Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Mengapa Santri Harus Menulis?

badge-check


					Mengapa Santri Harus Menulis? Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

SETELAH empat belas tahun berlalu, saya kembali hadir di Graha Serambi Mekkah, Padang Panjang, Senin, 29 September 2025. Di aula besar dan megah di jantung pesantren ini, pada 2011, novel saya “Rinai Kabut Singgalang” (420 halaman) pernah diluncurkan dan dibedah oleh dua novelis Indonesia.

Kedua novelis itu adalah Gol A Gong dari Banten dan Arafat Nur dari Aceh. Saat itu, Gol A Gong belum menjadi Duta Baca Indonesia, tetapi semua orang tahu ia penulis paling produktif sekaligus pegiat literasi yang banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.

Sementara itu, Arafat Nur—sahabat saya semasa di Aceh—setahun sebelumnya, 2010, meraih penghargaan unggulan novel DKJ untuk karyanya “Lampuki”. Ketika saya SMA, Arafat pernah datang ke rumah kontrakan saya di Keude Kruenggeukueh, membawa cerpen-cerpennya yang suka saya baca. Saat itu, tulisannya kerap muncul di harian Serambi Indonesia Banda Aceh dan Waspada Medan.

Syukurnya, kedua penulis ini berkenan memenuhi undangan saya ke Padang Panjang. Mereka bertemu di Graha Serambi Mekkah, mendiskusi novel saya yang dihadiri lebih dari 400 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen se-Sumatra Barat.

Kali ini, saya datang ke Pesantren Serambi Mekkah memenuhi undangan SMP Uswatun Hasanah yang menggelar Temu Penulis dan Workshop Kepenulisan Kreatif. Saya bertemu santri SMP dan SMA Uswatun Hasanah yang duduk di aula besar, tekun menyimak materi yang saya sampaikan tentang pentingnya membaca dan menulis.

Tidak hanya teori, saya juga mengarahkan para santri untuk langsung menulis. Tulisan mereka saya baca, saya pilih, lalu beberapa yang terbaik saya minta penulisnya maju ke depan untuk membacakannya di hadapan teman-teman. Ternyata karya mereka menarik, ditulis dengan baik, bahkan beberapa di antaranya sangat menyentuh.

Saya membayangkan, suatu hari kelak, dari pesantren ini akan lahir banyak penulis. Semangat literasi terus ditumbuhkan oleh ustaz dan ustazah, guru-guru mereka. Melibatkan praktisi dan penulis profesional di luar madrasah adalah salah satu cara membangun motivasi, semangat, dan tekad untuk mewujudkan cita-cita itu.

Merujuk sejarah, menulis adalah tradisi ulama. Para ulama terdahulu bukan hanya piawai berdakwah di mimbar, mereka juga menulis. Meninggalkan jejak pemikiran yang bisa dibaca hingga kini.

Di Sumatra Barat, salah satunya adalah Buya Hamka. Hamka seorang ulama, sastrawan, dan pemikir. Lewat karya-karyanya, ia hidup kembali. Banyak buku ia tulis, seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Terusir”, “Merantau ke Deli”, dan tentu saja Tafsir Al-Azhar yang masyhur itu.

Fisiknya memang telah tiada, namun kata-katanya tetap berbicara. Melintasi zaman, menyapa generasi baru, dan menginspirasi jiwa-jiwa muda.

Selain Hamka, ada pula ulama-ulama Minang lainnya. Sebutlah HAKA (Haji Abdul Karim Amrullah), ayah Buya Hamka. Ada Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Zainuddin Labai el-Yunusiyyah, Mohammad Natsir, dan banyak lainnya. Mereka semua berdakwah dengan pena, dengan tulisan.

Tulisan mereka menembus batas. Menolak dilupakan waktu. Mereka telah tiada, tetapi pemikirannya tetap ada.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Seorang penulis, meski raganya tiada, akan terus hidup di hati pembacanya.

Kini kita hidup di era digital. Semua orang bisa menulis, namun tidak semua mau. Teknologi memberi kemudahan, tetapi kemudahan itu sering disia-siakan.

Generasi muda, terutama santri, harus melanjutkan tradisi menulis. Bukan hanya untuk eksistensi, tetapi juga untuk kontribusi. Untuk perenungan, untuk peradaban. Untuk mendukung sukses di kemudian hari.

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis juga menyentuh aspek kesehatan psikologis. Ia bisa menjadi terapi jiwa, menyalurkan emosi, mengurai benang kusut pikiran, bahkan memperbaiki suasana hati.

Dalam aspek ekonomi, menulis bisa menjadi profesi: penulis buku, jurnalis, kreator konten, penulis naskah, penerjemah, dan lain-lain. Semua bermula dari kata yang ditulis dengan kesungguhan.

Dalam dakwah, menulis memiliki jangkauan luas. Lebih luas dari suara di masjid. Lebih tahan lama dari ceramah lisan. Tulisan bisa dibaca siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Lembaga pendidikan memang perlu memberi ruang untuk menulis. Namun, ruang itu bukan sekadar tugas sekolah, melainkan proses pengembangan diri. Sanggar menulis perlu dibentuk, didampingi, dan diberi ruang untuk tumbuh.

Sanggar-sanggar menulis di sekolah akan menjadi tempat belajar paling asyik bagi siswa yang menyukai literasi.

Dalam prosesnya, menulis tak bisa diburu. Ia harus dibiasakan, setiap hari. Sedikit demi sedikit. Seperti mengasah pisau: bila berhenti, ia tumpul; bila konsisten, ia tajam.

Menulis menuntut disiplin. Menuntut kerendahan hati untuk belajar. Menuntut ketekunan yang tak kenal lelah.

Menulis juga membangun peradaban. Lihatlah bangsa-bangsa besar, semua menyimpan peradabannya dalam tulisan: lewat buku, naskah, hingga dokumen sejarah.

Kita tidak ingin hanya menjadi bangsa pembaca. Kita juga harus menjadi bangsa penulis. Penulis yang menulis bukan sekadar karena tugas, tetapi karena kesadaran bahwa menulis adalah ibadah.

Maka, jangan tunggu sempurna. Tulis saja. Apa pun yang ingin ditulis. Sebab, kata-kata yang kita tulis hari ini bisa jadi penyelamat seseorang di masa depan.

Mungkin tulisan kita sederhana, tetapi bisa mengubah arah hidup seseorang. Mungkin kita hanya menulis puisi, namun bisa menyentuh jiwa yang patah. Mungkin kita hanya menulis catatan Ramadan, tetapi bisa menjadi cermin perjalanan iman.

Menulis itu menanam. Hari ini kita tanam huruf demi huruf. Besok, mungkin tumbuh doa-doa dalam bentuk buku. Dan kelak, kita akan dikenang. Bukan karena apa yang kita punya, tetapi karena apa yang telah kita tulis.

Ya, jika ingin dikenang, menulislah. Jika ingin berdakwah tanpa batas, menulislah. Jika ingin menolong jiwa sendiri dan jiwa orang lain, menulislah.

Dan, jika hari ini terasa hampa, menulislah. Sebab, dari kehampaan itu, lahir suara paling jujur dari hati kita.

Jadi, tulis, tulis, tulis, lalu bagikan. Terbitkan. Biarkan tulisan-tulisan itu menemukan nasibnya sendiri—nasib baik, tentunya. Mudah-mudahan pula mendatangkan segala kebaikan kepada penulisnya. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM