Oleh Muhammad Subhan
SAYA beruntung punya masa kecil yang asyik sekali. Asyik, karena tinggal di tengah persawahan yang luas di Tembung, Medan. Saya melihat kehidupan petani dengan segala aktivitasnya, juga melebur dalam alam persawahan: bermain di pematang, memancing belut, menangkap ikan, mencari sarang burung tempoa, dan segala permainan masa kecil lainnya.

Tembung di tahun 1980-an tentu berbeda dengan Tembung di tahun 2025. Di zaman itu, Tembung masih lengang dari pembangunan. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya sawah. Tapi sawah yang saya lihat di masa kecil itu kini sudah berganti dengan gedung-gedung, pertokoan, perumahan, dan jalan-jalan beraspal. Bahkan, ketika saya ke Tembung, saya tak mengingat lagi di mana sawah yang di tengah-tengahnya ada tiga petak rumah sederhana, dan salah satu rumah itu rumah kami yang dibangun ayah dengan peluhnya.
Banyak kisah masa kecil di tengah persawahan Tembung. Sampai kini saya mengenangnya. Ingatan itu pada 2015 saya abadikan dalam novel “Rumah di Tengah Sawah” yang pada tahun 2017 beruntung terpilih sebagai salah satu karya yang lolos kurasi dari 913 karya sastra Indonesia dan saya berkesempatan diundang ke perhelatan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Bali. Pada 2022 novel itu diterbitkan Balai Pustaka.
Namun, di balik romantisme itu, ada satu hal penting yang ingin saya garis bawahi di Hari Tani Nasional yang diperingati setiap tanggal 24 September ini: kita harus berterima kasih kepada petani. Berterima kasih bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan dengan kebijakan yang berpihak, penghormatan yang nyata, dan upaya bersama menjaga sawah agar tetap menjadi nadi kehidupan bangsa.
Mari kita ingat sejenak: setiap butir nasi yang kita kunyah berasal dari tetes keringat petani. Mereka menanam padi di bawah terik matahari, memikul pupuk, memanggul cangkul, hingga memanen padi yang kemudian jadi beras dan tersaji di meja makan kita.
Andai saja para petani menyerah dan meninggalkan sawah, mungkin kita tak lagi bisa menikmati sepiring nasi hangat setiap hari.
Sayangnya, penghargaan kita terhadap petani sering kali hanya sebatas simbolis. Padahal, tanpa mereka, apa jadinya negeri ini? Sawah-sawah yang dulu luas kini semakin menyempit oleh pembangunan perumahan dan industri. Generasi muda enggan melanjutkan profesi petani, karena dianggap kotor, berat, dan tak menjanjikan masa depan.
Nasib petani di Indonesia memang penuh tantangan. Harga gabah kerap tak sebanding dengan biaya produksi. Saat panen raya, harga bisa jatuh, membuat petani rugi. Di sisi lain, harga pupuk melonjak, alat produksi mahal, dan lahan pertanian menyusut.
Belum lagi ketergantungan kita pada impor beras. Ironis rasanya, negeri agraris dengan hamparan sawah dari Sabang sampai Merauke masih harus mendatangkan beras dari negara lain. Padahal, jika kita sungguh-sungguh menjaga sawah, meningkatkan produktivitas, dan mendukung petani dengan teknologi serta kebijakan tepat, Indonesia bisa mandiri dan bahkan menjadi lumbung pangan dunia.
Kita seharusnya belajar dari sejarah. Pada era 1980-an, Indonesia sempat dikenal sebagai negara yang berhasil swasembada beras. Tetapi kini, kita kembali tergantung pada impor.
Apakah itu karena petani malas? Tidak. Petani kita rajin dan tangguh. Masalahnya ada pada sistem yang belum sepenuhnya berpihak kepada mereka.
Di Hari Tani Nasional ini, kita perlu mendesak pemerintah agar benar-benar berpihak kepada petani. Subsidi pupuk harus tepat sasaran, harga gabah harus dijaga agar tidak merugikan petani, dan lahan pertanian produktif harus dilindungi dari alih fungsi.
Jangan biarkan sawah-sawah subur berubah menjadi beton tanpa kendali.
Lebih dari itu, sarjana-sarjana pertanian yang lulus dari perguruan tinggi jangan hanya bekerja di kantor ber-AC atau menjadi birokrat. Mereka harus turun ke desa-desa, mengembangkan sawah modern, mengajarkan petani cara bertani dengan teknologi baru, dan memperkenalkan metode pertanian ramah lingkungan.
Pertanian modern tak berarti meninggalkan kearifan lokal, tetapi menggabungkan tradisi dengan inovasi.
Jika pemerintah serius memperkuat sektor pertanian, kita tak perlu lagi impor beras. Kita bisa menghidupi diri sendiri, bahkan membantu bangsa lain. Inilah yang disebut kedaulatan pangan: bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya dengan hasil tanahnya sendiri.
Satu hal yang perlu diingat: harga beras memang harus terjangkau bagi rakyat, tetapi jangan sampai murahnya harga beras dibayar dengan penderitaan petani. Selama ini, petani kerap jadi pihak paling menderita. Mereka bekerja keras, tetapi keuntungan justru lebih banyak dinikmati tengkulak atau pedagang besar.
Maka, sistem distribusi harus dibenahi, agar kesejahteraan benar-benar sampai ke tangan petani.
Kita juga, sebagai konsumen, harus lebih bijak. Jangan boros nasi, jangan membuang makanan. Menghargai makanan berarti juga menghargai kerja keras petani.
Selain soal pangan, sawah juga menyimpan nilai budaya dan ekologis. Sawah bukan sekadar tempat menanam padi, tetapi ruang hidup yang menjaga keseimbangan alam.
Air irigasi, keanekaragaman hayati, hingga tradisi gotong-royong, semuanya terikat dengan sawah.
Jika sawah hilang, bukan hanya beras yang lenyap, tetapi juga identitas kita sebagai bangsa agraris.
Saya membayangkan, jika anak-anak di masa kini bisa bermain di pematang seperti saya dulu, mereka akan tumbuh dengan ikatan yang kuat terhadap alam dan tanah. Tapi sayangnya, sawah makin jarang, dan anak-anak lebih sering bermain di mal atau dengan gawai.
Hari Tani Nasional bukan sekadar seremonial. Ia adalah momentum untuk merenung: sudahkah kita menghargai petani? Sudahkah kita menjaga sawah? Sudahkah kita mendukung kedaulatan pangan?
Kita berterima kasih kepada petani, karena merekalah yang membuat kita bisa makan setiap hari. Namun, ucapan terima kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata: kebijakan pemerintah yang berpihak, peran sarjana pertanian yang turun ke lapangan, distribusi hasil tani yang adil, dan kesadaran kita sebagai konsumen untuk tidak menyia-nyiakan hasil jerih payah mereka.
Petani bukan sekadar profesi. Petani adalah penyangga peradaban. Tanpa mereka, kita kehilangan lebih dari sekadar nasi di piring; kita kehilangan jati diri sebagai bangsa. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









