Oleh Muhammad Subhan
GENERASI muda kita telah lama terpesona oleh gemerlap yang datang dari luar. K-pop, anime, dan jargon-jargon Barat menyelinap masuk ke bilik-bilik rumah. Bilik-bilik yang makin tersekat. Terbawa ke konten-konten yang tak jarang bikin geleng-geleng kepala.

Kita tengah menyaksikan zaman bergerak. Tapi dalam geraknya, banyak yang tergilas.
Budaya lokal, identitas kita, kini menjadi asing di tanahnya sendiri. Seakan warisan leluhur hanyalah sisa-sisa museum: kuno, usang, tak relevan, dianggap ketinggalan zaman.
Padahal, di situ akar, ruh, dan nyawa kehidupan bermula.
Petatah petitih, kaba, randai, pantun, dendang, mulai jarang berkumandang. Pun, bahasa ibu, kian tergerus oleh bahasa asing yang lebih menonjolkan sisi modern dan mengikis identitas. Bahasa Minang, Sunda, Batak, Aceh, Bugis, dan lainnya perlahan dilupakan. Atau dicampuradukkan.
Anak-anak lebih hapal nama-nama selebriti Korea daripada nama tokoh adat di kampungnya. Lebih mahir menirukan dance viral ketimbang gerak tari tradisi. Lebih senang berbicara dalam slang asing daripada melafazkan petuah indah yang mengandung nilai adat dan Ilahiah. Padahal, bahasa adalah jiwa sebuah bangsa. Jika bahasa mati, lenyaplah rasa.
Manusia modern hidup di tengah arus besar. Globalisasi mengalir deras, mengikis tepi-tepi lokalitas. Dan, jika seseorang tidak membendungnya dengan arif, ia akan kehilangan jati diri, terombang-ambing di samudera zaman yang tak jarang mendatangkan badai disrupsi.
Di rumah, orang tua sibuk mengejar nafkah. Sudah jarang punya waktu bercerita di malam hari perantara dongeng kepada anak-anaknya sebelum tidur. Padahal, dulu, di balik nyala lampu minyak, kisah-kisah rakyat dituturkan. Nilai disisipkan lewat dongeng. Etika diajarkan lewat pantun.
Kini? Anak-anak tidur ditemani ponsel. Bangun pun demikian.
Di surau, tempat belajar adat, semakin samar terdengar suara syekh atau mamak mengajar silat, syarak, dan sopan santun. Surau yang dulu pusat pendidikan karakter, perlahan berubah menjadi bangunan sepi yang semakin asing.
Pendidikan formal pun masih belum cukup berpihak pada masalah ini. Kurikulum dibentuk dari pusat, lalu dibebankan ke daerah. Anak-anak di kampung diajarkan sejarah bangsa dari buku cetak, namun tidak mengenal sejarah kampung tempat mereka lahir dan dibesarkan. Mereka tahu revolusi industri, tapi buta tentang perjuangan pahlawan-pahlawan di daerah mereka.
Kearifan lokal bukan sekadar ritual. Ia adalah nilai. Ia adalah cara pandang. Ia adalah etika hidup yang lahir dari kebersamaan, yang tumbuh dari tanah, yang dirawat dalam tradisi.
Lihatlah musyawarah adat. Setiap persoalan diselesaikan dengan mufakat. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan ego. Di Minang, adat berkata, “Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.” Tapi filosofi ini pun mulai tergerus, karena kini keputusan diambil sering lewat polling cepat atau voting daring, tanpa ruang tafsir, tanpa mendengar lebih dalam.
Budaya kita juga tidak semestinya hanya menjadi kostum. Baju kurung dikenakan hanya saat lomba. Tari piring dipertontonkan saat penyambutan tamu. Tapi siapa yang menyelami filosofi dan maknanya? Siapa yang tahu bahwa langkah-langkah itu melambangkan rasa syukur dan harmoni?
Kearifan lokal bukan pajangan. Ia harus hidup. Ia harus dipraktikkan. Ia harus diajarkan, dengan cinta, bukan paksaan.
Lalu, haruskah kita pesimis?
Tidak, karena era digital bukan musuh. Ia hanya alat. Dan alat bisa dipakai untuk membangun, bukan hanya untuk menghapus.
Maka, penting kembali menghidupkan dan menggali budaya-budaya lokal yang terancam punah. Pemetaan harus terus dilakukan. Sekolah-sekolah memberi ruang bagi pengajaran yang lebih dalam di samping teknologi tetap dipakai untuk menjadi media pembaharu penyampai kabar dan pendokumentasian identitas budaya.
Digitalisasi menjadi penting. Ya, kaba harus didigitalisasikan, pantun dan dongeng bawa ke podcast, randai diperbanyak pentasnya melalui video-video kreatif, petatah-petitih tampilkan dalam caption Instagram dan TikTok. Media-media sosial ini harus diperbanyak sebagai ruang budaya, bukan hanya untuk konten joget kosong dan hampa.
Sekolah bisa menjadi ruang kebudayaan. Kantong literasi diperbanyak, dan sekolah tak hanya mengejar gengsi akademis. Maka, sanggar seni dan sastra menjadi penting. Anak-anak perlu diajak membaca A.A. Navis, Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, dan karya maestro pengarang-pengarang besar di daerahnya, bukan hanya narasi-narasi asing semata viral. Ajak anak menggambar rumah adat di saat pelajaran seni, buat lomba pantun digital, dan sejenisnya, sehingga generasi muda bangga menjadi Minang, Batak, Sunda, Aceh, Bugis, Papua, dan lainnya.
Keluarga juga punya peran besar. Cerita rakyat dan dongeng perlu dihidupkan lagi sebelum tidur kepada anak-anak yang masih berusia emas. Percakapan-percakapan personal perlu diperbanyak. Di meja makan ruang diskusi terhadap nilai-nilai kearifan lokal penting pula menjadi jeda yang harus dibangun.
Kita tidak bisa menolak kemajuan. Tapi kita bisa mengarahkan arah langkah. Kita bisa mengikuti arus, tapi jangan sampai terbawa arus.
Mengikuti arus berjalan di tepi-tepi. Terbawa arus bisa hanyut, tenggelam; karam. Kita bisa menjadi bangsa yang modern tanpa tercerabut, karena modern bukan berarti melupakan. Modern justru menuntut pijakan kuat pada akar. Akar itu tradisi.
Pohon tinggi tumbuh menjulang ke langit, tapi akarnya tetap tertanam dalam bumi. Karena yang tercerabut, pasti tumbang. Jika telah tumbang, susah ditegakkan lagi, apalagi bila telah mati.
Mewarisi tradisi lokal bukan semata nostalgia, tapi kelangsungan jiwa, karena siapa yang kehilangan budaya, sebenarnya kehilangan dirinya sendiri.
Menjaga warisan ini dan merawat yang luhur adalah kebanggan bagi sebuah bangsa. Upaya merawat bertujuan agar kelak, anak cucu tidak bertanya, “Apa arti menjadi bagian dari tanah ini?” Melainkan mereka berkata, “Kami tahu siapa kami, karena leluhur kami menjaganya untuk kami.”
Dan, tugas kita hari ini, adalah menjadi leluhur yang punya rasa empati, prihatin, dan bertanggung jawab. []
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









