Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

OPINI

Merawat Rupiah dalam Pendidikan Sains Madrasah untuk Membangun Literasi Keuangan dan Karakter Bangsa

badge-check


					Merawat Rupiah dalam Pendidikan Sains Madrasah untuk Membangun Literasi Keuangan dan Karakter Bangsa Perbesar

Oleh Dodi Saputra

“Ketika masyarakat tidak memahami mata uangnya sendiri, mereka tidak hanya rentan terhadap penipuan, tetapi juga kehilangan rasa memiliki terhadap negaranya.”

— Dr. Hendri Saparini, Ekonom Senior, CORE Indonesia

Krisis Literasi Rupiah di Era Disrupsi

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan gempuran ekonomi global, rupiah menghadapi tantangan yang makin kompleks. Bukan hanya dari sisi stabilitas nilainya, tetapi juga dari sisi eksistensinya sebagai simbol kedaulatan. Fenomena penggunaan uang palsu, rendahnya kesadaran merawat uang, hingga anggapan bahwa uang digital akan menggantikan sepenuhnya uang fisik adalah tanda bahwa literasi masyarakat terhadap rupiah sedang berada di titik rawan. Bank Indonesia mencatat ribuan kasus uang palsu setiap tahun, sebagian besar terjadi di wilayah dengan literasi keuangan yang rendah. Ironisnya, ini terjadi di tengah maraknya kampanye digital dan modernisasi sistem pembayaran.

Situasi ini menyiratkan bahwa keberadaan uang fisik seperti rupiah belum tergantikan secara total, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), yang masih sangat bergantung pada transaksi tunai. Maka, saatnya kita menempatkan literasi rupiah bukan sekadar sebagai bagian dari edukasi ekonomi, tapi sebagai upaya menjaga martabat bangsa. Dalam konteks pendidikan madrasah, upaya ini sangat relevan dan strategis—karena nilai-nilai keuangan dapat diajarkan berdampingan dengan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan.

Rupiah dalam Perspektif Islam: Amanah dan Etika Muamalah

Dalam Islam, uang bukan hanya alat tukar, tetapi juga amanah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maknanya bukan hanya soal memberi dan menerima, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan harta secara bertanggung jawab. Dalam konteks rupiah, mencorat-coret, merusak, atau bahkan memalsukannya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik. Lebih lanjut, Al-Qur’an menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam transaksi:

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” (QS Al-An’am: 152)

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keaslian dan keadilan dalam pertukaran—termasuk menjaga keaslian uang—merupakan perintah Ilahi. Maka, gerakan “Cinta, Bangga, Paham Rupiah” dari Bank Indonesia sejatinya sejalan dengan prinsip-prinsip muamalah dalam Islam.

CBP Rupiah sebagai Integrasi Nilai dan Ilmu dalam Pendidikan Sains

Rupiah bukan sekadar alat tukar, tetapi simbol kebangsaan, cermin kecintaan, dan sarana pembelajaran multidimensi. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi ekonomi, siswa kita perlu lebih dari sekadar tahu cara menggunakan uang—mereka perlu memahami nilai, makna, dan tanggung jawab di balik setiap lembar rupiah. Melalui gerakan edukatif “Cinta, Bangga, Paham Rupiah” (CBP Rupiah) yang digagas oleh Bank Indonesia, saya sebagai guru Sains melihat peluang besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran yang kontekstual, berbasis ilmu pengetahuan, dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman.

Dalam konteks “Cinta Rupiah”, kami mengajak siswa mengenal struktur dan teknologi keamanan uang dari sudut pandang sains. Uang kertas rupiah dilengkapi fitur canggih seperti watermark, color-shifting ink, security thread, hingga rectoverso—semua itu menjadi bahan ajar yang menarik ketika dikaitkan dengan materi fisika cahaya, sifat bahan, dan teknik manufaktur modern.

Tak hanya teori, siswa juga kami ajak melakukan eksperimen sederhana seperti menguji ketahanan uang terhadap air, panas, dan gesekan. Mereka belajar bahwa merawat rupiah adalah bentuk tanggung jawab, bukan hanya kepada negara, tapi juga kepada nilai Islam yang menekankan pentingnya menjaga amanah dan kebersihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Uang, meski benda kecil, adalah amanah besar.

Kemudian pada aspek “Bangga Rupiah”, kami dorong siswa untuk menyadari bahwa setiap lembar rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa. Potret pahlawan, pakaian adat, serta objek budaya dan alam yang tergambar di uang menjadi pintu masuk untuk mengaitkan pelajaran Sains dengan konteks geografi, keanekaragaman hayati, dan potensi sumber daya Indonesia. Kami mengaitkan simbol-simbol tersebut dengan tema konservasi lingkungan, ketahanan pangan, hingga pelestarian hayati. Ini memperkuat pemahaman siswa bahwa kebanggaan terhadap rupiah bukan sekadar emosional, tapi juga rasional dan ilmiah.

Dalam Islam, mencintai tanah air adalah bentuk keimanan sebagaimana ditegaskan oleh banyak ulama, termasuk Imam Nawawi, bahwa cinta tanah air dapat menjadi manifestasi keimanan ketika diiringi dengan kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Adapun dalam “Paham Rupiah”, kami memperkenalkan konsep-konsep dasar literasi keuangan dari sudut pandang ilmiah dan praktis. Mulai dari pengelolaan anggaran sederhana, pemahaman inflasi, nilai waktu uang, hingga pentingnya hidup hemat dan bijak dalam konsumsi. Siswa kami ajak menyusun jurnal pengeluaran harian, mensimulasikan anggaran rumah tangga, dan membuat refleksi keuangan pribadi. Kami ingin siswa paham bahwa setiap keputusan finansial membawa konsekuensi—baik bagi dirinya, keluarganya, maupun perekonomian secara makro.

Dalam QS Al-Isra’ ayat 27, Allah mengingatkan:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan….”

Ayat ini menjadi fondasi penting bagi kami untuk mengajarkan bahwa hidup hemat bukan hanya anjuran ekonomi, tapi perintah agama. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai CBP Rupiah ke dalam kelas Sains secara kreatif dan kontekstual, kami berharap madrasah dapat mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter, sadar identitas bangsa, dan memiliki etika keuangan yang kokoh. CBP Rupiah bukan hanya kampanye, tapi bisa menjadi strategi pendidikan karakter yang menyatu dalam kurikulum, khususnya di madrasah yang menggabungkan ilmu dan iman sebagai pilar utama pendidikan.

Madrasah sebagai Agen Gerakan Nasional Literasi Rupiah

Madrasah memiliki peran strategis dalam menyukseskan Gerakan Nasional Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang diinisiasi oleh Bank Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan berbasis keimanan dan keilmuan, madrasah tidak hanya mendidik aspek akademik, tetapi juga karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Gerakan literasi rupiah sangat potensial untuk diintegrasikan secara sistematis ke dalam kurikulum madrasah, karena substansinya bersentuhan langsung dengan nilai-nilai ajaran Islam dan tujuan pendidikan nasional.

Modul “Menjaga Rupiah” yang disiapkan oleh Bank Indonesia dapat dijadikan sumber belajar tematik dan lintas mata pelajaran. Di pelajaran Sains, misalnya, siswa dapat mempelajari struktur bahan uang (kertas dan polimer), fitur keamanannya, serta melakukan eksperimen sederhana untuk menguji ketahanan uang terhadap faktor lingkungan seperti air, panas, dan gesekan. Ini menjadi pembelajaran yang tidak hanya aplikatif, tetapi juga membentuk kesadaran akan pentingnya merawat uang sebagai bagian dari etika sosial.

Dalam pelajaran Matematika, konsep-konsep seperti konversi pecahan, perhitungan pengeluaran dan pemasukan, serta simulasi inflasi bisa dikemas dalam konteks keuangan nyata menggunakan data rupiah. Siswa belajar menghitung secara akurat sekaligus memahami makna dan nilai di balik angka. Pada mata pelajaran IPS dan PPKn, para guru bisa mengajak siswa menggali makna historis dan identitas nasional yang melekat dalam setiap lembar uang, seperti tokoh pahlawan, tarian tradisional, dan flora-fauna khas daerah. Ini menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsa dan memperkuat identitas kebangsaan yang inklusif.

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pun memiliki kontribusi kuat dalam memperkuat aspek moral dan spiritual dari gerakan ini. Uang yang dipalsukan, dirusak, atau disalahgunakan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Islam mengajarkan pentingnya menjaga hak orang lain, menjauhi penipuan, dan berlaku jujur dalam muamalah. Hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami” (HR Muslim). Mengajarkan etika penggunaan uang kepada siswa bukan hanya soal keterampilan finansial, tapi juga pembentukan karakter islami yang kuat.

Madrasah bahkan bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan program-program edukatif seperti “Bank Mini Madrasah”, yaitu simulasi bank sederhana yang dikelola oleh siswa untuk menanamkan budaya menabung, mengenal uang asli, dan belajar prinsip keuangan syariah. Program “Rupiah Week” bisa menjadi pekan khusus yang diisi dengan lomba desain poster edukasi rupiah, kelas inspiratif bersama praktisi keuangan, hingga pameran hasil karya siswa tentang CBP Rupiah.

“Laboratorium Literasi Keuangan” juga dapat dikembangkan sebagai ruang praktik lintas pelajaran yang mengaitkan konsep keuangan, ekonomi mikro, dan nilai-nilai religius secara langsung. Dengan pendekatan ini, madrasah tidak sekadar menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga pusat gerakan literasi keuangan yang membangun warga negara yang cerdas, berintegritas, dan cinta tanah air. Jika digerakkan bersama, madrasah di seluruh Indonesia dapat menjadi ujung tombak dalam menyemai generasi yang mencintai, membanggakan, dan memahami rupiah bukan hanya sebagai mata uang, tetapi juga sebagai simbol kebangsaan dan tanggung jawab bersama.

Menjaga Rupiah, Menjaga Negeri

Di tengah ancaman disinformasi digital, transaksi ilegal, dan pengaruh budaya konsumtif, menjaga rupiah adalah bentuk nyata menjaga negeri. Literasi rupiah harus diajarkan sejak dini—bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi akhlak dan nasionalisme. Sebagai guru Sains di madrasah, saya yakin bahwa Sains tidak hanya mendidik pikiran, tapi juga bisa menyentuh nurani. Mari kita jadikan CBP Rupiah bukan hanya sebagai kampanye sesaat, tetapi sebagai gerakan pembelajaran yang membentuk generasi cerdas, jujur, dan cinta tanah air.

“Barang siapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)

Mari ajarkan anak-anak kita untuk tidak menipu dengan uang, tidak meremehkan uang, dan tidak memperlakukan uang secara sembarangan. Karena dari dompet yang jujur dan bersih, lahirlah peradaban yang bermartabat.[]

Padang, 2025

Dodi Saputra. Guru MAN Insan Cendekia Padang Pariaman, Duta Guru CBP Rupiah Championship 2025 Bank Indonesia, Sumatra Barat. Ragam tulisannya berupa karya fiksi dan nonfiksi dimuat di berbagai media: Singgalang, Rakyat Sumbar, Haluan Padang, Padang Ekspres, Harian Analisa (Medan), Riau Pos, Lampung Pos, Banjarmasin Post, Radar Bromo (Surabaya), Metro Riau Pos, Minggu Pagi (Jogja), majalah Walida (Jawa Timur), Inilah Bogor, tabloid Suara Kampus, tabloid Medika, majalah Harmoni Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, dan Wahana Media Sumatera (WMS). Tulisannya juga terbit di media online; Suara Redaksi Okezone, Wawasanews, Indonesianpride.com, Media Mahasiswa, dan Sastra Indonesia.com dan website Kementerian Agama Wilayah Sumatra Barat. Telah menulis 13 judul buku tunggal, antara lain novel Bumi Mahakarya (AG Litera, 2014), kumpulan cerpen Musim Bunga (AG Litera, 2014) buku puisi Api Ziarah (FAM Publishing, Kediri 2014), buku motivasi 100 Strategi Mahasiswa dan Sarjana Sejati (Kekata Publisher, Surakarta 2018), dan buku religi Surau & Manusia Akhir Zaman (Guepedia, 2019).

Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi AI.

Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Buku Puisi “Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang” Diluncurkan, Bukti Guru Tidak Sekadar Mengajarkan Teori

29 November 2025 - 08:51 WIB

Chaidir Syam, AMTI Maros, Unik dan Eksotis

22 November 2025 - 06:41 WIB

60 Tahun ISI Padang Panjang, Layak Jadi Fasilitator dan Katalisator Pusat Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat

14 November 2025 - 10:22 WIB

Pilar Peradaban dan Cahaya Perubahan

5 November 2025 - 10:20 WIB

Tim Riset MTs Muhammadiyah Kajai Masuk 30 Besar Nasional di Olimpiade Madrasah Indonesia 2025

1 November 2025 - 19:46 WIB

Trending di Pendidikan