Oleh Maghdalena
JAM menunjukkan pukul 11 lewat tadi malam ketika saya hendak berangkat tidur dan memutuskan untuk mengambil ponsel dan scrolling Instagram sebentar. Saya menemukan tulisan di akun CNN Indonesia tentang kandungan mikro plastik yang terdapat dalam kantong teh. Di tulisan singkat yang berupa carousel itu tertulis bahwa berdasarkan studi dari universitas Barcelona, Spanyol, ternyata kantung teh yang terbuat dari polimer plastik komersial, seperti polypropylene, yang dapat melepaskan miliaran mikroplastik ke dalam air panas. Disebutkan bahwa kantung teh polypropylene bisa melepaskan hingga 1,2 miliar mikroplastik dalam setetes air panas.

Saya teringat, beberapa waktu lalu, dalam program Literate (diskusi live Instagram dalam bahasa Inggris) dengan narasumber Mbak Anita Raharjeng, dosen biologi UIN Raden Fatah Palembang, kami sempat membahas tentang isu ini. Bahwa ternyata penemuan di bidang kedokteran menyebutkan bahwa di dalam saluran darah manusia ditemukan terdapat banyak mikroplastik. Diskusi kami ini berlangsung sekira beberapa bulan lalu.
Karena teringat diskusi kami kala itu, saya lalu mengirim link berita tentang kantong teh tersebut kepada beliau via DM instagram, dan tidak menunggu lama beliau membalas DM saya dan menjelaskan bahwa itu adalah isu yang sudah cukup lama.
Mbak Anita juga mengirimkan link tulisan yang menguatkan tentang fakta itu. Baca: DI SINI dan DI SINI.
Salah satu data yang ditemukan atau yang seketika membuat saya berjengit. Ya Allah, dunia sudah semengerikan ini ternyata.
Lalu, berdiskusilah kami tentang kondisi ini. Dunia terus berkembang. Di era sekarang ini, segala sesuatu yang sifatnya praktis dan instan seakan telah menjadi mantra kehidupan. Segala hal yang menopang berjalannya roda kehidupan ini dirancang agar bisa digunakan serba cepat dan instan. Salah satunya adalah dengan penggunaan plastik sebagai peralatan dan perlengkapan dalam pemenuhan kebutuhan hidup.
Sebut saja botol minum, galon, piring, sendok, sedotan, atau juga peralatan lain seperti meja, kursi, dan lain sebagainya.
Plastik yang dulu di awal kemunculannya dianggap sebagai simbol kemajuan teknologi, hari ini sudah menjadi tulang punggung bagi gaya hidup praktis manusia.
Saya lalu memandang ke sekitar saya. Diri saya sendiri, masih sangat akrab dengan segala perlengkapan yang terbuat dari plastik, dan tentunya tidak memungkinkan serta merta melepaskan diri dari penggunaan plastik sebagai alat dan perlengkapan rumah tangga. Saya yakin teman-teman yang membaca tulisan saya ini juga demikian, pasti menggunakan setidaknya satu atau dua perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik.
Dan saya yakin, bahwa penggunaan plastik sebagai perlengkapan rumah tangga bukan hanya terdapat dalam keluarga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tapi juga menengah ke atas. Karena memang ia lebih praktis dan simpel. Plastik lebih ringan, praktis dibawa-bawa, bentuknya seringkali lebih menarik dan tentu saja lebih murah.
Hanya saja, satu hal yang barangkali belum disadari oleh masyarakat umum, atau sudah disadari, cuma belum (atau tidak) mau repot-repot untuk beralih dari menggunakan perlengkapan plastik ini, bahwasanya di balik segala kenyamanan yang ditawarkan oleh penggunaan plastik, tersembunyi begitu banyak dampak serius bagi kehidupan. Tidak hanya bagi manusia itu sendiri, tapi juga lingkungan dalam skala global.
Contohnya saja, wadah plastik yang digunakan untuk makanan dan minuman, kerap melepaskan partikel yang amat berbahaya, yang tidak terlihat oleh mata kita. Salah satu contohnya adalah pada tulisan yang dilansir oleh CNN tadi, yaitu kantong teh yang terbuat dari polypropylene yang dapat melepaskan miliaran mikroplastik yang kemudian masuk ke tubuh manusia dan dapat memicu terjadinya ganguan pada saluran percernaan, risiko kanker, hingga gangguan kesuburan. Dan bisa jadi ada banyak dampak lain yang lebih mengerikan yang belum terdeteksi oleh kecanggihan ilmu kedokteran hari ini.
Tidak selesai sampai di situ, kenyataan plastik yang sulit terurai, menciptakan limbah yang mengancam ekosistem dunia. Kita sedang berkomplot untuk menghancurkan bumi ini pelan-pelan. Duh, Allah ….
Maka semalam itu, berdiskusilah saya dengan Mbak Anita, gerangan apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi kondisi ini?
Saya sempat bilang ke beliau begini, “So, there is nothing we can do, Mbak? Terima kenyataan aja gitu?” Sebagai bentuk pasrah dan putus asa. Juga karena saya berpikir, dari mana visa dimulai memperbaiki keadaan ini, karena rasanya plastik dan kehidupan manusia sangat sulit dipisahkan. Jika benar-benar berkomitmen untuk mulai mengurangi penggunaan plastik, maka dibutuhkan sumberdaya terutama dana yang besar untuk mulai mengganti botol plastik dengan wadah lain yang lebih ramah lingkungan, mengganti wadah makan kita dengan yang lain yang lebih aman.
Akan tetapi, untuk bisa secara ekstrem melakukan itu, kita harus merombak besar-besaran semua tatanan kehidupan kita dalam penggunaan perlatan dan perlengkapan penunjang kehidupan. Sebuah pekerjaan yang untuk saat ini agak sulit dan terasa berat dilakukan.
Dalam diskusi kami semalam, Mbak Anita memberikan semangat dan motivasi untuk tidak patah semangat, agar tidak putus asa. Ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, mulai dari hal yang kecil meminimalisir penggunaan plastik dalam kehidupan kita. Terutama untuk kebutuhan konsumsi.
Kedua, mengurangi atau meniadakan penggunaan plastik untuk keperluan nonkonsumsi.
Yang ketiga adalah terus melakukan kampanye tentang 5R. Apa itu 5R?
R yang pertama adalah Refuse (menolak). Yaitu dengan menolak menggunakan barang-barang berbahan plastik sekali pakai. Contohnya adalah kantong plastik, sedotan, dan juga botol air kemasan. Dengan langkah kita menolak ini, semoga dapat mengurangi permintaan akan produk tersebut dan mudah-mudahan bisa mendorong para produsen untuk mencari alternatif lain yang lebih aman bagi masa depan manusia dan bumi.
R yang kedua adalah Reduce (mengurangi). Dengan cara mengurangi konsumsi barang-barang yang berpotensi menjadi sampah plastik. Caranya adalah dengan membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja di pasar atau di mana saja. Selain itu juga dengan menggunakan wadah makanan atau minuman yang dapat digunakan ulang, atau bisa juga dengan membeli produk dalam jumlah besar untuk mengurangi kemasan.
R yang ketiga adalah Reuse (Menggunakan kembali). Dengan membiasakan menggunakan kembali barang-barang yang layak pakai. Seperti penggunaan botol kaca atau stainless steel untuk air minum.
R yang keempat adalah Repurpose (Mengolah Ulang). Caranya adalah dengan mengalihfungsikan barang plastik yang sudah tidak terpakai menjadi benda lain. Misalnya mungkin dengan menjadikan galon bekas sebagai pot tanaman, dan lain sebagainya.
Dan R yang kelima adalah Recycle (Mendaur Ulang). Dengan cara memastikan barang plastik yang sudah tidak bisa digunakan lagi untuk didaur ulang menjadi produk lain yang bermanfaat. Tentunya ini membutuhkan prosedur daur ulang yang benar, agar dalam proses daur ulang tersebut tidak menghasilkan limbah baru yang bisa menimbulkan bahaya baru pula.
Saya sempat membaca beberapa berita yang cukup bagus untuk menjadi inspirasi dalam proses daur ulang ini. Berikut link beritanya dapat di baca DI SINI, DI SINI, dan DI SINI.
Kita perlu turut serta mengkampanyekan 5R ini, sebagai salah satu upaya kita untuk mengajak dirinkita sendiri, juga masyarakat untuk beralih dari pola konsumsi instan menuju gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.
Diskusi dengan Mbak Anita tadi malam jujur saja memberikan insight bagi saya, sehingga saya tak sabar untuk menuliskannya.
Ada begitu banyak pihak di luar sana yang sudah berupaya untuk melakukan aksi nyata dan berkontribusi untuk meminimalisir penggunaan dan melakukan proses daur ulang sampah plastik ini. Juga, ada banyak orang yang terus mengedukasi masyarakat tanpa henti tentang bahaya penggunaan plastik dan dampak mengerikannya bagi masa depan manusia, juga masa depan bumi. Kita punya pilihan: menjadi bagian dari solusi atau terus menjadi bagian dari masalah. Pilihannya ada di tangan kita. Jadi, mari kita mulai sekarang. Tidak ada langkah yang terlalu kecil jika dilakukan dengan kesadaran dan tujuan yang jelas.
Semoga kita bisa termasuk salah seorang di dalamnya. Mereka yang terus memperbaiki niat demi menyelamatkan masa depan bumi ini. Dimulai dari langkah kecil yang kita bisa. Bumi ini adalah rumah kita bersama. Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk kita semua, bahwa kita punya tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawatnya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Terima kasih banyak atas diskusi semalam yang sangat mencerahkan, Mbak Anita.
Saya sungguh belajar banyak darimu. []
Maghdalena, penulis, pegiat literasi, tim kreatif Sekolah Menulis elipsis, menetap di Padang.













