Oleh Muhammad Subhan
PENYAIR yang puisi-puisinya kuat membawa pesan-pesan kehidupan, terutama alam yang terhubung kepada keilahian, adalah Taufiq Ismail. Saya beruntung hingga kini masih sangat dekat dengan sang penyair, khususnya saat diberi amanah mengurus Rumah Puisi Taufiq Ismail (2009—2012) yang saat ini telah bertransformasi menjadi Museum Sastra Indonesia.

Sewaktu di Rumah Puisi, saya kerap mengulang membaca tiga puisi karya Taufiq Ismail, terutama pada saat bencana alam terjadi. Ketiga puisi itu masing-masing berjudul: “Membaca Tanda-Tanda”, “Syair Orang Lapar”, dan “Alamat Tak Dikenal”.
Puisi “Membaca Tanda-Tanda” dapat ditemukan dalam buku Puisi-Puisi Langit (1990), “Syair Orang Lapar” termuat dalam buku Tirani dan Benteng (1993), dan “Alamat Tak Dikenal” diterbitkan majalah sastra Horison (Mei 1967).
Saat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor (galodo) melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia sejak November—Desember 2025, saya kembali teringat pada tiga puisi tersebut, meski puisi-puisi lain bertema alam tak sedikit ditulis Taufiq Ismail.
Mari kita simak puisi “Membaca Tanda-Tanda”.
MEMBACA TANDA-TANDA
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya
Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam didesak asam arang
dan karbon dioksida itu menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya.
1982
Puisi “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail ini merupakan permenungan mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan yang kian renggang. Sejak bait awal, penyair menghadirkan rasa kehilangan yang samar namun nyata: “ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan.”
Ungkapan itu tidak langsung menunjuk pada objek tertentu, dan justru di situlah letak kekuatannya. Kehilangan tersebut bersifat abstrak: bisa berupa nilai, keseimbangan, atau kearifan yang perlahan meluncur pergi tanpa mampu digenggam manusia.
Taufiq Ismail membawa pembaca pada lanskap kerusakan ekologis. Inilah poin pentingnya. Udara yang mengabu-abu, danau yang surut, burung-burung yang tak lagi berkicau, hingga hutan yang kehilangan ranting, daun, dan dahan, membentuk rantai sebab-akibat yang puitis sekaligus getir.
Repetisi kata “kehilangan” menegaskan bahwa kerusakan alam bukan peristiwa tunggal, melainkan proses sistemik yang saling berkaitan. Ketika satu unsur rusak, unsur lainnya pun ikut rusak.
Puisi ini juga kuat menggambarkan bencana sebagai rangkaian peristiwa yang berkelindan: gunung membawa abu, abu membawa batu, hingga banjir air mata. Di sini, bencana alam tidak sekadar fenomena geologis, tetapi menjadi simbol penderitaan manusia akibat kelalaiannya sendiri.
Sains dan iman dipertemukan ketika zat asam, karbon dioksida, gempa, dan banjir berujung pada doa dan pengakuan dosa kepada Tuhan.
Bagian doa dalam puisi ini menjadi titik balik reflektif. Manusia mengakui bahwa mereka telah “membaca” bencana. Namun, membaca belum tentu memahami maknanya. Pertanyaan “Bisakah kita membaca tanda-tanda?” adalah gugatan moral: apakah manusia hanya menjadi saksi kerusakan, atau mampu mengambil hikmah dan berubah?
“Membaca Tanda-Tanda” adalah puisi peringatan. Ia mengajak pembaca kembali peka. Tidak hanya melihat gejala alam, tetapi juga membaca pesan etis dan spiritual di baliknya. Kehilangan yang dirindukan itu mungkin adalah keseimbangan, kesadaran, dan kearifan yang semestinya dijaga bersama.
Jangan sampai manusia menjadi “pekak”: tak peduli pada kerusakan alam, sementara mereka menggantungkan hidup di alam itu sendiri.
Kita renungkan pula puisi “Syair Orang Lapar” berikut.
SYAIR ORANG LAPAR
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kau ulang jua
Kalau
1964
Puisi ini bernada getir. Taufiq Ismail memotret kemiskinan, kelaparan, dan ketimpangan nurani yang terus berulang dalam sejarah bangsa. Dengan larik-larik pendek, padat, dan terkesan terpotong, ia menghadirkan rasa lapar bukan hanya sebagai kondisi fisik, melainkan tragedi sosial dan moral yang sistemik.
Sejak bait pertama, “Lapar menyerang desaku”, puisi ini bersuara dari pinggiran. Desa menjadi ruang penderitaan yang berkelindan, sementara kemarau digambarkan memanggang kentang, ranah, bahkan mayat. Citra “dipanggang kemarau” berulang sebagai metafora kekerasan alam yang berpadu dengan kelalaian manusia. Kemarau bukan sekadar musim, melainkan simbol kekeringan empati dan kebijakan.
Surat orang kampung yang “kuguratkan kertas” menandakan jeritan yang hendak disampaikan, tetapi terasa rapuh dan terancam tak sampai. Kata “Risau” berdiri sendiri sebagai jeda emosional; diam yang sarat kecemasan.
Pada bait berikutnya, kritik sosial semakin tajam: “Lapar lautan pidato”. Taufiq Ismail menyindir retorika para pemimpin yang melimpah setiap kali terjadi bencana, tetapi miskin solusi. Pidato bejibun seperti lautan, sementara rakyat “berduyun mengemis”.
Puisi ini mencapai puncak tragedi pada penyebutan Gunungkidul, wilayah yang pada masa puisi ini ditulis pernah dilanda kelaparan. “Mayat dipanggang kemarau” adalah citraan ekstrem yang mengguncang, mengingatkan bahwa kelaparan bukan sekadar angka statistik, melainkan kematian nyata.
Frasa “Kau ulang jua” menegaskan bahwa tragedi ini bukan sekali terjadi, melainkan terus diulang oleh kelalaian yang sama. Kata penutup yang terputus; “Kalau”, membiarkan puisi menggantung, seolah penyair menyerahkan kelanjutannya kepada pembaca. “Kalau kita peduli”, “kalau kita berubah”, “kalau kita mau mendengar”.
“Syair Orang Lapar” bukan sekadar puisi protes, melainkan cermin nurani yang memaksa kita menatap “wajah lapar” bangsa ini, dan bertanya: sampai kapan tragedi ini dibiarkan berulang?
Dan, “lapar” yang dimaksud bukan semata soal “makanan” pengisi perut. Ia dapat ditafsirkan lebih luas: lapar pekerjaan, lapar kesejahteraan, lapar pendidikan, lapar keadilan, lapar perhatian, lapar keberpihakan, lapar empati, bahkan lapar harapan—sebuah kondisi ketika kebutuhan dasar manusia, lahir maupun batin, dibiarkan kosong dan terus-menerus ditangguhkan.
Puisi ketiga berjudul “Alamat Tak Dikenal”. Mari kita simak lagi.
ALAMAT TAK DIKENAL
Setiap kami tuliskan pesan untukmu
Kami selalu bertanya-tanya
Adakah ia pernah kauterima
Hari ini koran pun memuat iklan-iklan duka cita
Seperti bulan yang lalu dalam bayang abu jelaga
Tahun depan begitu pula, siapa bisa tahu
Robekan penanggalan yang selalu bencana
Randu hutan tak lagi termangu, tapi gundul merunduk
Menahan beban musim sepanjang sejarah
Dan tanah kita adalah bumi semakin melapuk
Gunung api dan gelombang tak kenal istirah
Abjad kehidupan, terlalu keraskah untuk kaueja
Bila sepanjang gang dan di mana-mana orang pada antre
Menadah untuk kutuk apa lagi yang akan menimpa
Sebuah bisik makin tenggelam dalam riuh arena
Ranah mana lagi hilang dari muka bumi
Air bah berpacu mengatasi nyala gunung api
Sementara dunia berjamu dalam pesta ibu kota
Beribu balon mengapung menuju mega
Setiap kali kami tuliskan pesan untukmu
Pada iklan duka kantor pekabaran itu juga
Kami bertanya-tanya selalu
Adakah ia pernah kauterima
1963
Puisi yang telah berusia lebih dari enam dekade ini tetap relevan dibaca dalam konteks kekinian. Puisi ini menghadirkan kegelisahan kolektif manusia yang merasa pesannya tak pernah sampai kepada alamat yang dituju.
Sejak bait awal, penyair menegaskan situasi komunikasi yang terputus: pesan ditulis berulang-ulang, tetapi selalu disertai keraguan apakah pesan itu pernah diterima. “Kau” dibiarkan ambigu: bisa Tuhan, penguasa, nurani manusia, atau bahkan masa depan itu sendiri.
Koran dan iklan duka cita menjadi simbol keseharian yang akrab dengan bencana. Robekan penanggalan yang “selalu bencana” menandakan malapetaka telah menjadi rutinitas, bukan lagi peristiwa luar biasa. Media menjadi arsip kesedihan yang terus diperbarui.
Kerusakan alam digambarkan dengan citraan muram dan kuat. Hutan gundul, tanah melapuk, gunung api dan gelombang yang “tak kenal istirah” memperlihatkan alam sebagai ruang yang lelah menanggung beban sejarah manusia. Bencana menjadi bahasa alam yang keras, abjad kehidupan yang sulit dieja oleh manusia yang lalai.
Ironi mencapai puncaknya ketika penderitaan di berbagai ranah berhadapan dengan “pesta ibu kota”. Balon-balon yang mengapung ke langit seperti pesta kembang api menyambut pergantian tahun berkontras dengan air bah, tanah longsor, dan nyala gunung api. Dunia seolah terbelah. Satu sisi tenggelam dalam bencana, sisi lain larut dalam perayaan.
Penutup puisi kembali pada pertanyaan semula: adakah pesan itu pernah diterima?
Pertanyaan ini dibiarkan tanpa jawaban.
“Alamat Tak Dikenal” adalah puisi tentang keterasingan, ketidakpedulian, dan kegagalan manusia mendengar tanda-tanda. Mungkin bukan alamatnya yang salah, melainkan cara kita mengirim dan membaca pesan kehidupan itu sendiri.
Membaca tiga puisi Taufiq Ismail ini seperti membaca ulang tabiat alam sekaligus tabiat manusia. Alam tidak pernah bicara tanpa sebab; ia memberi tanda, isyarat, dan peringatan. Namun, manusialah yang kerap gagal membaca, atau sengaja menutup mata.
Melalui “Membaca Tanda-Tanda”, “Syair Orang Lapar”, dan “Alamat Tak Dikenal”, Taufiq Ismail mengingatkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan cermin simbolik hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. Puisi-puisi ini mengajak kita berhenti sejenak, merenung, dan bertanya dengan jujur: sudahkah kita cukup arif membaca tanda-tanda sebelum semuanya benar-benar terlepas dari genggaman? []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Foto: Sastrawan Indonesia, Taufiq Ismail, bersama penulis (Muhammad Subhan) dalam sebuah kegiatan sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Aia Angek, Sumatera Barat. (Foto: Dok. IST.)









