannya terhadap tulisan siswa yang terlalu kecil, bukan hanya soal estetika, tetapi juga kesehatan mata. Namun, lebih dari itu, ada persoalan kebudayaan dan pembentukan karakter yang tersirat di sana.

Menulis tangan melatih fokus, kesabaran, dan rasa tanggung jawab terhadap hasil kerja sendiri. Ini bukan sekadar soal ukuran huruf, tapi soal ketertiban berpikir dan kejelasan ekspresi.

Penelitian yang dilakukan tim dari Fakultas Pendidikan dan Sastra Unika Atma Jaya, sebagaimana diberitakan Detik.com, Kamis (30/10/2025), memperkuat alasan mengapa kebiasaan menulis tangan perlu dihidupkan kembali. Melibatkan lebih dari dua ribu siswa SD, penelitian itu menunjukkan 81 persen peningkatan kemampuan literasi setelah siswa rutin menulis tangan.

Data ini bukan sekadar angka statistik, tetapi bukti empiris bahwa gerak tangan di atas kertas berhubungan langsung dengan aktivitas otak yang lebih kompleks daripada mengetik.

Ketika anak menulis dengan tangan, ia mengintegrasikan fungsi motorik, memori, dan emosi. Pikiran, perasaan, dan gerak tubuh saling bekerja sama. Itulah mengapa menulis tangan lebih efektif dalam memperkuat daya ingat, memperhalus perasaan, dan menumbuhkan empati.

Peneliti juga menemukan bahwa anak-anak menjadi lebih ekspresif dan reflektif. Mereka lebih berani menuangkan isi hati, lebih imajinatif dalam bercerita, dan lebih menghargai proses belajar.

Sebaliknya, ketika semua aktivitas ditransfer ke gawai, proses itu menjadi dangkal dan instan. Anak-anak cenderung menulis untuk “menyelesaikan tugas”, bukan untuk memahami apa yang mereka baca dan mereka tulis.

Tulisan di layar gawai atau laptop bisa dihapus sesuka hati tanpa meninggalkan jejak emosi. Sedangkan tulisan tangan menyimpan sejarah yang menyisakan kenangan: goresan yang miring, noda tinta, atau huruf yang ditekan terlalu keras, lipatan atau aroma kertas, dan semua itu menjadi saksi keterlibatan perasaan penulisnya.

Menulis tangan juga merupakan latihan keindahan. Huruf-huruf yang terbentuk dari jemari manusia memiliki keunikan masing-masing, seperti sidik jari. Ia mencerminkan kepribadian dan suasana hati. Dalam pelajaran menulis halus kasar (tegak bersambung) yang dulu diajarkan di sekolah dasar, kita yang sezaman belajar bagaimana setiap lekuk huruf memiliki ritme dan kesabaran.

Tulisan yang indah bukan hanya hasil dari keterampilan teknis, tetapi juga cerminan ketekunan jiwa.

Anak-anak zaman sekarang kehilangan ruang itu. Mereka tumbuh dalam budaya cepat, serba instan, dan visual yang mendominasi. Padahal, menulis tangan mengajarkan anak menghargai proses dan hasil kerja sendiri. Ia melatih mereka menunda kepuasan, karena keindahan tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari ketelitian.

Saya percaya, bila pelajaran menulis tangan benar-benar dihidupkan kembali, itu akan menjadi oase bagi pendidikan yang kini terlalu kognitif dan mekanistik.

Kegiatan menulis bisa dikaitkan dengan kegiatan refleksi, seperti menulis surat untuk diri sendiri, surat untuk guru atau ibu, atau surat untuk presiden, atau sekadar catatan rasa syukur harian.

Di sinilah pendidikan menyentuh sisi kemanusiaan terdalam.

Kegiatan menulis tangan sejatinya juga memperkuat budaya literasi. Anak yang terbiasa menulis akan terbiasa membaca, karena menulis dan membaca adalah dua sisi mata uang dari proses yang sama: memahami dunia.

Bila siswa rajin menulis tangan, mereka juga akan lebih peka terhadap diksi, struktur kalimat, dan keindahan bahasa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga peka, empati, berkarakter, dan berbudaya.

Menulis tangan bisa menjadi jalan sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Ia menumbuhkan kembali nilai kesunyian yang produktif, suatu keadaan di mana anak diajak mendengar pikirannya sendiri tanpa gangguan notifikasi.

Kegiatan ini sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter: disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran intelektual.

Menulis tangan menuntut orisinalitas, karena tidak mungkin menyalin secepat menekan tombol salin.

Tentu, kebijakan mengembalikan pelajaran menulis tangan bukan tanpa tantangan. Guru perlu disiapkan dengan metode baru yang menarik, tidak sekadar memaksa anak meniru huruf. Kegiatan menulis harus dikaitkan dengan ekspresi diri, bukan hanya keterampilan motorik. Misalnya, melalui proyek menulis surat kepada orang tua, menulis cerita pendek, menulis puisi, atau membuat jurnal mimpi. Dengan begitu, kegiatan menulis menjadi relevan dan menyenangkan.

Selain itu, dunia pendidikan harus mengubah paradigma bahwa tulisan tangan hanyalah keterampilan kuno yang sudah ketinggalan zaman. Justru di era digital, kemampuan menulis tangan adalah bentuk “slow literacy”, yaitu literasi yang menumbuhkan kesadaran, ketenangan, dan empati. Kita tidak perlu menolak teknologi, tapi perlu menyeimbangkannya dengan kegiatan yang melibatkan tubuh dan jiwa manusia secara utuh.

Bagi saya pribadi, menulis tangan adalah cara untuk tetap manusiawi di tengah laju zaman yang serba cepat. Saat pena menyentuh kertas, pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih lembut, dan imajinasi menari bebas. Pun, jika tulisan itu menyentuh, tanpa terasa air mata jatuh menitik di atas kertas.

Andai pelajaran menulis tangan benar-benar kembali di sekolah, semoga ia tidak hanya mengajarkan huruf dan kerapian, tapi juga menghidupkan kembali “ruh menulis” itu sendiri: berpikir pelan, merasakan dalam, dan menyadari bahwa setiap kata yang kita tulis adalah bagian dari diri yang sedang tumbuh.

Menulis tangan bukan sekadar tentang menorehkan huruf di atas kertas. Ia adalah bentuk doa yang ditulis pelan-pelan. Doa agar generasi muda kita tidak kehilangan jati diri di tengah dunia yang semakin bising, sesak, dan tergesa. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, dan founder Sekolah Menulis elipsis.

Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM