Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Kabar dari Aceh Utara: “Banjir Kali Ini Lebih Dahsyat dari Tsunami 2004”

badge-check


					Kabar dari Aceh Utara: “Banjir Kali Ini Lebih Dahsyat dari Tsunami 2004” Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

SEBUAH lembaga sosial di Jakarta menghubungi saya. Mereka menanyakan apakah saya memiliki kenalan di Aceh Utara yang dapat menghubungkan mereka dengan vendor sumur bor. Bantuan air bersih sangat dibutuhkan pascabanjir bandang yang melanda wilayah itu. Tanpa ragu, nama Saiful Azmi langsung terlintas di benak saya.

Saiful, demikian saya biasa menyapanya, adalah sahabat saya sejak SMP dan SMA. Kami bersekolah di SMP Negeri 6 Kruenggeukueh dan SMA Negeri 2 Lhokseumawe, dua sekolah yang gedungnya berdampingan di Paloh Lada, atau yang akrab disebut Palda. Ia pula yang menemani saya pada tahun 2000 ke Pasaman Barat, mencari kampung halaman ibu saya di Kajai. Setelah kampung itu saya temukan, Saiful kembali ke Aceh, sementara saya menetap dan melanjutkan hidup di Ranah Minang.

Seperti kota-kota lainnya di Aceh, Kabupaten Aceh Utara juga diuji oleh bencana alam. Rabu, 26 November 2025, hujan deras turun tanpa jeda. Sejak sepekan sebelumnya hujan telah mengguyur hampir seluruh pelosok Aceh Utara. Langit muram. Air tak henti menumpahkan dirinya ke tanah.

Akibatnya, banjir bandang tak terelakkan.

Areal persawahan di Kecamatan Muara Batu dan Krueng Mane yang sebenarnya sudah memasuki masa panen raya terpaksa gagal dipanen. Padi yang telah menguning terendam air. Para petani yang telah siap dengan arit dan karung panen hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Tak seorang pun tahu kapan hujan akan berhenti dan kapan kehidupan bisa normal kembali.

Saiful seorang aparatur sipil negara. Pagi itu ia bersiap berangkat kerja seperti biasa. Pukul 07.30, ia hendak menuju kantornya di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Muara Batu, sekitar 13 kilometer dari rumahnya di Desa Uteun Geulinggang, Kecamatan Dewantara. Perjalanan normal hanya memakan waktu 15 menit. Namun, pagi itu situasi berubah drastis.

Saat membuka grup WhatsApp, ia melihat video-video banjir sudah beredar. Jalan negara menuju kantornya tergenang. Kendaraan berhenti dan mencari tempat lebih tinggi. Para petani binaannya mengirimkan video lahan sawah mereka yang tenggelam seluruhnya. Padi gagal panen total.

Ia memutuskan tidak berangkat ke kantor. Meski demikian, Saiful tetap keluar rumah dengan sepeda motor untuk melihat kondisi sekitar. Jalan lintas provinsi tampak sepi. Tak ada lalu lintas. Ia mencoba mencari sarapan ke Keude Krueng Geukuh, pusat Kecamatan Dewantara. Beberapa jalur sudah tidak bisa dilewati. Jalan bekas Komplek AAF tergenang total. Jalan bekas pabrik ASEAN masih bisa dilalui sepeda motor, meski air mulai naik.

Ia melewati Jalan Bujang Salim menuju Keude Krueng Geukuh. Di arah Masjid Bujang Salim hingga Simpang Empat, air sudah tinggi. Semua kendaraan terhenti. Setelah membeli sarapan seadanya, Saiful kembali pulang. Air makin meninggi. Ia masih sempat membeli telur ayam satu papan sebelum tiba di rumah.

Pukul 09.00, seorang tetangga meneleponnya. Air sudah masuk ke rumah tetangga itu. Lorong samping rumah tak bisa dilewati sepeda motor. Tetangganya meminta izin mengungsi ke rumah kakak Saiful yang kosong. Hujan makin deras. Rumah Saiful sendiri masih relatif aman karena posisinya sedikit lebih tinggi. Listrik masih menyala, tetapi rasa waswas mulai menguasai.

Saiful dan istrinya hanya bisa duduk diam di rumah, memantau kabar dari status dan grup WhatsApp. Isinya seragam. Banjir, rumah tergenang, jalan terputus, warga mulai mengungsi ke meunasah atau rumah keluarga yang lebih aman.

Menjelang pukul 12.30, air mulai masuk ke halaman samping rumah. Pintu pagar kayu sudah tergenang. Nalurinya berkata ini bukan air hujan biasa. Ada dorongan kuat dari luar, membuat air naik cepat dan tak terkendali.

Ia meminta istrinya bersiap. Barang-barang penting dan dokumen harus diselamatkan. Ia memindahkan sepeda motor ke rumah kakaknya yang lebih tinggi, lalu kembali mengambil dokumen kerja, ijazah, dan barang berharga lainnya. Semua dimasukkan ke tas. Ia berlari ke rumah ibunya yang berada di dekat Jalan Lintas Medan–Banda Aceh.

Di rumah ibunya, perempuan berusia 79 tahun yang tinggal sendiri sejak ayah mereka wafat sembilan tahun lalu, Saiful tak sempat lama berbincang. Ia kembali ke rumahnya. Bersama abang, ia memindahkan tempat tidur, kulkas, televisi, mesin cuci, dan printer ke rumah abangnya di samping. Listrik dimatikan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Pukul 13.00, rumah Saiful resmi kebanjiran. Air masuk perlahan dari kamar mandi dan dapur, lalu merambat ke ruang keluarga dan kamar. Mereka tak bisa keluar lewat pintu depan. Terpaksa melewati pagar samping.

Namun, kepanikan belum usai. Air terus naik. Rumah abang dan rumah kakaknya di depan ikut tergenang. Motor dan barang elektronik kembali dipindahkan ke rumah ibu. Di sana, ibu juga sedang menyelamatkan dokumen dan barang pentingnya.

Rumah ibu Saiful cukup unik. Di depan berdiri rumah panggung semi Aceh dari kayu, kokoh meski telah berusia puluhan tahun. Di belakangnya rumah permanen yang mulai kemasukan air. Satu per satu keluarga dan tetangga berdatangan mengungsi. Semua naik ke rumah panggung.

Pukul 14.00, sebanyak 22 orang dari enam kepala keluarga berkumpul di rumah panggung itu. Wajah-wajah lelah, cemas, dan ketakutan tergambar jelas. Meski demikian, kewajiban tetap ditunaikan. Mereka shalat zuhur bergantian, lalu makan seadanya.

Air di rumah ibu Saiful setinggi hampir setengah meter. Sumur cincin masih bisa digunakan dengan timba. Peralatan dapur diselamatkan. Beras dan kompor berhasil diamankan. Telur ayam yang dibeli pagi hari menjadi persediaan berharga.

Menjelang malam, listrik padam total. Jaringan telepon nyaris tak berfungsi. Mereka hanya bisa berdiam dan memantau ketinggian air di anak tangga rumah panggung. Jika air naik lagi, ke mana harus pindah? Tak ada jawaban pasti.

Ibunya bercerita, selama hidup ia belum pernah mengalami banjir separah ini. Dengan pengalamannya, ia mengeluarkan lampu teplok, minyak tanah, korek api, dan lilin, barang-barang yang kerap dilupakan orang modern, namun sangat penting dalam kondisi darurat.

Magrib tiba tanpa kumandang azan. Dengan segala keterbatasan, mereka berwudu menggunakan air hujan dan air sumur. Makan malam disiapkan apa adanya. Pikiran tetap diliputi kecemasan, ke mana harus pergi jika air kembali naik?

Pukul 22.00, beberapa laki-laki keluar mencari informasi. Kabar yang didapat menyebutkan air makin bertambah karena rel kereta api di utara desa menjadi semacam bendungan. Para pemuda berusaha membobolnya agar air mengalir ke laut. Tengah malam, air perlahan mulai surut satu anak tangga. Barulah ada sedikit harapan.

Kamis pagi, 27 November 2025, hujan masih turun. Jalan negara dipenuhi warga yang berlalu-lalang mencari makanan. Meunasah penuh pengungsi, kendaraan, bahkan ternak. Kios-kios kehabisan bahan makanan. Harga melonjak. Informasi menjadi barang paling berharga.

“Banjir kali ini terasa lebih dahsyat dari apa pun yang pernah kami alami, bahkan dibandingkan tsunami 2004. Jalan terputus, kampung terendam, rumah hanyut, dan nyawa melayang,” ujar Saiful.

Ketika saya mengabarkan ada sebuah lembaga kemanusiaan di Jakarta yang hendak membantu air bersih di Aceh Utara, Saiful bergembira. “Alhamdulillah, mohon doakan kami dapat terus bertahan dan musibah ini tak berulang lagi,” ucapnya sembari mengatakan sampai kemarin semua orang di Aceh tengah menata hidup mereka pascabencana. []

Foto: Suasana banjir bandang di Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara pada Rabu, Rabu, 26 November 2025 dan Kamis, 27 November 2025. (Foto-Foto: Saiful Azmi | Aceh Utara)

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM