Oleh Muhammad Subhan
ADA kekeliruan mendasar ketika menulis dianggap hanya sebuah “kesempatan”, bukan pondasi yang tak terpisahkan dari membaca. Cara pandang semacam ini justru memperdalam akar persoalan literasi yang selama ini digaungkan oleh banyak orang.

Sejarah panjang peradaban menunjukkan bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Membaca memperluas wawasan, menulis mengikat pengetahuan agar tak lenyap.
Membaca tanpa menulis hanya menjadikan literasi sebagai konsumsi, sementara menulis tanpa membaca akan melahirkan kekosongan isi.
Jika komunitas baca berhenti pada aktivitas membaca semata, ia hanya akan mencetak pembaca pasif, bukan pembelajar kritis yang mampu memberi kontribusi nyata. Jika menulis semata sebuah “kesempatan”, maka kesempatan paling lebar itu sejatinya harus ada di komunitas baca.
Di Indonesia, kenyataan pahit sudah terbentang di depan mata. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang dipublikasikan pada 2023—menempatkan kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia di peringkat bawah, jauh tertinggal dari banyak negara lain. Survei lain, termasuk studi UNESCO dan Bank Dunia, berulang kali menegaskan rendahnya kemampuan dasar literasi kita.
Masalah ini bukan hanya rendahnya minat membaca, tetapi lebih mendasar: lemahnya keterampilan menalar, menganalisis, dan menuliskan kembali gagasan.
Dengan kata lain, masalah literasi kita bukan sekadar soal buku jarang dibaca, melainkan juga “keterampilan menulis” yang tak terbangun sejak dini.
Di sinilah peran komunitas baca menjadi krusial. Taman bacaan dan ruang-ruang literasi akar rumput tidak cukup hanya menyediakan buku, bilik baca, dan permainan edukatif. Mereka harus menguatkan pondasi literasi yang mencakup empat kecakapan dasar: membaca, menulis, berhitung, dan literasi digital—sesuai dengan kondisi kekinian.
Tanpa menulis, literasi pincang. Tanpa menulis, membaca kehilangan jejak. Tanpa menulis, literasi hanya jadi rutinitas konsumtif, bukan transformasi yang melahirkan daya pikir kritis.
Banyak yang berargumen bahwa tidak semua orang harus menjadi penulis. Tentu benar. Namun, pernyataan itu sering dijadikan alasan untuk mengabaikan pentingnya melatih keterampilan menulis di komunitas baca.
Padahal, menulis di sini tidak harus berujung pada profesi “penulis buku”, atau seseorang yang telah bekerja di sektor lain harus beralih menjadi penulis. Tidak.
Menulis adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan siapa pun: siswa yang mengerjakan tugas sekolah, warga yang membuat laporan, pekerja yang menulis surat, hingga penggerak komunitas baca yang mendokumentasikan aktivitas mereka.
Dengan menulis, anak-anak di komunitas baca bisa melatih logika berpikir dan keberanian menyuarakan gagasan. Orang dewasa bisa mendokumentasikan pengalaman hidup, refleksi, atau pengetahuan lokal.
Dari tulisan-tulisan paling sederhana itulah lahir produk-produk literasi: buletin komunitas, catatan harian, arsip cerita rakyat, bahkan konten digital berbasis teks.
Produk literasi apa pun bentuknya yang dihadirkan di komunitas baca berbeda dengan produk dagang di pasaran. Ia bukan sekadar barang jual beli, melainkan karya yang memiliki narasi, merekam denyut kehidupan masyarakat.
Tanpa tulisan, produk literasi kehilangan dasar naratifnya. Tanpa narasi yang melekat pada produk literasi yang dilahirkan komunitas baca, ia tak ubahnya barang dagangan yang bisa ditemukan di mana saja.
Lebih jauh lagi, menulis memberi kekuatan untuk melawan lupa. Di tengah derasnya arus digital, narasi-narasi yang muncul di komunitas baca bisa menjadi dokumentasi sejarah bagi komunitas itu sendiri.
Anak-anak yang menulis tentang pengalaman membaca akan tumbuh dengan kesadaran bahwa buku bukan sekadar objek, melainkan sumber transformasi diri.
Sementara itu, catatan pegiat literasi bisa menjadi testimoni betapa berat menjaga komunitas baca, dan kelak bisa menjadi inspirasi bagi gerakan literasi yang lebih luas.
Menulis adalah pondasi yang tak bisa ditawar. Benar bahwa tidak semua orang akan menjadi penulis profesional, tetapi setiap orang perlu menguasai keterampilan menulis sebagai bekal dasar.
Komunitas baca justru menjadi “laboratorium terbaik” untuk melatihnya, karena di sanalah membaca dan menulis bisa berpadu dalam suasana yang egaliter dan penuh kebersamaan.
Maka, penguatan komunitas baca ke depan harus berani melampaui sekadar membuka akses baca. Ia harus menghadirkan program menulis kreatif, menerbitkan buletin kegiatan, penulisan buku, peluncuran, dan diskusi buku.
Prinsipnya, tetap bukan untuk menjadikan semua pengelola komunitas penulis buku, melainkan untuk menegakkan prinsip literasi: siapa pun yang membaca, sejatinya juga bisa menulis. Syukur-syukur satu dua ada yang benar-benar menjadi penulis.
Komunitas baca yang hanya berhenti pada aktivitas membaca—atau bahkan kegiatan lain yang tidak menumbuhkan keterampilan menulis—akan berhadapan dengan jalan buntu. Sebaliknya, komunitas baca yang membuka ruang latihan menulis, sesederhana apa pun bentuknya, akan menumbuhkan pembaca yang kritis, penulis yang jujur, sekaligus masyarakat yang lebih sadar akan dirinya dan lingkungannya.
Inilah hakikat sejati literasi: membebaskan manusia dari belenggu keterkungkungan dan kejumudan, bukan hanya dengan menghidupi bacaan, melainkan juga dengan melahirkan tulisan serta menafsirkan kembali kehidupan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









