Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

OPINI

Logika yang Retak di Era Digital

badge-check


					Logika yang Retak di Era Digital Perbesar

Oleh Bgd. Ishak Fahmi

DI TENGAH derasnya arus informasi, media sosial kini menjelma menjadi ruang besar bagi semua orang untuk berbicara, berdebat, dan menilai. Namun di ruang yang terbuka itu pula, kita menyaksikan sebuah gejala sosial yang kian mengkhawatirkan “logical fallacy” , atau sesat pikir cara berpikir yang tampak logis tetapi sesungguhnya menyesatkan.

Fenomena ini tidak sekadar persoalan intelektual, melainkan juga cermin dari krisis etika dan moral yang melanda masyarakat digital.

“Logical fallacy” terjadi ketika seseorang berargumen tanpa dasar logika yang benar. Ia bisa muncul karena ketidaktahuan, bias emosional, atau sekadar keinginan menang dalam perdebatan.

Contoh paling umum adalah “ad hominem”, yakni menyerang pribadi lawan bicara, bukan substansi gagasan. Di media sosial, hal ini mudah ditemukan. Ketika seseorang mengkritik kebijakan publik, tanggapan yang muncul sering kali bukan argumen tandingan, melainkan celaan pribadi “Kamu kan bukan ahli, diam saja!”

Ada pula ” false dilemma “, yakni memaksa orang memilih dua pilihan ekstrem seolah tidak ada alternatif lain. Misalnya, “Kalau tidak mendukung calon ini, berarti kamu musuh rakyat.”

Atau “bandwagon fallacy”, yaitu keyakinan bahwa sesuatu benar karena banyak yang setuju. Dalam dunia digital, kebenaran sering diukur dari jumlah suka, bukan isi.

Sesat pikir seperti ini membuat ruang publik kehilangan rasionalitas. Orang tak lagi berdiskusi untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menguasai percakapan. Debat menjadi ajang unjuk diri, bukan pencarian makna.

Ego Digital dan Lunturnya Akar Moral

Mengapa sesat pikir begitu mudah tumbuh di era digital?

Salah satu sebabnya adalah ego ingin tampak cerdas dan berkuasa. Media sosial memberi panggung bagi semua orang untuk berpendapat, namun tidak menjamin semua pendapat lahir dari nalar sehat. Banyak orang menanggapi bukan untuk memahami, melainkan untuk menegaskan eksistensinya.

Akar terdalam dari krisis pendidikan dan perilaku modern terletak pada hilangnya fondasi moral dalam berpikir dan bertindak.

Sosiolog Polandia Zygmunt Bauman, dalam Liquid Modernity (2000), menggambarkan masyarakat kini sebagai masyarakat cair dunia yang terus berubah, di mana tak ada nilai yang bertahan lama. “Nothing keeps its shape for long,” tulisnya.

Dalam kondisi cair ini, nilai moral tak lagi berakar. Segalanya relatif, mudah bergeser mengikuti arus kepentingan dan tren sesaat. Manusia hidup di tengah banjir informasi, namun kehilangan jangkar nilai yang menuntun nalar dan perilaku.

Bauman menegaskan, modernitas membawa kebebasan, tetapi sekaligus melarutkan makna. Dalam dunia tanpa pijakan tetap, tanggung jawab menjadi ringan, komitmen menjadi rapuh, dan kebenaran menjadi kabur. Tantangan manusia modern, karenanya, bukan sekadar beradaptasi pada perubahan, melainkan menemukan kembali dasar moral di tengah arus yang terus bergolak.

Masyarakat digital hidup dalam kecepatan, bukan perenungan. Ketika logika tunduk pada emosi, dan moral dikesampingkan oleh popularitas, maka yang tersisa hanyalah keramaian tanpa makna.

Pendidikan seharusnya menjadi benteng terakhir logika dan moral. Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Banyak lembaga pendidikan masih menekankan hafalan, bukan analisis menilai berdasarkan angka, bukan nalar.

Padahal di era kecerdasan buatan, kemampuan menghafal dan teknis mudah tergantikan oleh mesin. Yang dibutuhkan justru kemampuan berpikir kritis, beretika, dan kreatif.

Ketika pendidikan berhenti pada aspek teknis, generasi yang lahir pandai berbicara, namun miskin kedalaman berpikir.

Psikolog sosial dan filsuf humanis Jerman, Erich Fromm, dalam karyanya The Sane Society (1955), menulis bahwa manusia modern telah menjadi bagian dari mesin besar yang ia ciptakan sendiri sebuah masyarakat yang mengagungkan efisiensi, tetapi melupakan makna kemanusiaan. “Man,” tulis Fromm, “has become a part of the machine he built; he is transformed into a thing, losing his sense of self and his autonomy.” Manusia, dalam pandangannya, terasing dari dirinya sendiri, dari sesama, dan dari nilai-nilai yang semestinya menuntun hidupnya.

Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif dan teknis sering kali melahirkan manusia yang efisien, tetapi kehilangan orientasi moral. Di sinilah paradoks modernitas kemajuan teknologi dan informasi berjalan begitu cepat, sementara kedalaman berpikir dan kepekaan nurani justru kian menipis.

Generasi hari ini tumbuh di tengah derasnya arus data dan algoritma. Mereka pandai memproduksi wacana, tetapi sering kesulitan memahami makna. Informasi yang melimpah tidak selalu menumbuhkan kebijaksanaan, sebab kecepatan sering menggantikan ketelitian, dan popularitas menenggelamkan kebenaran.

Dalam situasi ini, pendidikan menghadapi tantangan mendasar bagaimana mengembalikan dimensi kemanusiaan di tengah dominasi teknologi. Tujuan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal atau mengoperasikan sistem, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, berempati, dan bertindak dengan hati nurani.

Literasi Rendah, Teknologi Tinggi

Rendahnya literasi menjadi masalah mendasar dalam masyarakat digital.

Ketika kemampuan membaca dan menelaah melemah, masyarakat mudah terperangkap dalam jebakan hoaks, disinformasi, dan sesat pikir. Berita palsu tersebar lebih cepat karena memicu emosi, bukan karena benar.

Algoritma media sosial kemudian memperkuat bias itu membentuk ruang gema tempat setiap orang hanya mendengar apa yang ia ingin dengar.

Ironisnya, teknologi yang mempermudah penyebaran kebohongan juga mampu membongkar kebohongan itu sendiri. Data digital meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Dengan analisis yang tepat, kebenaran bisa ditemukan. Namun di tangan yang salah, data juga bisa dimanipulasi.

Karena itu, literasi digital bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan menafsirkan, menganalisis, dan menilai informasi secara kritis.

Tanpa itu, kejujuran akan kehilangan tempat. Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai menganggap kebohongan sebagai hal biasa mengatasnamakan manusiawi “Siapa sih yang tidak pernah salah?”

Etika, Moral, dan Kebudayaan

Perkembangan teknologi yang cepat membuat kita sering lupa bahwa kemajuan tanpa nilai adalah kehampaan.

Dalam masa transisi menuju masyarakat digital, etika dan moral tidak boleh dibiarkan tercecer.

Kita memerlukan rujukan dari kebudayaan yang mengandung nilai sosial luhur.

Lihatlah Minangkabau, misalnya, dengan falsafah musyawarah mufakat dan gotong royong dua konsep sosial yang menempatkan logika, empati, dan kebersamaan dalam satu tarikan napas.

Musyawarah bukan sekadar rapat mencari keputusan, tetapi cara berpikir yang mengajarkan keseimbangan antara nalar dan hati. Kebenaran tidak lahir dari suara terbanyak, melainkan dari dialog yang jujur dan saling menghormati.

Nilai-nilai seperti inilah yang seharusnya menjadi pondasi kebudayaan digital Indonesia bukan budaya debat kusir yang memburu pembenaran diri.

Sosiolog Indonesia, Prof. Selo Soemardjan, pernah mengingatkan:

“Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan masyarakatnya menjaga nilai-nilai moral di tengah perubahan sosial.”

Pernyataan itu terasa relevan hari ini. Bangsa yang kehilangan moral dan kebudayaan akan mudah disesatkan oleh teknologi yang ia ciptakan sendiri.

Antara Kejujuran dan Manipulasi

Di satu sisi, kemajuan teknologi membawa harapan kebenaran akan semakin mudah terungkap.

Jejak digital sulit dihapus kebohongan akan selalu meninggalkan data yang bisa dianalisis. Dalam jangka panjang, transparansi akan menjadi budaya baru.

Namun di sisi lain, teknologi juga memperkuat kemampuan manipulasi dari foto yang direkayasa, berita palsu, hingga algoritma yang disusun untuk memengaruhi emosi publik.

Di sinilah tantangan etika terbesar manusia modern bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan nurani.

Kejujuran tetap menjadi nilai tertinggi, bahkan di dunia digital.

Dan justru di tengah kemajuan teknologi, kejujuran akan menjadi kekuatan yang langka tetapi paling berharga.

Teknologi boleh menggantikan banyak hal, tapi tidak bisa menggantikan akal budi dan empati manusia.

Pendidikan masa depan harus diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir analitis, berlogika sehat, dan berpegang pada nilai-nilai moral serta spiritual.

Sekolah dan universitas tidak cukup menjadi tempat menyiapkan tenaga kerja, tetapi harus menjadi ruang untuk menumbuhkan manusia yang mampu berpikir jernih dan bertindak etis.

Kita butuh generasi yang tak hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengerti mengapa dan untuk apa teknologi digunakan.

Generasi yang meyakini bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan moral, dan modernitas tidak identik dengan hilangnya nilai kemanusiaan.

“Logical fallacy” hanyalah gejala di permukaan dari krisis yang lebih dalam krisis nalar dan moral.

Ketika logika dikaburkan oleh emosi, dan kejujuran digantikan oleh pembenaran, masyarakat kehilangan arah kompas etisnya.

Namun harapan tetap ada jika spiritualitas ,pendidikan, budaya, dan literasi dijadikan satu kesatuan dalam membentuk manusia yang berakal dan beradab.

Seperti kata Erich Fromm, “Kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk mengikuti dorongan, tetapi kemampuan untuk memilih dengan kesadaran moral.”

Di tengah gelombang teknologi yang tak terbendung, kebebasan sejati manusia justru diukur dari kemampuannya menjaga akal sehat dan kejujuran. []

Logika yang Retak di Era Digital

Oleh Bgd. Ishak Fahmi

DI TENGAH derasnya arus informasi, media sosial kini menjelma menjadi ruang besar bagi semua orang untuk berbicara, berdebat, dan menilai. Namun di ruang yang terbuka itu pula, kita menyaksikan sebuah gejala sosial yang kian mengkhawatirkan “logical fallacy” , atau sesat pikir cara berpikir yang tampak logis tetapi sesungguhnya menyesatkan.

Fenomena ini tidak sekadar persoalan intelektual, melainkan juga cermin dari krisis etika dan moral yang melanda masyarakat digital.

“Logical fallacy” terjadi ketika seseorang berargumen tanpa dasar logika yang benar. Ia bisa muncul karena ketidaktahuan, bias emosional, atau sekadar keinginan menang dalam perdebatan.

Contoh paling umum adalah “ad hominem”, yakni menyerang pribadi lawan bicara, bukan substansi gagasan. Di media sosial, hal ini mudah ditemukan. Ketika seseorang mengkritik kebijakan publik, tanggapan yang muncul sering kali bukan argumen tandingan, melainkan celaan pribadi “Kamu kan bukan ahli, diam saja!”

Ada pula ” false dilemma “, yakni memaksa orang memilih dua pilihan ekstrem seolah tidak ada alternatif lain. Misalnya, “Kalau tidak mendukung calon ini, berarti kamu musuh rakyat.”

Atau “bandwagon fallacy”, yaitu keyakinan bahwa sesuatu benar karena banyak yang setuju. Dalam dunia digital, kebenaran sering diukur dari jumlah suka, bukan isi.

Sesat pikir seperti ini membuat ruang publik kehilangan rasionalitas. Orang tak lagi berdiskusi untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menguasai percakapan. Debat menjadi ajang unjuk diri, bukan pencarian makna.

Ego Digital dan Lunturnya Akar Moral

Mengapa sesat pikir begitu mudah tumbuh di era digital?

Salah satu sebabnya adalah ego ingin tampak cerdas dan berkuasa. Media sosial memberi panggung bagi semua orang untuk berpendapat, namun tidak menjamin semua pendapat lahir dari nalar sehat. Banyak orang menanggapi bukan untuk memahami, melainkan untuk menegaskan eksistensinya.

Akar terdalam dari krisis pendidikan dan perilaku modern terletak pada hilangnya fondasi moral dalam berpikir dan bertindak.

Sosiolog Polandia Zygmunt Bauman, dalam Liquid Modernity (2000), menggambarkan masyarakat kini sebagai masyarakat cair dunia yang terus berubah, di mana tak ada nilai yang bertahan lama. “Nothing keeps its shape for long,” tulisnya.

Dalam kondisi cair ini, nilai moral tak lagi berakar. Segalanya relatif, mudah bergeser mengikuti arus kepentingan dan tren sesaat. Manusia hidup di tengah banjir informasi, namun kehilangan jangkar nilai yang menuntun nalar dan perilaku.

Bauman menegaskan, modernitas membawa kebebasan, tetapi sekaligus melarutkan makna. Dalam dunia tanpa pijakan tetap, tanggung jawab menjadi ringan, komitmen menjadi rapuh, dan kebenaran menjadi kabur. Tantangan manusia modern, karenanya, bukan sekadar beradaptasi pada perubahan, melainkan menemukan kembali dasar moral di tengah arus yang terus bergolak.

Masyarakat digital hidup dalam kecepatan, bukan perenungan. Ketika logika tunduk pada emosi, dan moral dikesampingkan oleh popularitas, maka yang tersisa hanyalah keramaian tanpa makna.

Pendidikan seharusnya menjadi benteng terakhir logika dan moral. Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Banyak lembaga pendidikan masih menekankan hafalan, bukan analisis menilai berdasarkan angka, bukan nalar.

Padahal di era kecerdasan buatan, kemampuan menghafal dan teknis mudah tergantikan oleh mesin. Yang dibutuhkan justru kemampuan berpikir kritis, beretika, dan kreatif.

Ketika pendidikan berhenti pada aspek teknis, generasi yang lahir pandai berbicara, namun miskin kedalaman berpikir.

Psikolog sosial dan filsuf humanis Jerman, Erich Fromm, dalam karyanya The Sane Society (1955), menulis bahwa manusia modern telah menjadi bagian dari mesin besar yang ia ciptakan sendiri sebuah masyarakat yang mengagungkan efisiensi, tetapi melupakan makna kemanusiaan. “Man,” tulis Fromm, “has become a part of the machine he built; he is transformed into a thing, losing his sense of self and his autonomy.” Manusia, dalam pandangannya, terasing dari dirinya sendiri, dari sesama, dan dari nilai-nilai yang semestinya menuntun hidupnya.

Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif dan teknis sering kali melahirkan manusia yang efisien, tetapi kehilangan orientasi moral. Di sinilah paradoks modernitas kemajuan teknologi dan informasi berjalan begitu cepat, sementara kedalaman berpikir dan kepekaan nurani justru kian menipis.

Generasi hari ini tumbuh di tengah derasnya arus data dan algoritma. Mereka pandai memproduksi wacana, tetapi sering kesulitan memahami makna. Informasi yang melimpah tidak selalu menumbuhkan kebijaksanaan, sebab kecepatan sering menggantikan ketelitian, dan popularitas menenggelamkan kebenaran.

Dalam situasi ini, pendidikan menghadapi tantangan mendasar bagaimana mengembalikan dimensi kemanusiaan di tengah dominasi teknologi. Tujuan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal atau mengoperasikan sistem, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, berempati, dan bertindak dengan hati nurani.

Literasi Rendah, Teknologi Tinggi

Rendahnya literasi menjadi masalah mendasar dalam masyarakat digital.

Ketika kemampuan membaca dan menelaah melemah, masyarakat mudah terperangkap dalam jebakan hoaks, disinformasi, dan sesat pikir. Berita palsu tersebar lebih cepat karena memicu emosi, bukan karena benar.

Algoritma media sosial kemudian memperkuat bias itu membentuk ruang gema tempat setiap orang hanya mendengar apa yang ia ingin dengar.

Ironisnya, teknologi yang mempermudah penyebaran kebohongan juga mampu membongkar kebohongan itu sendiri. Data digital meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Dengan analisis yang tepat, kebenaran bisa ditemukan. Namun di tangan yang salah, data juga bisa dimanipulasi.

Karena itu, literasi digital bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan menafsirkan, menganalisis, dan menilai informasi secara kritis.

Tanpa itu, kejujuran akan kehilangan tempat. Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai menganggap kebohongan sebagai hal biasa mengatasnamakan manusiawi “Siapa sih yang tidak pernah salah?”

Etika, Moral, dan Kebudayaan

Perkembangan teknologi yang cepat membuat kita sering lupa bahwa kemajuan tanpa nilai adalah kehampaan.

Dalam masa transisi menuju masyarakat digital, etika dan moral tidak boleh dibiarkan tercecer.

Kita memerlukan rujukan dari kebudayaan yang mengandung nilai sosial luhur.

Lihatlah Minangkabau, misalnya, dengan falsafah musyawarah mufakat dan gotong royong dua konsep sosial yang menempatkan logika, empati, dan kebersamaan dalam satu tarikan napas.

Musyawarah bukan sekadar rapat mencari keputusan, tetapi cara berpikir yang mengajarkan keseimbangan antara nalar dan hati. Kebenaran tidak lahir dari suara terbanyak, melainkan dari dialog yang jujur dan saling menghormati.

Nilai-nilai seperti inilah yang seharusnya menjadi pondasi kebudayaan digital Indonesia bukan budaya debat kusir yang memburu pembenaran diri.

Sosiolog Indonesia, Prof. Selo Soemardjan, pernah mengingatkan:

“Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan masyarakatnya menjaga nilai-nilai moral di tengah perubahan sosial.”

Pernyataan itu terasa relevan hari ini. Bangsa yang kehilangan moral dan kebudayaan akan mudah disesatkan oleh teknologi yang ia ciptakan sendiri.

Antara Kejujuran dan Manipulasi

Di satu sisi, kemajuan teknologi membawa harapan kebenaran akan semakin mudah terungkap.

Jejak digital sulit dihapus kebohongan akan selalu meninggalkan data yang bisa dianalisis. Dalam jangka panjang, transparansi akan menjadi budaya baru.

Namun di sisi lain, teknologi juga memperkuat kemampuan manipulasi dari foto yang direkayasa, berita palsu, hingga algoritma yang disusun untuk memengaruhi emosi publik.

Di sinilah tantangan etika terbesar manusia modern bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan nurani.

Kejujuran tetap menjadi nilai tertinggi, bahkan di dunia digital.

Dan justru di tengah kemajuan teknologi, kejujuran akan menjadi kekuatan yang langka tetapi paling berharga.

Teknologi boleh menggantikan banyak hal, tapi tidak bisa menggantikan akal budi dan empati manusia.

Pendidikan masa depan harus diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir analitis, berlogika sehat, dan berpegang pada nilai-nilai moral serta spiritual.

Sekolah dan universitas tidak cukup menjadi tempat menyiapkan tenaga kerja, tetapi harus menjadi ruang untuk menumbuhkan manusia yang mampu berpikir jernih dan bertindak etis.

Kita butuh generasi yang tak hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengerti mengapa dan untuk apa teknologi digunakan.

Generasi yang meyakini bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan moral, dan modernitas tidak identik dengan hilangnya nilai kemanusiaan.

“Logical fallacy” hanyalah gejala di permukaan dari krisis yang lebih dalam krisis nalar dan moral.

Ketika logika dikaburkan oleh emosi, dan kejujuran digantikan oleh pembenaran, masyarakat kehilangan arah kompas etisnya.

Namun harapan tetap ada jika spiritualitas ,pendidikan, budaya, dan literasi dijadikan satu kesatuan dalam membentuk manusia yang berakal dan beradab.

Seperti kata Erich Fromm, “Kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk mengikuti dorongan, tetapi kemampuan untuk memilih dengan kesadaran moral.”

Di tengah gelombang teknologi yang tak terbendung, kebebasan sejati manusia justru diukur dari kemampuannya menjaga akal sehat dan kejujuran.[]

Bgd. Ishak Fahmi, seniman/budayawan Sumatra Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chaidir Syam, AMTI Maros, Unik dan Eksotis

22 November 2025 - 06:41 WIB

60 Tahun ISI Padang Panjang, Layak Jadi Fasilitator dan Katalisator Pusat Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat

14 November 2025 - 10:22 WIB

Menyaring Kualitas, Menyelamatkan Demokrasi

7 Oktober 2025 - 16:56 WIB

Ketika yang Berkeringat Duduk di Kursi Kekuasaan

3 Oktober 2025 - 19:16 WIB

Meritokrasi dan Moral Hukum Jalan Menuju Integritas

13 September 2025 - 14:32 WIB

Trending di OPINI