Oleh Muhammad Subhan
MENANDAI 80 tahun Indonesia merdeka adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan mengintrospeksi perjalanan literasi bangsa selama dua dekade terakhir.

Sejak awal 2000-an, kecenderungan berkembang dari sekadar akses pendidikan menuju upaya konkret membangun budaya membaca dan menulis, melalui gerakan seperti Indonesia Membaca dan Indonesia Menulis.
Kini, saat kemodernan digital menjadikan informasi begitu mudah digapai, tugas kita justru makin kompleks dan mendesak: tak cukup membebaskan literasi, kita harus menciptakannya secara mendalam, kritis, dan berkelanjutan.
Gerakan Indonesia Membaca dan Indonesia Menulis lahir dari kesadaran bahwa kemampuan dasar literasi—membaca dan menulis—saja tidak cukup. Keduanya memadukan upaya memperluas akses, di antaranya melalui perpustakaan, penyediaan buku, pelatihan guru, hingga komunitas menulis dengan tujuan membentuk kebiasaan kritis dan kreatif.
Banyak gerakan-gerakan literasi yang dilakukan tokoh pegiat maupun tokoh-tokoh yang berada di jantung sistem birokrasi dalam menggerakkan program, menyalakan api literasi di akar pendidikan lokal, baik di kota maupun pelosok. Mereka mendirikan puluhan perpustakaan dan taman bacaan di pelosok, membuka jendela dunia bagi masyarakat, terutama di bagian timur Indonesia.
Gerakan-gerakan itu menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan, melainkan tindakan sosial yang dirancang dengan hati, taktis, dan berkelanjutan.
Secara kuantitatif, capaian kita menunjukkan kemajuan: Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) secara nasional mencapai sekitar 73,52 pada 2024. Ini menandakan bahwa pembangunan literasi telah meningkat. Demikian pula, Indeks Minat Membaca naik dari 66,77 di 2023 menjadi 72,44 pada 2024. Namun, angka-angka positif itu tetap “sedang”, belum tinggi, dan menyisakan ketimpangan antarwilayah.
Di sisi lain, data global menunjukkan tingkat literasi orang tua atau dewasa di Indonesia mencapai sekitar 96 persen pada 2020, bahkan versi Asia Tenggara menyebut sekitar 96,5 persen pada 2023–2024. Namun angka ini menyembunyikan realitas: tingkat minat baca yang rendah, yang UNESCO bahkan menempatkan pada 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu yang benar-benar rajin membaca. Lebih lanjut, survei BPS menyebut hanya sekitar 10 persen penduduk yang rajin membaca buku.
Angka-angka ini mempertegas bahwa literasi dalam arti teknis mungkin cukup bagus, tetapi budaya literasi terutama minat membaca untuk memperkaya wawasan masih lemah.
Era digital membawa tantangan baru: daya konsentrasi manusia sekarang hanya sekitar 40 detik, turun drastis dibandingkan sekitar 3,5 menit satu dekade lalu. Teknologi memudahkan pencarian informasi instan, namun menjadikan pembaca malas menggali lebih dalam dan mempertanyakan keabsahan. Banyak konten yang dibaca sekadar di layar cepat, tanpa refleksi kritis, mengikis esensi literasi sejati.
Gerakan menulis dan membaca ini pun kerap melawan arus klik, viral, dan konten dangkal. Ketika minat baca meningkat, kita harus bertanya: apakah yang dibaca mengasah pikiran kritis atau hanya memberi hiburan sesaat?
Namun, seburuk-buruk keadaan, tentu selalu ada harapan. Kemodernan juga membuka peluang. Generasi muda, yang akrab dengan gawai, dapat dihadirkan sebagai agen literasi digital, terutama melalui media sosial yang bermutu, blog, platform menulis, podcast literasi, atau kanal YouTube reflektif. Penggunaan teknologi juga bisa mengangkat bahasa lokal dan multitextual literacy: bukan hanya bahasa Indonesia atau Inggris, tetapi juga ragam bahasa daerah. Upaya pengembangan teknologi bahasa untuk ratusan bahasa lokal Indonesia adalah peluang besar untuk literasi inklusif dan interkultural.
Ke depan, literasi Indonesia tidak boleh berhenti pada peningkatan angka statistik, melainkan harus diarahkan pada kualitas dan dampak yang lebih nyata. Minat baca mesti ditumbuhkan bukan hanya lewat penyediaan buku, melainkan melalui diskusi yang mengajak refleksi, komunitas-komunitas baca yang mendorong interaksi, serta pelatihan menulis yang membentuk tradisi berpikir kritis. Guru dan komunitas lokal harus didorong untuk menjadi pusat penggerak, sebagaimana yang dilakukan sejumlah tokoh literasi di berbagai daerah, agar gerakan ini terdesentralisasi dan merata.
Teknologi pun perlu dimanfaatkan dengan cerdas, bukan sekadar sebagai wahana distribusi konten cepat, melainkan sarana menghadirkan literasi yang memperkaya. Aplikasi bacaan interaktif, platform digital berbahasa lokal, hingga kanal literasi berbasis budaya bisa menjadi jalan memperluas keterlibatan generasi muda.
Di saat yang sama, penting pula menjadikan literasi sebagai bagian dari kewargaan: kemampuan membaca dan menulis harus bertransformasi menjadi kapasitas demokrasi, daya analisis terhadap hoaks, serta keberanian menyuarakan gagasan secara kritis dan konstruktif.
Dengan cara ini, literasi bukan lagi semata-mata urusan sekolah atau perpustakaan, melainkan napas kehidupan sosial, politik, dan budaya yang membentuk warga negara yang matang.
Tahun ke-80 ini, kita merayakan kemerdekaan yang kini berwajah berbeda: merdeka dari keterbatasan—dalam hal akses, kemampuan, dan keterbukaan berpikir. Gerakan literasi selama dua dekade terakhir, dengan segala pencapaian dan keterbatasannya, menunjukkan bahwa merdeka sesungguhnya tidak cukup dicapai hanya dengan “bisa baca dan tulis”. Ia harus diwujudkan melalui semangat membaca yang kritis, menulis yang reflektif, dan teknologi yang memberdayakan, bukan menumpulkan.
Merdeka dalam arti sejati bagi generasi muda adalah ketika mereka tak sekadar terhubung ke dunia maya, tetapi mampu mencerna, mempertanyakan, dan menyuarakan, dengan kata, ide, dan hati. Maka, merdeka literasi hari ini adalah menyiapkan generasi merdeka masa depan: merdeka berpikir, merdeka berkarya, merdeka mengubah.
Inilah tantangan dan harapan kita di era global yang modern. Dan, semoga hari ini, semangat literasi jadi nyala yang tak padam oleh gemerlap layar gawai di genggaman, tapi melingkupi pemikiran, kreativitas, dan kemanusiaan yang sejati.
Selamat merayakan Hari Kemerdekaan ke-80, Indonesia merdeka dan literasi merdeka. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, dan founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









