Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

ESAI

Karya Seni Relief Terpanjang di Kota Bukittinggi

badge-check


					Karya Seni Relief Terpanjang di Kota Bukittinggi Perbesar

Oleh Jufrinaldi, S.Sn., M.Sn.
Dosen FSRD ISI Padangpanjang

KARYA seni relief yang terdapat di Kota Bukittinggi, dari segi visual, umumnya menggambarkan kisah sejarah dan kebudayaan, baik dalam lingkup lokal maupun nasional. Karya-karya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga menjadi sarana pendidikan sejarah dan budaya bagi masyarakat luas melalui bahasa visual seni rupa. Melalui relief, peristiwa sejarah dan kebudayaan dapat didokumentasikan dan dikenang sebagai pembelajaran bernilai lintas generasi.

Salah satu karya seni relief dapat dijumpai di tepi Jalan Panorama No. 22, Kota Bukittinggi, tepatnya di halaman depan Hotel Minang International. Karya ini menghadirkan pemandangan unik yang menarik perhatian setiap orang yang melintas di kawasan tersebut.

Karya seni relief ini tampak menonjol karena letaknya yang strategis di tepi jalan, menempel pada dinding halaman Hotel Minang International. Dengan bentuk panel besar yang memanjang, karya ini langsung menarik perhatian siapa pun yang melintas di kawasan tersebut. Warna yang digunakan berupa perpaduan cat tembaga dan cat emas, menambah kesan elegan dan megah pada tampilannya. Relief ini memiliki panjang sekitar 7–8 meter dengan tinggi kurang lebih 2,5 meter. Karena posisinya yang terbuka di pinggir jalan raya, setiap orang yang melewati Jalan Panorama No. 22 dapat melihatnya dengan jelas.

Kehadiran karya seni relief ini menimbulkan dorongan untuk menelaahnya lebih dalam dari sudut pandang teori seni rupa, agar dapat diungkap secara ilmiah dan terstruktur. Salah satu pendekatan yang relevan adalah teori instrumental dalam seni rupa, yang mengkaji fungsi-fungsi karya seni, di antaranya fungsi edukatif, fungsi propaganda, fungsi ekonomi, dan sebagainya.

Tulisan berupa ukiran relief rendah yang diperkirakan sebagai nama tim perupa dari INS Kayutanam dan tahun pembuatan karya ini yaitu tahun 1973 (Foto: Jufrinaldi)

Kajian terhadap relief ini didasarkan pada berbagai sumber literatur, seperti referensi tentang karya seni relief, teori-teori seni rupa, serta bahan bacaan pendukung lainnya yang mencakup sejarah, filsafat, dan kebudayaan. Semua sumber tersebut menjadi landasan penting dalam memahami makna dan nilai yang terkandung di dalam karya ini.

Dalam bukunya Art, Image and Idea, Edmund Burke Feldman menjelaskan bahwa fungsi seni dalam kehidupan manusia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Seni sebagai sarana ekspresi diri.
  2. Seni sebagai sarana sosial.
  3. Seni sebagai sarana fisik.

Ketiga fungsi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan karya seni rupa tidak hanya terbatas pada aspek keindahan dan estetika semata, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai dimensi kehidupan manusia (Feldman, 1967).

Foto karya seni relief diambil dari arah Frontal di Jalan Panorama No. 22, Bukittinggi. (Foto: Jufrinaldi)

Lebih lanjut, teori instrumental dalam seni rupa menegaskan bahwa setiap karya seni diciptakan dengan fungsi dan tujuan tertentu. Fungsi inilah yang menjadi landasan dalam aktivitas berkesenian. Secara umum, fungsi-fungsi seni dapat dijelaskan sebagai berikut:

Fungsi edukatif, yaitu seni berperan sebagai sarana pendidikan bagi manusia. Melalui karya seni, tersampaikan pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai moral, sosial, dan budaya yang dapat memperkaya wawasan penikmatnya.

Fungsi propaganda, yaitu karya seni berfungsi sebagai media komunikasi yang dapat memengaruhi opini, keyakinan, perilaku, dan tindakan manusia. Seni dalam konteks ini mampu menjadi alat untuk menanamkan ideologi, nilai, atau pandangan tertentu kepada masyarakat melalui kekuatan visualnya.

Fungsi religius yaitu karya seni yang bermuatan pesan-pesan tertentu yang bertujuan untuk penyadaran rohani manusia yang berkaitan dengan keyakinan agama tertentu untuk tetap mentaati dan patuh dengan perintah-perintah agama yang dianut.

Karya seni relief di Jalan Panorama No. 22, Bukittinggi. (Foto: Jufrinaldi)

Fungsi ekonomi juga merupakan bagian penting dari teori instrumental seni rupa. Fungsi ini terbukti melalui bagaimana manusia dapat menghasilkan pendapatan dari aktivitas berkesenian. Dalam banyak kasus, karya seni menjadi sumber ekonomi yang mampu memberikan penghidupan bagi para senimannya sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi kreatif di masyarakat.

Selain fungsi-fungsi yang telah disebutkan, seni juga memiliki beragam fungsi lain jika ditelaah lebih dalam dalam kaitannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, karya seni relief yang terletak di Jalan Panorama No. 22, tepatnya di depan Hotel Minang International, Bukittinggi, menjadi objek kajian berdasarkan teori instrumental dalam seni rupa. Relief ini memiliki panjang sekitar 8 meter dan tinggi kurang lebih 2,5 meter. Untuk kepentingan analisis, tim peneliti membagi karya tersebut ke dalam beberapa bagian agar dapat dikaji secara lebih mendetail.

Bagian kedua dari gradasi cerita relief di Jalan Panorama, Bukittinggi yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia pada masa kerajaan Hindu dan Budha. (Foto: Jufrinaldi)

Sekilas, karya ini tampak seperti monumen bersejarah atau bagian dari museum perjuangan karena tampil menonjol di tepi jalan raya dan berada di depan sebuah hotel. Namun sebenarnya, relief ini hanyalah karya seni yang menghiasi halaman depan Hotel Minang International. Warna perunggu dan emas yang digunakan menjadikan tampilannya kontras dan menarik perhatian dari kejauhan. Jika diamati lebih dekat, pada sudut panel persegi panjang karya ini terdapat ukiran tulisan “INS 73”, yang diduga menunjukkan tahun pembuatan (1973) sekaligus identitas tim seniman pembuatnya, yakni para perupa dari INS Kayu Tanam.

Sayangnya, informasi mengenai siapa saja anggota tim perupa dari INS Kayu Tanam yang terlibat dalam pembuatan karya ini tidak dapat ditelusuri. Karena karya ini telah dibuat sejak tahun 1973, tim peneliti mengalami kesulitan untuk menemukan data dan nama-nama pembuatnya. Bahkan pihak Hotel Minang International pun tidak memiliki arsip atau catatan terkait proses pembuatan relief tersebut.

Karya seni relief ini dibuat dari campuran plester semen dan pasir, dengan teknik menempelkan adonan tersebut pada dinding datar yang juga terbuat dari bahan semen dan pasir.

Bagian relief yang memvisualkan perjalanan bangsa Indonesia yang masih dalam pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha, diwakilkan dengan bentuk-bentuk manusia seperti yang terpampang dalam patung-patung relief di candi-candi Budha dan Hindu. (Foto: Jufrinaldi)

Berbeda dengan kebanyakan relief di Indonesia yang biasanya dibuat dari logam, perunggu, resin, kayu ukir, atau pahatan batu alam, relief di Jalan Panorama No. 22 ini menggunakan teknik sederhana. Pembuatannya tidak melalui proses pahat atau cor, melainkan dengan cara memoles dan membentuk campuran semen dan pasir langsung di atas bidang datar. Pada beberapa bagian yang menonjol, digunakan kerangka besi sebagai penyangga.

Jika diteliti lebih dekat, detail demi detail objek yang tergambar dalam panel besar karya relief ini dapat dirinci dan dianalisis lebih lanjut sebagaimana berikut.

Jika dilihat dari arah Jalan Panorama No. 22, Bukittinggi, karya seni relief ini membentang secara frontal dari kiri ke kanan, menampilkan rangkaian objek visual yang menceritakan perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Cerita dimulai dari masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha, kemudian berlanjut ke masa kerajaan-kerajaan Melayu Islam, masa penjajahan kolonial Belanda dan Jepang, hingga mencapai bagian akhir yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan dan momen Proklamasi Republik Indonesia.

Dari keseluruhan panjang relief ini, setiap bagian menampilkan fragmen cerita yang saling berkaitan. Tim peneliti kemudian melakukan analisis visual terhadap tiap segmen karya dengan membaginya menjadi tujuh bagian utama, masing-masing merepresentasikan fase perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Seni relief yang menggambarkan lanjutan dari sejarah bangsa Indonesia, mewakili pengaruh Islam dan Melayu khususnya di daerah Sumatera Barat. (Foto: Jufrinaldi)

Bagian pertama menggambarkan awal mula sejarah bangsa Indonesia pada masa pengaruh Hindu dan Buddha. Hal ini tampak dari bentuk-bentuk bangunan menyerupai stupa atau candi, serta figur manusia yang digambarkan sedang beraktivitas di sekitar perahu layar. Tokoh-tokoh manusia pada bagian ini tampak berpakaian sederhana, hanya menggunakan penutup kepala dan kain di bagian bawah tubuh, yang menandakan situasi sosial pada masa itu. Selain itu, relief ini juga memperlihatkan aktivitas manusia yang bekerja sama dan bergotong royong, menandakan telah adanya sistem sosial yang kuat di masa tersebut.

Gambaran tersebut sejalan dengan catatan sejarah yang menyebutkan bahwa masa pengaruh Hindu dan Buddha menjadi tonggak awal terbentuknya peradaban di Nusantara. Pada periode ini, masyarakat telah mengenal arsitektur monumental seperti candi dan berbagai situs peninggalan sejarah yang masih dapat disaksikan hingga kini. Bahkan, bangsa Indonesia pada masa itu telah dikenal sebagai bangsa pelaut yang menguasai jalur perdagangan antarpulau dan antarbenua. Dengan demikian, bagian pertama relief ini dengan jelas merepresentasikan masa awal peradaban Hindu–Buddha di kepulauan Nusantara.

Bagian kedua menampilkan kisah perkembangan kerajaan-kerajaan besar yang berkuasa di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha, seperti Kerajaan Majapahit, Singasari, Kediri, dan Sriwijaya. Pada bagian ini tampak simbol-simbol kebesaran kerajaan, di antaranya dua figur manusia berpakaian lengkap menyerupai raja dan prajurit kerajaan. Dari latar belakang relief, tampak pula bentuk menyerupai Candi Borobudur yang digambarkan dari kejauhan.

Visual ini menandakan masa kejayaan peradaban Hindu–Buddha di Nusantara, ketika kerajaan-kerajaan besar tersebut membangun pusat kebudayaan dan politik yang meninggalkan banyak peninggalan monumental hingga sekarang. Melalui simbol-simbol kerajaan dan aktivitas masyarakat yang digambarkan dalam relief, dapat disimpulkan bahwa bagian kedua ini menegaskan kemegahan dan kematangan budaya Nusantara pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar tersebut.

Seni relief yang menceritakan perjalanan bangsa Indonesia dalam melawan kolonial khususnya kolonial Belanda di Sumatera Barat. (Foto: Jufrinaldi)

Pada bagian kedua ini tergambar perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Peradaban yang lebih maju tampak dari penggambaran bentuk pakaian, perhiasan, serta atribut busana yang lebih lengkap dibandingkan relief pada bagian pertama. Selain itu, tampak pula ilustrasi perahu-perahu yang menunjukkan kemajuan teknologi dan kebudayaan maritim pada masa tersebut.

Salah satu figur manusia tampak lebih menonjol dan tebal, dibuat dengan detail tersendiri. Kemungkinan besar tokoh ini dimaksudkan untuk mewakili sosok dewa atau raja pada masa Kerajaan Majapahit. Bagian ini tersambung secara gradasional dengan relief berikutnya, sehingga membentuk rangkaian narasi visual yang menggambarkan perjalanan sejarah berurutan—mulai dari pengaruh Hindu dan Buddha hingga masa-masa berikutnya.

Puncak peradaban Hindu dan Buddha di Nusantara pernah tercatat dalam sejarah sebagai masa kejayaan yang meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, seperti Candi Borobudur serta berbagai candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun bentuk figur manusia dalam relief ini tidak sepenuhnya menyerupai gaya pahatan candi-candi Hindu dan Buddha, namun maksud artistiknya dapat diidentifikasi sebagai representasi masa kejayaan tersebut.

Seni relief yang menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari awal merebut kemerdekaan sampai tercapainya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: Jufrinaldi)

Selanjutnya, bentuk-bentuk manusia dalam relief ini yang mengenakan pakaian adat khas Minangkabau menandai masa pengaruh kerajaan-kerajaan Islam dan Kesultanan Melayu di Nusantara. Latar belakang budaya Minangkabau yang ditampilkan melalui arsitektur Rumah Gadang serta aktivitas masyarakatnya menunjukkan adanya perpaduan antara kebudayaan lokal dan pengaruh Islam. Unsur ini menjadi simbol masuknya nilai-nilai Islam yang memperkaya khazanah budaya Melayu di sebagian besar wilayah Nusantara.

Minangkabau sebagai salah satu suku bangsa yang mendiami Provinsi Sumatera Barat memiliki catatan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Relief ini dapat dimaknai sebagai narasi berkesinambungan—dari masa pengaruh Hindu-Buddha menuju era Islam dan Melayu yang mewarnai peradaban bangsa Indonesia.

Pada masa pengaruh Islam, sejarah mencatat adanya hubungan erat antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan kekhalifahan Islam dunia, terutama Kekhalifahan Turki Utsmani yang berpusat di Istanbul. Pengaruh tersebut melahirkan kemajuan dalam bidang perdagangan dan kebudayaan. Tome Pires bahkan mencatat bahwa kerajaan-kerajaan Melayu kala itu menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai, dihuni masyarakat dari beragam bangsa dan bahasa, serta menjadi pusat kegiatan keislaman (Taufik Abdullah, 2015:195).

Bagian keempat dari relief ini juga menggambarkan aktivitas manusia dengan pakaian adat Melayu yang kuat nuansa Islaminya. Salah satunya merepresentasikan budaya Minangkabau yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam dan tradisi Melayu. Dalam perjalanan sejarah, kerajaan-kerajaan Islam dan Melayu memang pernah memegang peranan penting dalam membentuk identitas kebudayaan Nusantara setelah surutnya pengaruh Hindu dan Buddha.

Menariknya, dalam salah satu panel relief tampak sosok manusia berkuda mengenakan jubah dan sorban, sambil mengacungkan pedang. Figur ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk menggambarkan perjuangan Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Paderi di Sumatera Barat melawan kolonial Belanda dan kelompok adat yang berpihak kepada mereka. Adegan ini menandai masa kolonialisme yang mulai memasuki wilayah Nusantara setelah berakhirnya masa kerajaan Islam, sekaligus menjadi simbol semangat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan.

Kisah perjuangan Tuanku Imam Bonjol sebagai penggerak Perang Paderi di Sumatera Barat merupakan bentuk nyata perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan kolonial Belanda. Pada bagian ini, relief menampilkan gradasi naratif yang melanjutkan perjalanan sejarah bangsa—dari masa pengaruh Islam hingga datangnya penjajahan Barat ke Nusantara.

Perang Paderi lahir dari cita-cita luhur masyarakat Minangkabau yang menolak ketidakadilan dan penjajahan. Awalnya, gerakan ini bersumber dari semangat pembaruan keagamaan, namun kemudian berkembang menjadi peperangan sengit melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Gerakan tersebut digerakkan oleh orang-orang yang beridealisme tinggi dan rela berkorban demi kemerdekaan (Mardjani Martamin, 1983: 43).

Pada bagian kelima relief ini, narasi visual menampilkan suasana perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda. Tampak figur-figur manusia dalam adegan peperangan dan penindasan, menggambarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Bentuk arsitektur Rumah Gadang, masjid, dan surau turut hadir sebagai simbol kebudayaan Minangkabau serta spiritualitas masyarakat pada masa penjajahan.

Selanjutnya, bagian terakhir dari relief ini menggambarkan puncak perjalanan sejarah bangsa Indonesia—yakni proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Dalam panel tersebut, terlihat sekelompok figur manusia yang berkumpul dalam suasana penuh semangat. Di antara mereka, tampak dua tokoh utama yang mudah dikenali: Soekarno dan Hatta, tokoh proklamator bangsa. Di belakangnya, tergambar bendera Merah Putih berkibar, menjadi simbol berakhirnya penjajahan dan lahirnya Indonesia merdeka.

Gradasi cerita yang dibangun melalui panel demi panel menggambarkan alur sejarah bangsa Indonesia, mulai dari masa pengaruh Hindu-Buddha, datangnya Islam, penjajahan kolonial, hingga akhirnya mencapai kemerdekaan. Karya ini menjadi simbol perjalanan panjang bangsa yang ditempuh dengan pengorbanan, perjuangan, dan tekad untuk merdeka.

Dari sisi fungsi edukatif, relief yang terletak di Jalan Panorama No. 22, Bukittinggi ini memiliki nilai pendidikan yang tinggi. Melalui pengamatan visual yang cermat, dapat diidentifikasi bahwa setiap bagian dari relief mengandung pesan dan makna historis. Secara keseluruhan, karya ini mengajarkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia kepada generasi penerus—mulai dari pengaruh Hindu-Buddha, masuknya Islam, hingga perjuangan menuju Proklamasi Kemerdekaan.

Narasi yang dibangun melalui simbol-simbol visual tersebut berfungsi sebagai media pembelajaran sejarah yang efektif. Ia tidak hanya menyampaikan informasi faktual, tetapi juga menggugah kesadaran akan makna perjuangan, keteguhan, dan pengorbanan para pendahulu bangsa.

Relief ini juga menyimpan pesan moral agar generasi muda menyadari bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini bukanlah hasil yang datang dengan mudah. Ia diperoleh melalui perjuangan panjang dan pengorbanan besar. Oleh karena itu, generasi penerus dituntut untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermakna dan mempertahankan kedaulatan bangsa dengan sepenuh hati.

Lebih jauh lagi, relief ini mengingatkan kita akan kesinambungan sejarah dan kebudayaan—dari peradaban Hindu-Buddha, peradaban Islam, masa kolonial, hingga era kemerdekaan. Ia menjadi saksi bisu perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kebebasan dan kematangan sebagai sebuah negara berdaulat.

Fungsi propaganda dari karya seni relief ini tampak melalui cara penyampaian pesan-pesan perjuangan menggunakan simbol-simbol visual yang menggugah semangat nasionalisme. Relief ini berperan dalam membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara, serta menanamkan semangat mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia secara patriotik. Unsur propaganda tersebut tidak disampaikan secara vulgar, melainkan melalui pendekatan visual yang menyentuh sisi psikologis dan emosional penikmatnya. Adegan perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme menjadi sarana halus untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Fungsi religius dalam karya relief ini tidak ditampilkan secara dominan, namun tetap hadir dalam bentuk simbolik. Hal ini terlihat dari penggambaran candi dan masjid yang merepresentasikan pengaruh agama Hindu, Buddha, dan Islam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Walau tidak secara langsung mempengaruhi sisi spiritual penikmat, relief ini tetap memberi pesan halus tentang perkembangan keagamaan di Nusantara—bahwa budaya dan sejarah bangsa Indonesia terbentuk dari percampuran nilai-nilai berbagai agama besar yang pernah hadir di bumi Indonesia.

Fungsi ekonomi dari karya seni relief ini dapat dianalisis dari sudut pandang daya tarik wisata dan nilai tambah bagi lingkungan sekitarnya. Keberadaan relief di halaman Hotel Minang International, yang terletak di kawasan wisata Panorama Kota Bukittinggi, menjadikannya objek visual yang unik dan bernilai estetis tinggi. Keunikan tersebut berpotensi menarik perhatian wisatawan yang berkunjung, sehingga memberi dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian lokal.

Dari keseluruhan analisis dapat disimpulkan bahwa karya seni relief di Jalan Panorama No. 22, Bukittinggi ini memuat berbagai fungsi instrumental seni rupa, yakni fungsi edukatif, propaganda, religius, dan ekonomi. Meskipun penyampaiannya tidak bersifat eksplisit, keempat fungsi tersebut hadir secara menyatu dalam narasi visual yang dibangun, memperlihatkan bagaimana seni mampu menjadi media pendidikan, penggerak semangat, pengingat nilai spiritual, sekaligus penunjang kehidupan ekonomi masyarakat. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seniman Aceh di Tengah Musibah: Bertahan dengan Segala Keterbatasan

20 Desember 2025 - 11:11 WIB

Menulis dan Seni Menaklukkan Diri

11 Desember 2025 - 09:16 WIB

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Rumah Pulang Kata, Tradisi, dan Kemanusiaan

8 Desember 2025 - 19:40 WIB

Dari Tonrong Bola, Marusu dan Manusia Bugis

8 Desember 2025 - 11:26 WIB

Sekolah Selayaknya Memiliki Sanggar Seni

22 November 2025 - 19:48 WIB

Trending di ESAI