Oleh Muhammad Subhan
KISAH relawan kemanusiaan menembus titik tersulit daerah bencana di Sumatra Barat saya peroleh dari Boby Bulolo, seorang konten kreator asal Solok. Ia juga dikenal sebagai pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Darut Thalib, Kota Solok. Perjalanannya sebagai relawan menggugah hati saya.

Sebulan sebelumnya, Ustaz Boby Bulolo—demikian saya akrab menyapanya—mengundang saya ke Solok untuk memberikan pelatihan menulis kreatif kepada puluhan santri asuhannya. Hubungan kami terjalin baik sebagai sesama penulis dan pegiat literasi.
Dan kemarin, saya menghubunginya kembali sekadar menanyakan kabar. Percakapan itu justru membuka kisah perjalanannya mengantar bantuan ke pelosok Kabupaten Pasaman, ke sebuah jorong (setingkat desa atau dusun—pen.) yang kondisinya terisolir pascabencana longsor dan banjir bandang.
Boby bercerita, perjalanannya ke Pasaman bermula dari sebuah unggahan akun Instagram kaba.pasaman. Akun itu membagikan tangkapan layar pesan warga Jorong V Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa banjir bandang telah menerjang permukiman di Jorong V Pertemuan. Air sungai naik tiba-tiba, bercampur gelondongan kayu besar, listrik padam, hujan belum juga berhenti.
“Tolong kami, Min. Mapat Tunggul Selatan juga Pasaman,” tulis warga itu.
Unggahan tersebut dibanjiri komentar warganet. Di antara komentar itu, muncul Boby Bulolo. Didorong rasa prihatin, spontan ia meminta nomor kontak yang bisa dihubungi. Naluri kemanusiaannya bekerja.
Banjir bandang di Jorong V Pertemuan terjadi sejak Selasa, 30 Desember 2025. Debit air Batang Pamali—yang juga dikenal warga sebagai Batang Kampar—meningkat drastis. Arus deras menyeret kayu-kayu besar dari hulu, menghantam apa pun yang dilewati. Rumah-rumah warga memang tidak hancur, tetapi terendam dan beberapa nyaris terban. Yang paling mengkhawatirkan, jorong itu terisolasir. Akses jalan terputus akibat longsor yang berjumlah lebih dari 20 titik. Satu-satunya moda transportasi yang dipakai hanya perahu untuk menembus ke sana. Itu pun medannya tak mudah, mempertaruhkan nyawa.
“Masyarakat di sana memang sudah lama terisolir. Banjir ini membuat semuanya makin sulit. Ekonomi warga lumpuh. Karena itu kami berusaha mengantar sembako semampu kami bisa,” kata Boby.
Bersama kawan-kawannya sesama relawan, Boby segera bergerak. Mereka menghubungi wali nagari setempat dan memastikan kebutuhan paling mendesak: bahan pangan. Bantuan yang dibawa berasal dari donasi kawan-kawannya di Jawa, sebanyak 25 paket sembako dengan berat sekitar 150 kilogram.
Perjalanan dimulai dari Solok pada Kamis, 1 Januari 2026. Mereka bermalam di Lubuk Sikaping. Subuh hari, pukul 05.30 WIB, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Jalan darat menuju Muaro Sungai Lolo diperkirakan hanya memakan waktu 2,5 jam. Kenyataannya jauh dari itu. Mereka harus menempuh lebih dari lima jam perjalanan dengan mobil, melewati jalan sempit, berlumpur, licin, dan rusak di banyak titik.
Hutan lebat mengapit jalan di kiri dan kanan. Pohon-pohon besar menjulang rapat, seolah menutup langit. Di beberapa tempat, tanah longsor masih basah, menyisakan bau lumpur yang menyengat. Medan berat itu menguras tenaga dan kesabaran, sebelum ujian sesungguhnya datang di sungai.
Setibanya di Nagari Muaro Sungai Lolo sekitar pukul 12.30 WIB, rombongan menunaikan salat Jumat. Setelah itu mereka menemui wali nagari. Kepastian kembali ditegaskan: keputusan mengantar sembako ke Jorong V Pertemuan adalah keputusan yang tepat.
Pukul 13.00 WIB, mereka menaiki perahu mesin. Ongkos sewa perahu, kata Boby, seperti membeli tiket penerbangan pesawat Garuda dari Padang ke Jakarta.
Sungai di hadapan mereka tak lagi ramah. Airnya cokelat pekat, penuh batang kayu besar yang hanyut tanpa arah.
Beberapa menit pertama, perahu masih melaju. Namun, tak lama kemudian, arus sungai berubah liar. Air tak lagi sekadar bergelombang, tetapi berputar dan menggelegak, seperti diaduk-aduk tangan raksasa. Dua kali perahu nyaris karam. Mesin meraung keras, melawan arus yang seolah tak ingin memberi jalan.
Syukurlah, pemilik perahu adalah orang yang berpengalaman. Ia lihai membaca arus, menghindari pusaran air, dan menembus celah sempit di antara gelondongan kayu.
Meski demikian, ketegangan tak surut. Di kiri dan kanan sungai, hutan lebat berdiri seperti dinding gelap. Tak ada pemukiman, tak ada suara manusia, hanya deru air dan bunyi kayu beradu.
Sekitar satu jam perjalanan, mereka baru mencapai separuh jarak. Di titik inilah tantangan terbesar datang. Arus sungai tiba-tiba membesar. Pemilik perahu tampak terkejut. Ia mengaku belum pernah menghadapi kondisi seburuk itu. Air sungai makin tinggi, warnanya makin keruh, dan geraknya makin tak tertebak.
“Kami hanya bisa berdoa. Kali ini saya mengantar bantuan taruhannya nyawa,” ujar Boby.
Doa-doa dipanjatkan sekuat tenaga, di tengah kesadaran bahwa satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Perahu akhirnya dipaksa menepi. Mereka menunggu beberapa waktu, berharap arus mereda. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Air makin mengamuk. Demi keselamatan bersama, pemilik perahu memutuskan menyerah. Risiko terlalu besar untuk dilanjutkan.
Bantuan yang mereka bawa akhirnya dititipkan kepada pemilik perahu, dengan kesepakatan akan diantarkan ke warga Jorong V Pertemuan setelah kondisi sungai memungkinkan. Harapan untuk menyerahkan bantuan langsung dan melihat kondisi warga secara nyata harus dikubur sementara.
“Kami sangat khawatir. Bagaimana kalau ada warga yang sakit di sana?” kata Boby lirih.
Mereka datang berlima, tetapi hanya tiga orang yang berlayar. Dua relawan lain tinggal karena daya tampung perahu yang terbatas. Melebihi muatan bisa berbahaya. Gelar sebagai relawan pertama yang masuk ke Jorong V Pertemuan diakui Boby pun gagal mereka raih. Namun, keselamatan adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil hari itu.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang bantuan sembako yang dibawa Boby dan kawan-kawannya. Ia adalah potret nyata betapa rawannya akses kemanusiaan di wilayah-wilayah terluar negeri ini. Di hadapan alam yang murka dan infrastruktur yang terbatas, keberanian relawan sering kali berjalan beriringan dengan ketidakpastian.
Jorong V Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman, hanyalah satu dari sekian banyak wilayah yang terdampak bencana dengan medan tempuh yang tak mudah. Kisah Boby Bulolo memotret kenyataan itu secara jujur: tentang jarak, keterisolasian, dan perjuangan menghadirkan bantuan. Seperti harapan warga di sana, semoga semakin banyak tangan terulur, datang menyentuh langsung kondisi sesungguhnya yang mereka hadapi. []
Foto: Boby Bulolo dan relawan lainnya menembus jalur sungai ekstrem ke titik terisolir pada saat banjir bandang di Jorong V Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman, Jumat, 2 Desember 2026. (Foto-Foto: Boby Bulolo)
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.









