Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Maek dalam Puisi, Maek dalam Ingatan

badge-check


					Maek dalam Puisi, Maek dalam Ingatan Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

SEHARIAN kemarin saya bersama penyair sekaligus sutradara teater Sulaiman Juned memenuhi undangan Komunitas INTRO, Payakumbuh, yang meluncurkan dan mendiskusikan buku puisi terbaru penyair Iyut Fitra. Buku itu berjudul “Maek”. Peluncuran berlangsung sederhana, tetapi hangat, dengan diskusi yang mengalir dan hadirin yang datang bukan hanya sebagai pembaca, melainkan juga sebagai bagian dari lanskap kebudayaan yang sedang dibicarakan.

Maek adalah sebuah nagari di kaki Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, yang dikenal sebagai “Negeri Seribu Menhir”, meski konon jumlah menhir di sana lebih dari seribu. Julukan itu bukan sekadar penanda eksotisme, melainkan pengakuan atas kekayaan peninggalan megalitik prasejarah berupa ribuan batu tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah ribuan tahun silam.

Selain menhir, Maek juga memiliki situs budaya unik seperti Bukit Posuak, sebuah bukit berlubang besar yang hidup dalam legenda tentang seorang raja yang melempar rusa buruannya hingga menembus bukit. Kisah-kisah seperti itu tumbuh dan berakar dalam ingatan kolektif masyarakat. Warisan budaya Maek terus dilestarikan dan dipromosikan melalui berbagai kegiatan, termasuk Festival Maek, sebagai upaya memperkenalkan sejarah megalitik dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Maek. Beberapa kali keinginan itu muncul, tetapi selalu gagal karena berbenturan dengan kegiatan lain. Karena itulah, ketika Iyut Fitra meluncurkan buku puisi yang seluruh isinya memotret Maek, ketertarikan saya tumbuh. Saya ingin tahu, seperti apa Maek hadir dalam puisi-puisi Iyut Fitra, dan bagaimana nagari itu dihidupkan lewat bahasa sastra.

Dalam sesi bincang karya, buku Maek dibedah oleh dua pembicara, yakni S. Metron M (pelaku seni budaya) dan Ilham Yusardi (sastrawan), dengan moderator Roby Satria (penyair). Keduanya menyigi buku tersebut dari sudut pandang dan keilmuan masing-masing, baik dengan apresiasi maupun kritik yang proporsional. Acara itu juga dihadiri Wali Nagari Maek, tokoh masyarakat setempat, serta sejumlah pemuda Maek, yang membuat diskusi terasa lebih membumi.

Buku Maek tidak tebal. Hanya 62 halaman, berisi 27 puisi. Beberapa buku Iyut sebelumnya juga cenderung ramping. Namun, seperti halnya puisi, ketebalan tidak selalu berbanding lurus dengan daya muat makna. Dalam buku tipis itu, Maek hadir sebagai ruang geografis, ruang sejarah, sekaligus ruang batin.

Sepembacaan saya, puisi-puisi Iyut kerap memotret realitas sosial yang kemudian ia bawa ke wilayah sastra. Puisinya menghadirkan kegelisahan batin, ironi, dan refleksi tentang hidup tanpa banyak retorika. Kesunyian, luka, dan perenungan menjadi ruang utama, menciptakan suasana kontemplatif yang tenang, tetapi sarat emosi.

Iyut Fitra juga memiliki kepekaan kuat terhadap realitas sosial, terutama kehidupan orang-orang kecil, mereka yang tersisih, tertindas, dan terasing dalam absurditas kehidupan modern. Kritik sosial dalam puisinya tidak disampaikan dengan nada lantang, melainkan lewat pengalaman personal yang terasa dekat dan jujur. Puisinya tidak sekadar ingin dikagumi, tetapi mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan merasakan.

Kesan itu saya rasakan sejak membaca puisi pembuka buku ini, “liang waktu” (hal. 15), yang seolah menjadi pintu masuk ke Maek: //senja di sini selalu melengkung/ serupa kuali/ tiap hari bukit posuak menganga. liang waktu/ melihat anak-anak pergi/ meninggalkan gambir, ladang jagung,/ dan mitos/ dari bukit tungkul, sebuah sarasah barasok/ angin digulung desau. lembah berpagut kabut/ kelam berpilin datang//.

Puisi ini menyuguhkan Maek sebagai ruang yang tak hanya fisik, tetapi juga temporal, tempat masa lalu, kini, dan kemungkinan masa depan berkelindan.

Melalui puisi “datanglah ke maek” (hlm. 18), Iyut mengajak siapa pun untuk singgah dan menyelami keindahan nagari itu. Ia menuntun pembaca menyusuri lembah Maek, bergerak ke Aur Duri dengan rumah gadang di kiri dan kanan jalan, singgah di dekat jembatan tempat rumah makan dengan menu yang sedap, lalu berlanjut ke Pasar Ronah, Ampang Gadang, hingga Koto Tinggi. Jalan yang mendaki, batu yang menggigil, dan lanskap nagari yang berlapis kisah dihadirkan bukan hanya sebagai panorama, tetapi sebagai pengalaman batin.

Di sepanjang perjalanan itu, Iyut menyelipkan cerita-cerita yang hidup dalam ingatan kolektif: tentang orang bunian, gasing tengkorak, dan Sigundai. Unsur-unsur ini memberi warna magis sekaligus historis pada Maek. Puisi itu ditutup dengan suasana penyambutan, muda-mudi yang menunggu dengan tarian, seakan nagari itu membuka diri bagi siapa saja yang datang. Seruan “ke Maek, sanak, datanglah ke Maek, ke tempat sejarah akan dipaparkan” terdengar sebagai ajakan yang tulus.

Iyut juga memotret batu-batu megalitik melalui puisi “Menhir (2)” (hlm. 22). Batu-batu tegak dan rebah digambarkan mengarah ke tenggara seperti memberi salam, sementara pandangan ke Gunung Sago terasa dilayangkan, seolah setiap menhir menyimpan kisah silsilah. Batang Maek berdendang, cerita empat tetua mengalir, dan batu-batu itu tak lagi bisu, melainkan menjadi penanda ingatan kolektif ketika “batu-batu tegak maupun rebah, nagari Maek beranjak dibendung sejarah”.

Dalam puisi “rumah tiris” (hlm. 31), Iyut menghadirkan potret Rumah Gadang Rajo Ibadat yang kian rapuh dan membutuhkan perhatian. Rumah gadang tua itu digambarkan kesepian, ditinggalkan waktu dan manusia. Pintu hampir retak, lantai berderit malang, atap menua, jendela terisak iba dengan suara parau. Rumah gadang itu tampil bukan sekadar bangunan, melainkan tubuh yang menua, memikul beban usia dan ingatan. Di buku ini, Iyut bahkan menampilkan visual rumah gadang tersebut dalam bentuk foto—juga beberapa puisi lainnya dilengkapi foto—mempertegas hubungan antara puisi dan realitas.

Sejak lama Maek dikenal sebagai nagari penghasil gambir. Dalam puisi “peladang gambir” (hlm. 35), Iyut memotret keseharian para peladang yang berangkat ke ladang sejak pagi buta, sebelum matahari terbit. Mereka membungkus nasi, membawa jeriken, menyelipkan pisau tuai di pinggang, lalu masuk ke rimba. Puisi ini menangkap ritme hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Puisi tersebut juga merekam harap dan letih yang menyertai musim panen. Saat bulan yang ditunggu tiba, daun-daun dipetik dalam kerja panjang dan melelahkan. Di rumah kampan, penat disandarkan bersama harapan agar segala pinta menjadi nyata. Namun, Iyut juga mencatat ketidakpastian: bulan-bulan yang dinanti kadang berakhir dengan kecewa ketika pokok gambir tak pulang seperti yang diharapkan.

Dalam benak banyak orang, Maek kerap dibayangkan sebagai nagari yang jauh, sulit ditempuh, dan penuh cerita mistis. Anggapan itu dibantah Iyut melalui puisi “jalan ke maek” (hlm. 46). Jalan menuju Maek digambarkan sudah baik dan dapat dilalui truk, truk pikap, serta kendaraan lainnya. Di sini, Iyut memperhadapkan dua sudut pandang: orang luar yang melihat Maek sebagai jalan berhantu, dan orang dalam yang memaknainya sebagai degup rindu.

Bagi orang luar, Maek mungkin hanya lintasan yang menakutkan. Namun, bagi mereka yang tumbuh dan hidup di sana, Maek adalah jalan pulang—ruang kenangan, kedekatan, dan ikatan emosional yang tak tergantikan.

Demikian sedikit pembacaan saya atas buku “Maek” karya Iyut Fitra. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi tentang sebuah nagari, melainkan upaya merawat ingatan, menghadirkan kampung halaman sebagai ruang sejarah, kebudayaan, dan perasaan. Melalui bahasa puisi, Iyut Fitra seakan mengingatkan kita bahwa sebuah tempat tidak hanya hidup dalam peta, tetapi juga dalam kata, ingatan, dan rindu. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM