Oleh Muhammad Subhan
SAHABAT saya, Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Provinsi Aceh, Dr. Afifuddin, M.Sn., mengirimkan kabar bahwa saat bencana alam melanda Kabupaten Bener Meriah, sebuah rombongan seniman Didong bersama tujuh tenaga kesehatan (nakes) terjebak selama empat hari di jalur lintas nasional Simpang Simpil–Bintang.

Di antara mereka ada Hamdani (50 tahun), Ketua Rombongan Didong sekaligus Wakil Ketua Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Bener Meriah.
Saya segera meminta nomor kontak Hamdani untuk menggali lebih dalam kisah itu.
“Ketika kejadian, saya terjebak di jalan lintas nasional kawasan Bintang, Simpang Simpil arah Blangkejeren, selama empat hari bersama tujuh tenaga kesehatan,” tulisnya via WhatsApp.
Hamdani bercerita, peristiwa itu bermula pada Rabu, 26 November 2025, pagi di dataran tinggi Gayo. Ketika itu hujan turun tanpa henti. Terus-menerus.
Di kawasan Uyem Mude, badan jalan amblas. Kendaraan tak bisa lewat. Dibantu warga, sepeda motor milik para nakes harus diangkat satu per satu agar bisa melintas. Mereka melanjutkan perjalanan hingga Simpang Serule.
Namun, hujan makin deras. Menjadi-jadi. Dinding bukit mulai longsor, batang kayu tumbang menutup badan jalan. Sementara sore datang membawa lapar, dahaga, dan dingin. Tubuh mereka menggigil, perut kosong, dan rasa cemas merambat.
Malam tiba dengan suasana mencekam. Listrik padam. Jaringan komunikasi terputus. Yang terdengar hanya gemuruh air bercampur hantaman bebatuan dan suara patahan pohon-pohon di sekitar.
Tangis pun pecah. Dalam gelap gulita, para nakes bertahan di sebuah rumah warga yang berbaik hati menyalakan tungku agar mereka bisa menghangatkan badan.
Rombongan Didong Linge Meriah yang tiba di lokasi itu terdiri dari Bujang Merpati, Gelingan Raya, dan Bujang Tawar Bengi. Jumlahnya sekira 25 orang seniman Didong.
Seorang warga, Rasidan (40 tahun), menjadi penyelamat. Ia mempersilakan mereka naik ke loteng rumahnya untuk beristirahat. Malam itu, nakes, seniman Didong, dan beberapa penumpang travel dari Kutacane menuju Banda Aceh berada dalam satu ruangan sempit, ditemani suara hujan yang tak juga reda.
Hari berganti, namun situasi kian mencekam. Sungai yang biasanya jinak berubah menjadi gergasi ganas. Tidur tak pernah benar-benar nyenyak. Sebagian memilih menjaga perapian agar api tetap hidup, seolah api itulah satu-satunya tanda bahwa harapan belum padam.
Pada hari kedua, pengungsi dari Desa Atu Payung tiba dengan cara menerobos hutan untuk menghindari longsor. Mereka membawa kabar duka. Desa mereka dihantam banjir bandang, disertai korban jiwa. Rombongan itu terdiri atas orang tua, perempuan, dan seorang bayi yang basah kuyup serta menggigil kedinginan.
Hamdani, yang juga anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bener Meriah, menjadi sosok yang dituakan dalam pengungsian itu. Ia mengarahkan dan menenangkan.
Jumat pagi, 28 November 2025, hujan mulai mereda. Hamdani mengoordinasikan rombongan untuk keluar dari Simpang 27 Serule menuju Bintang. Perjalanan dimulai dengan membuka jalur darurat, menyeberangi sungai bekas banjir bandang, lalu mendaki gunung dan menembus hutan. Jalan terputus di banyak titik akibat timbunan tanah longsor.
Namun, mereka tak menyerah.
Mereka saling berpegangan, saling menguatkan. Telapak kaki perih seperti tercabik. Tubuh kerap terperosok ke dalam lumpur. Jatuh bangun di tanah licin. Rasa lapar hanya ditahan dengan mi instan. Perjalanan sejauh 27 kilometer ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 12 jam.
“Rasa takut terus menghantui,” kata Hamdani. “Tapi kami punya satu tekad, harus tiba di Kampung Bintang.”
Di sepanjang jalan, bahaya mengintai. Longsor susulan terus terjadi. Batang kayu besar, bebatuan cadas, dan duri-duri hutan menjadi saksi perjalanan yang nyaris tak masuk akal.
Menjelang tengah hari, mereka tiba di Kampung Konyel, kampung yang dihantam banjir bandang hingga sekitar 25 unit rumah hanyut. Warga setempat mengungsi ke masjid.
Menjelang pukul 17.00 WIB, rombongan pertama tiba di Desa Dedamar Bintang. Sambutan hangat warga menjadi pelipur lara yang membangkitkan kembali gairah hidup. Sekira pukul 20.30 WIB, rombongan kedua menyusul tiba di desa yang juga tak luput dari longsor.
Keesokan harinya, Sabtu, 29 November 2025, sekitar pukul 09.00 WIB, aparatur desa mengevakuasi mereka menuju Dermaga Pante Menye, Lut Tawar. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mengirimkan satu unit perahu berkapasitas 25 orang untuk mengevakuasi warga yang terjebak.
Perjalanan menyusuri Danau Laut Tawar menuju Takengon memakan waktu tiga jam. Batang kayu mengapung di mana-mana. Air danau berubah keruh, menjadi penanda betapa dahsyatnya longsor di desa-desa sekitar danau.
Syukurlah, mereka selamat.
Di akhir wawancara, Hamdani mengirimkan beberapa video dan foto saat musibah terjadi di Bener Meriah. Dua video memotret begitu dahsyatnya luncuran air deras berwarna keruh meluncur dari bukit ke daerah rendah. Air bah itu pula yang menghancurkan banyak ladang dan rumah warga.
Di beberapa foto lain, tampak sekelompok orang mengenakan jas hujan plastik berjalan kaki, sementara di ujung jalan beberapa batang pohon rebah melintang di badan jalan. Dinding bukit tampak menyisakan bekas longsor.
Pada foto yang lain, sekelompok laki-laki dan perempuan duduk di medan ilalang, menunggu tanpa kepastian kapan musibah itu berakhir. Di foto lain, para nakes mengenakan mantel plastik duduk berselonjor di tepi jalan beraspal dengan wajah kelelahan. Foto lainnya lagi memperlihatkan sekelompok warga mencoba menyeberangi sungai berlumpur.
Semua potret itu menggambarkan betapa dramatisnya bencana yang menimpa Bener Meriah. Betapa beratnya ujian yang dihadapi masyarakat di sana.
“Mohon doakan kami agar kuat menghadapi ujian ini,” ujar Hamdani mengakhiri perbincangan itu. []
(Foto: Suasana saat seniman didong dan nakes terjebak longsor. (Foto-foto: Hamdani | Bener Meriah)
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.









