Oleh Muhammad Subhan
Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980 dan Generasi Y yang lahir antara 1981 hingga 1996 tumbuh dalam suasana pendidikan yang keras tetapi “menjadi.” Menjadi di sini berarti mereka berkarakter, tahu sopan santun, dan tahu bagaimana menghargai guru serta orang tua.

Satu teguran dari guru atau orang tua sudah cukup membuat anak mengingatnya seumur hidup.
Tak jarang, di masa itu, guru atau orang tua menegur dengan suara keras, mencubit, bahkan mengancam dengan rotan atau penggaris. Meski sekilas tampak keras, pada hakikatnya itu adalah ekspresi cinta dan kepedulian. Di balik amarah seorang guru tersimpan niat luhur untuk menjadikan muridnya manusia yang beradab.
Kini, zaman berubah. Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam dunia digital yang serba instan. Gawai, internet, dan media sosial menjadi guru baru yang diam-diam mengambil alih peran orang tua dan guru di rumah maupun di sekolah. Tak jarang tontonan menjadi tuntunan, sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.
Perubahan ini membuat pola asuh dan pola didik juga berubah. Kekerasan fisik tidak lagi dibenarkan, tetapi anehnya, sopan santun justru semakin menipis. Banyak anak berani membantah orang tua, murid melawan guru, bahkan tak jarang memviralkan gurunya sendiri di media sosial ketika tidak puas dengan perlakuan di sekolah, termasuk melaporkannya ke aparat kepolisian.
Kita hidup di zaman yang serba “meledak”: ledakan informasi, ledakan opini, dan ledakan ekspresi yang tak lagi mengenal batas etika. Dalam situasi seperti ini, literasi seharusnya menjadi tameng yang menyejukkan.
Sayangnya, banyak yang memaknai literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi sejati adalah kemampuan memahami nilai, menimbang etika, dan meneladani kebijaksanaan.
Literasi bukan hanya membaca teks, melainkan membaca diri, membaca orang lain, membaca lingkungan. Literasi bukan sekadar menulis huruf, melainkan juga menulis akhlak dan bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Andai literasi benar-benar berjalan di sekolah—bukan sekadar acara seremonial—kita tak akan mendengar berita guru menampar murid atau murid merokok di sekolah, atau kasus-kasus serupa itu. Sebab literasi, pada hakikatnya, menajamkan rasa dan menumbuhkan empati.
Anak yang terbiasa membaca cerita perjuangan, mendengarkan kisah moral, dan berdiskusi tentang nilai-nilai kehidupan akan lebih mudah mengukur perbuatan. Ia akan berpikir sebelum bertindak, merasa sebelum menyakiti, dan menimbang sebelum melawan.
Menampar siswa karena merokok tentu tidak dapat dibenarkan, sebab kekerasan bukanlah solusi pendidikan. Namun di sisi lain, guru yang berjuang menjaga wibawa dan kedisiplinan sekolah pun tidak boleh disudutkan. Ia berada di tengah pusaran dilema: ingin menegakkan aturan tetapi dibatasi oleh ketakutan dianggap melanggar hak asasi manusia. Padahal, membiarkan siswa merokok sama saja dengan mengabaikan kesehatan dan karakter mereka.
Di sinilah literasi berperan: sebagai jalan tengah yang menuntun guru bertindak bijak dan murid memahami batas kebebasan.
Literasi yang hidup di sekolah seharusnya melibatkan seluruh ekosistem pendidikan. Ia bukan hanya program membaca buku setiap pagi, melainkan kultur yang menjiwai keseharian: cara guru berbicara, cara siswa bersikap, cara orang tua berkomunikasi dengan anak. Ketika literasi dipahami sebagai kebiasaan berpikir, beretika, dan berempati, maka sekolah akan menjadi ruang yang manusiawi.
Tidak ada lagi guru yang marah karena kehabisan cara menegur, tidak ada lagi siswa yang melawan karena merasa tak dihargai.
Dalam beberapa kunjungan literasi ke sekolah, saya sering meminta izin menggunakan toilet siswa, bukan toilet guru. Alasan sebenarnya sederhana: saya ingin melihat wajah sekolah dari ruang paling jujur. Toilet siswa sering kali menggambarkan sejauh mana nilai disiplin dan kebersihan hidup di lingkungan itu. Sayangnya, masih ditemukan toilet siswa yang kotor, bau, bahkan penuh coretan dan puntung rokok. Di situ saya sadar, literasi belum benar-benar menyentuh akar: kebiasaan kecil yang mencerminkan karakter besar.
Selain itu, keteladanan adalah ‘koentji’ dari kerja-kerja literasi di sekolah. Bagaimana bisa murid berhenti merokok jika masih ada oknum guru yang merokok meski di luar jam pelajaran? Bagaimana murid belajar menghargai waktu jika guru datang terlambat ke kelas? Bagaimana murid belajar sopan santun jika di rumah ia mendengar orang tuanya memaki atau sering bertengkar?
Literasi akan lumpuh jika tidak disertai keteladanan.
Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, melainkan dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka meniru lebih cepat daripada mereka memahami.
Karena itu, literasi sejatinya dimulai dari keteladanan. Guru yang membaca akan melahirkan murid yang mencintai buku. Orang tua yang sabar dan santun akan menumbuhkan anak yang menghormati orang lain.
Sekolah dan rumah ibarat dua sisi mata uang: saling melengkapi, saling mencerminkan. Jika keduanya sama-sama menanamkan nilai, maka karakter anak akan tumbuh utuh.
Zaman boleh berubah, tetapi inti pendidikan tetap sama: membentuk manusia yang beradab.
Literasi, dengan segala bentuknya, adalah jalan menuju keadaban itu.
Ia tidak hanya mempersenjatai otak, tapi juga menuntun hati. Sekolah boleh melatih keterampilan abad ke-21, tetapi tanpa literasi nilai, semua kecakapan itu bisa kehilangan arah.
Kini, saat kita menyaksikan makin banyak anak yang kehilangan sopan santun dan guru yang kehilangan wibawa, barangkali bukan disiplin yang hilang, melainkan literasi yang lemah. Kita terlalu sibuk menghitung nilai ujian, tapi lupa menumbuhkan nilai-nilai kehidupan.
Pendidikan sejati tidak diukur dari banyaknya prestasi, tetapi dari sedikitnya amarah dan banyaknya kebijaksanaan. Di ruang-ruang kelas, literasi seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan; menghidupkan empati, bukan emosi.
Jika literasi berjalan dengan baik, tak akan ada lagi tangan yang menampar, tak akan ada lagi murid yang melawan, sebab di antara keduanya telah tumbuh saling pengertian yang berakar dari cinta dan keteladanan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









