Oleh Muhammad Subhan
KUMANIS pernah saya singgahi sekitar tahun 2003, ketika masih kuliah di Padang. Kala itu, dosen saya, Pak Maspuri—“urang sumando” Kumanis—mengajak saya berkunjung ke nagari yang rancak itu.

Kumanis berada di Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, dikelilingi lanskap alam yang asri: ladang-ladang karet yang subur, perbukitan hijau yang menyatu dengan belantara luas.
Saya masih ingat betul udara segar yang menyusup ke dada, kabut yang merayap di pucuk-pucuk pohon, serta keramahan orang-orang kampung yang menyambut dengan senyum hangat.
Dua puluh dua tahun berselang, tepatnya Sabtu, 27 September 2025, saya kembali menjejakkan kaki di Kumanis. Waktu seolah berlari begitu cepat, dan banyak hal telah berubah dalam perjalanan hidup saya.
Namun, Kumanis tetaplah Kumanis: tenang, indah, dan sarat dengan banyak cerita.
Bedanya, kali ini saya tidak lagi datang sebagai seorang mahasiswa yang dibawa dosen ke kampung itu, melainkan memenuhi undangan Rumah Edukasi Kumanis untuk mengisi workshop penulisan fiksi.
Workshop itu diikuti pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Kegiatan dipandu Nilam Cayo, penulis novel “best seller” di platform digital.
Nilam sangat produktif menulis. Ia sudah mendapat banyak cuan dari tulisannya. Nama lengkap Nilam adalah Desi Kirana, sementara Nilam Cayo adalah nama penanya.
Penulis memang suka memakai nama pena. Dulu, di awal menulis, saya juga pernah pakai nama pena. Tapi tak lama. Setelah itu saya kembali ke nama asli saya.
Dan, di workshop itu, saya melihat antusiasme peserta yang luar biasa. Mereka datang tidak hanya dari Sijunjung, melainkan juga dari Bukittinggi, Solok, Sawahlunto, Padang, Padang Panjang, dan daerah lainnya. Semangat itu menunjukkan bahwa literasi mampu menyatukan orang dari berbagai penjuru.
Rumah Edukasi Kumanis yang dipimpin Rizal Afdal menjadi salah satu komunitas baca yang cukup aktif di nagari ini. Tahun ini, mereka mendapat dana hibah dari pemerintah bersama beberapa komunitas literasi lain di Sumatera Barat, sehingga bisa menyelenggarakan sejumlah kegiatan.
Bagi saya, itulah bukti bahwa gairah literasi tidak hanya hidup di kota-kota besar, melainkan juga tumbuh subur di kampung yang jauh dari keramaian.
Selepas workshop, Rizal mengajak saya melihat perpustakaan mereka. Meski berada di sebuah bangunan sederhana, suasananya terasa nyaman: ada satu ruangan lapang yang bisa dipakai berdiskusi, serta sebuah sudut perpustakaan dengan koleksi buku yang tertata. Di sana, saya menitipkan buku kumpulan cerpen saya “Bensin di Kepala Bapak” sebagai kenang-kenangan.
Di Kumanis, sehari sebelumnya saya bermalam di sebuah rumah warga. “Belum ada homestay, harap maklum,” ujar Nilam Cayo dan Rizal beberapa hari sebelum saya datang ke Kumanis via pesan WhatsApp.
Tentu, itu tak jadi soal bagi saya. Sangat saya maklumi, sebab saya terbiasa merebahkan lelah di mana saja dalam tugas-tugas lapangan, tidak harus di hotel atau homestay. Yang penting bisa lelap tidur. Memang, malam itu saya nyenyak sekali tidur.
Di sela-sela kegiatan, dalam perbincangan hangat bersama Rizal, saya diajak menelusuri cerita-cerita sejarah yang konon melekat di Kumanis. Salah satunya kisah Adityawarman, raja yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Pagaruyung. Setelah dinobatkan sebagai raja, Adityawarman meninggalkan Dharmasraya dan menuju pedalaman Minangkabau. Sampailah ia di Kumanis, diterima dengan baik oleh penduduk, dan bahkan menikah dengan Putri Pinang Masak dari Sumpur Kudus. Dari pernikahan itu lahir keturunan yang kelak dikenal dengan gelar Rajo Ibadat.
Namun, ada kisah sedih. Anak Adityawarman dimangsa buaya putih. Raja murka. Bersama pengawalnya ia memburu buaya itu dan berhasil menemukannya lalu dibunuh. Sementara pengawal anak raja yang lalai dalam penjagaannya dieksekusi dengan cara dikubur hidup-hidup.
Konon, peristiwa itu menjadi bagian dari tambo Minangkabau, sering diceritakan orang-orang tua “saisuak” kepada anak-anak mereka menjelang tidur.
Makam anak raja itu hingga kini disebut sebagai Makam Anak Rajo, salah satu situs yang menyimpan potensi wisata sejarah di Kumanis.
Kisah itu terdengar agak seperti dongeng, memang, tetapi makam itu ada, dan tentu menjadi legenda yang menarik banyak pihak untuk terus menelusuri dan menziarahinya.
Selain Makam Anak Rajo, Kumanis juga memiliki situs lain yang menarik, seperti Menhir Umbacang Palo Baruak yang dipercaya sebagai makam Inyiak Cumano, pemimpin pertama Kumanis. Ada area camping di tepi Batang Sinamar yang menawarkan keindahan sungai dan petualangan menuju Air Terjun Lubuk Bunta, serta perkebunan karet yang menyimpan air terjun dua tingkat.
Potensi wisata alam dan sejarah itu menjadi daya tarik dan nilai jual bagi Kumanis.
Sejujurnya, saya ingin berlama-lama di Kumanis, memungut segala cerita dan menyelami keindahan alamnya. Tapi sore sesudah kegiatan, saya pamit, sebab harus ke Dharmasraya. Malam itu saya menginap di sebuah penginapan di Pulau Punjung.
Di Dharmasraya, saya memenuhi undangan Rumah Baca Marenda yang dipimpin Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., yang juga Wakil Rektor I Universitas Dharmas Indonesia (Undhari). Mereka juga menggelar workshop penulisan kreatif yang diikuti pelajar, mahasiswa, dan guru.
Sebagian besar peserta adalah mahasiswa Undhari, kampus yang bangunannya didominasi warna pink dan rancak. Saya terkesan melihat semangat para mahasiswa itu, yang begitu terbuka terhadap ide-ide baru dalam menulis.
Seusai kegiatan, saya menitipkan buku cerpen saya “Jalan Sunyi Paling Duri” untuk koleksi perpustakaan Rumah Baca Marenda.
Dr. Amar Salahuddin juga mengajak saya menikmati makan siang di sebuah lepau tak jauh dari kampus Undhari. Hidangannya khas: dendeng lambok dan gulai tunjang yang sedap. Selera saya seketika terbuka.
Sore itu, saya pulang ke Padang Panjang melewati Solok dan Danau Singkarak. Esok paginya, saya dijadwalkan memberikan workshop penulisan kreatif di Pesantren Terpadu Serambi Makkah. Pesertanya pelajar SMP dan SMA pesantren itu bersama seluruh guru.
Bagi saya, perjalanan ke Kumanis dan Dharmasraya kali ini bukan sekadar menghadiri workshop atau berbagi pengalaman menulis. Ia seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan esok.
Kumanis yang saya kunjungi 22 tahun lalu tetap menyimpan pesona, tetapi kini ditambah dengan denyut baru dari gerakan literasi yang bertumbuh.
Literasi, dalam arti yang paling dalam, adalah upaya menyambung ingatan. Ia bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membaca masa lalu, membaca alam, membaca manusia, dan kemudian menuliskannya kembali sebagai warisan untuk generasi berikutnya.
Itulah sejumlah kesan yang saya temukan di Kumanis dan Dharmasraya. Dan, suatu hari nanti, saya ingin datang lagi, tentu untuk memungut cerita-cerita lain yang dapat saya tulis dan bagikan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis Elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









