Oleh Rungo Ashta
BANYAK yang menganggap menulis adalah kegiatan yang memerlukan waktu luang, suasana tenang, dan pikiran yang sedang jernih. Menunggu detak jam menyapa ramah, menunggu hari yang tak sibuk, menunggu suasana hati baik, atau menunggu inspirasi dalam lamunan secangkir kopi. Nyatanya semakin lama ditunggu, semakin terasa bahwa bukan waktu yang tidak hadir, tetapi kita yang belum hadir dalam menulis. Terdapat distingsi halus antara tidak memiliki waktu dan tidak menyediakan waktu. Distingsi inilah yang akan menentukan nasib tulisan yang hanya hidup dalam kepala, tidak pernah mendapat tempat di atas kertas.

Menulis bukan hal sulit. Yang sulit adalah duduk, membuka buku catatan atau laptop, menyediakan secangkir kopi, lalu berkata pada diri sendiri, “Sekarang waktu menulis.” Tantangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri, bukan pada teknik, bukan pada pilihan kata, alur cerita, atau penentuan klimaks dan tokoh utama. Diri kita penuh distraksi, penuh dalih, penuh kompromi yang terdengar logis tetapi berbahaya. Kita sering menunggu pekerjaan selesai, menunggu suasana hati lebih baik, atau menunggu waktu malam yang lebih santai. Namun, seringkali malam datang dengan kelelahan baru sehingga suasana hati memburuk dan tulisan tetap diam di tempat.
Nyatanya, kunci konsisten bukan soal mencari waktu yang tepat, tetapi menyediakannya. Kita perlu melihat waktu bukan sebagai lawan yang pelit, melainkan sebagai bahan mentah yang bisa dibentuk. Ibarat adonan kue, waktu baru bisa digunakan ketika kita sentuh, aduk, dan bentuk. Ia tidak akan menjadi apa-apa jika hanya didiamkan.
Penulis-penulis besar bukan mereka yang hidupnya punya waktu lapang. Mereka punya pekerjaan, tanggung jawab sosial, keluarga, bahkan rasa lelah yang tak berbeda. Namun, yang membedakan adalah kedisiplinan. Sebuah sikap yang gampang diucapkan, tetapi membutuhkan latihan dan pengalaman panjang. Disiplin tidak hadir dari rasa tanggung jawab semata, tapi dari kesadaran penuh bahwa setiap tulisan adalah investasi masa depan. Menulis bukan karena sedang sempat, akan lebih baik menganggap menulis sebagai bagian penting dalam hidup.
Mengatur waktu untuk menulis bukan berarti membelah hari menjadi bagian-bagian permata. Mengatur waktu artinya memberi ruang bagi menulis untuk bernapas, tumbuh, dan hidup dalam keseharian. Tidak harus tiga jam penuh, tidak harus seribu kata setiap duduk. Bahkan sepuluh menit pun dapat menjadi kunci untuk membuka kemungkinan besar. Bayangkan menulis seperti menyiram tanaman kecil. Bila terus menunggu hujan untuk menyiramnya, tanaman itu mungkin sudah layu duluan. Namun, jika setiap hari kita memberikan sedikit air, sedikit cahaya, dan sedikit perawatan, lambat laun ia akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Pun begitu dengan menulis, sedikit demi sedikit, rutin dan teratur, akan jauh lebih berdampak dibanding menunggu waktu yang tepat.
Ketika disiplin mulai dilatih, kita akan menyadari bahwa menulis bukan hanya soal menuangkan ide dalam kalimat, tetapi tentang membangun hubungan dengan diri sendiri. Ada saat kepala terasa penuh, tetapi tangan menolak bergerak. Ada waktu ketika ide melonjak, tetapi tubuh malas bergerak. Inilah momen ketika kedisiplinan diuji. Apakah kita memilih menjadi pengikut buruknya suasana hati atau memilih menjadi pemimpin diri sendiri.
Menulis membutuhkan kita yang hadir, meski sebentar. Hadir meski tidak dalam kondisi sempurna. Hadir meski tulisan hari itu mungkin buruk. Namun, dari situlah kita bisa mengasah kepekaan, melatih kreativitas, dan membiasakan otot imajinasi bekerja. seringkali kita menjadi keras kepala sendiri. Menganggap tulisan harus bagus sejak draft pertama, atau langsung rapi dan sempurna. Padahal draft pertama tidak dimaksudkan untuk indah. Ia hanya perlu lahir. Keindahan adalah hasil dari repetisi, revisi, dan keberanian untuk kembali ke depan tulisan itu sendiri.
Bila ingin konsisten, kita perlu memahami bahwa produktivitas bukan hasil dorongan besar, tetapi hasil dari kerja kecil yang dilakukan banyak kali. Menulis lima paragraf sehari dalam sebulan lebih bernilai dibanding menunggu kesempatan menulis lima halaman yang entah kapan datang. Konsistensi adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Cinta karena kita memberi kesempatan pada mimpi untuk tumbuh, bukan sekadar membiarkan terkurung dalam angan-angan.
Membiasakan ritual-ritual kecil bisa membantu untuk mengatur waktu menulis. Bisa berupa membaca buku favorit, menyeduh secangkir kopi, atau duduk di sudut rumah yang tenang. Ritual-ritual semacam ini akan menjadi sinyal bagi otak bahwa ini waktunya menulis. Lambat laun tubuh dan pikiran akan terbiasa, bahkan merindukan sesi menulis itu.
Kadang menulis justru menjadi tempat beristirahat dari riuh kehidupan. Sebuah ruang untuk merapikan pikiran yang carut marut. Namun, ruang ini tidak akan ada kalau tidak dibangun. Membangun ruang itu artinya memberi prioritas pada menulis, walau hanya satu dua jam dalam sehari.
Kita pun perlu berdamai dengan fakta bahwa hari-hari tidak selalu produktif. Ada hari di mana kalimat terasa terputus. Ada hari ketika halaman terasa macet. Hal itu tidak apa. Konsistensi bukan harus selalu hebat dan berhasil, tetapi selalu kembali. Sungai tidak selalu deras, tetapi terus mengalir dan terus membentuk karang sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, menulis merupakan kursus hidup. Ia mengajarkan menghargai proses, bukan hasil instan. Ia mengajarkan bahwa waktu bukan untuk disesali, tetapi dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia mengingatkan bahwa disiplin bukan menyiksa diri, tetapi jembatan menuju kesuksesan.
Menulis bukan soal sulit atau tidak. Menulis merupakan pantulan bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Ketika berani konsisten, menulis bukan hanya melahirkan tulisan. Namun, membentuk karakter; sabar, tekun, kuat, bertanggungjawab, dan setia pada harapan.
Waktu tidak pernah salah menemukan tempat. Yang perlu dibenahi adalah bagaimana kita hadir di dalamnya. Ketika kita sudah berani hadir ke meja tulis, meski dengan kalimat terbata, di sanalah perjalanan benar-benar dimulai. Sebab menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan tentang menaklukkan diri, waktu demi waktu. Terus hadir meski sejenak. Terus duduk meski sekejap. Kelak, perjalanan akan menjadi saksi bahwa kita pernah memilih untuk tidak menyerah pada diri sendiri. Dalam momen itu kita akan tahu, dari setiap halaman yang tumbuh, versi terbaik dari diri sendiri telah lahir. []
Rungo Ashta. Perempuan kelahiran Pasaman Barat 29 tahun lalu. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat dalam buku solo, berbagai antologi, dan sejumlah media daring. Ia merupakan pencetus Akademi Menulis Metafora, sebuah ruang belajar menulis yang tengah tumbuh dan berkembang. Bergiat di dunia literasi sejak masa kuliah dalam berbagai komunitas literasi. Kemudian merambah ke Pasaman Barat dalam FPL Pasaman Barat. Aktif juga sebagai siswa Sekolah Menulis elipsis, WIN Indonesia, dll. Saat ini berdomisili di Tapus, Kab. Pasaman. Pembaca dapat menyapa melalui sosial media dengan nama yang sama.









