Oleh Muhammad Subhan
LITERASI adalah napas kebudayaan, denyut kehidupan bangsa, serta jalan menuju peradaban yang lebih baik.

Setiap anak yang mampu membaca dengan gembira, setiap ibu yang bisa menuliskan harapan-harapannya, dan setiap masyarakat yang terlatih berpikir kritis adalah bukti bahwa literasi telah bekerja.
Namun, jalan panjang menuju Indonesia yang literat tidak selalu mulus. Ia penuh tantangan, rintangan, bahkan kerap kali diwarnai rasa lelah dan keputusasaan.
Di sinilah arti penting para pegiat literasi—orang-orang yang memilih jalan sunyi, jalan panjang, bahkan jalan terjal berliku, untuk terus bergerak, menggerakkan, dan menjaga nyala api literasi di mana pun berada.
Mereka hadir bukan karena kemewahan fasilitas, bukan pula karena limpahan dana dari donatur atau pemerintah. Banyak di antara mereka justru memulai dengan niat yang sederhana, tekad yang keras, dan semangat yang tak bisa dibeli oleh apa pun.
Di pelosok negeri, jauh dari hiruk pikuk kota besar, banyak kantong literasi yang terus berdenyut. Ada rumah baca di lereng gunung, yang dibangun dari bambu dan papan bekas. Ada taman baca sederhana di tengah rimba kebun sawit, dengan koleksi buku seadanya namun penuh makna bagi anak-anak yang haus pengetahuan. Ada pula komunitas literasi di kampung nelayan, yang setiap sore menunggu anak-anak pulang melaut bersama orang tuanya, lalu mengajarkan mereka membaca, menulis, dan bercerita dengan penuh kasih sayang.
Keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh kreativitas.
Ada yang menyalakan lampu minyak untuk tetap bisa membaca di malam hari. Ada yang menggunakan perahu kayu untuk menjemput anak-anak di seberang sungai. Ada pula yang harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mengantarkan buku ke dusun terpencil. Semua itu adalah wajah sejati literasi Indonesia. Wajah yang jujur, polos, sederhana, tetapi penuh daya juang.
Namun, dalam perjalanan panjang itu, kelelahan sering datang. Tidak jarang, pegiat literasi merasa sendiri. Ada kalanya pemerintah abai, donatur berhenti memberi bantuan, dan masyarakat sekitar kurang peduli. Di titik seperti ini, satu-satunya pegangan adalah kembali ke niat awal: untuk apa membangun komunitas literasi? Untuk apa memilih jalan hidup menjadi pegiat literasi?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah sumber tenaga yang tak pernah habis. Ketika ingat bahwa literasi adalah ikhtiar mencerdaskan anak bangsa, semua rintangan terasa lebih ringan. Ketika ingat bahwa setiap buku yang dibacakan bisa membuka satu pintu harapan, maka rasa lelah bisa berubah menjadi rasa syukur.
Menjadi pegiat literasi berarti siap menghadapi kondisi apa pun. Harus siap berhadapan dengan keterbatasan keuangan, dengan masalah teknis di lapangan, bahkan dengan cibiran dan hinaan orang-orang yang tidak memahami perjuangan. Dalam kondisi seperti itu, hanya kesabaran dan rasa syukur yang dapat menjadi bekal. Sabar untuk menahan diri dari putus asa, dan syukur atas sekecil apa pun dampak yang sudah dihasilkan.
Lawan terbesar pegiat literasi bukan hanya keterbatasan fasilitas atau minimnya dukungan, melainkan rasa malas dan bosan. Malas untuk terus datang ke rumah baca yang sepi pengunjung. Bosan menghadapi situasi yang seakan tidak pernah berubah.
Namun, di sinilah keistimewaan orang-orang yang memilih jalan literasi. Mereka belajar untuk menyalakan api semangat dari dalam dirinya sendiri. Mereka melatih diri untuk menemukan kembali gairah setiap kali nyaris padam.
Mereka memahami bahwa memperbarui niat adalah cara paling bijak untuk kembali teguh di tengah badai masalah.
Banyak orang beranggapan literasi hanya urusan instansi pemerintah yang mengurus perpustakaan atau pendidikan. Pandangan itu keliru. Literasi adalah urusan bersama, lintas sektor, lintas bidang, dan lintas generasi. Instansi yang bergerak di bidang kesehatan, lingkungan, pertanian, kelautan, hingga ekonomi kreatif pun seharusnya membawa program-program mereka ke komunitas literasi.
Bayangkan jika program kesehatan berkolaborasi dengan taman baca, mengajarkan anak-anak hidup bersih melalui cerita dan buku bergambar. Bayangkan jika program lingkungan hadir di rumah baca pelosok, mengajak anak-anak menanam pohon sambil membaca dongeng tentang hutan. Atau jika instansi kelautan bekerja sama dengan komunitas nelayan literasi, memperkenalkan buku-buku tentang laut dan biota laut untuk anak-anak nelayan. Dari situ akan lahir gerakan literasi yang benar-benar hidup, karena ia tumbuh dari kolaborasi nyata.
Apa pun bentuknya, sekecil apa pun langkahnya, setiap kegiatan literasi adalah investasi peradaban. Tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Buku yang dibacakan hari ini mungkin tidak langsung mengubah hidup seorang anak. Tapi kelak, di masa depan, bacaan itu bisa menjadi pondasi yang membuatnya lebih percaya diri, lebih kritis, dan lebih berdaya.
Seorang anak yang dulu belajar mengeja di rumah baca sederhana bisa jadi dokter, guru, aktivis, atau pemimpin masyarakat di kemudian hari. Semua itu berawal dari semangat pegiat literasi yang tidak pernah menyerah. Maka, jangan pernah menyepelekan langkah kecil. Justru dari langkah-langkah kecil itulah sejarah besar terukir.
Indonesia terlalu luas untuk dijangkau hanya dengan program-program formal. Negeri ini membutuhkan tangan orang-orang yang berani berjalan ke lorong-lorong sempit dan gelap, ke gang-gang kecil, ke hutan, gunung, dan laut, membawa buku dan harapan. Mereka adalah para pegiat literasi.
Perjalanan ini memang panjang, penuh aral melintang, bahkan kadang membuat seorang pegiat literasi ingin berhenti. Tetapi ingatlah: literasi adalah ikhtiar mencerdaskan bangsa. Ia adalah tugas mulia yang akan terus relevan sepanjang zaman.
Maka, jangan pernah lelah berliterasi di Indonesia. Setiap halaman yang dibuka, setiap kata yang ditulis, setiap telinga yang mendengar cerita adalah bagian dari sejarah besar bangsa ini.
Dan, kelak, ketika anak-anak negeri berdiri tegak dengan pengetahuan dan kecerdasannya, kita bisa berkata dengan bangga: perjuangan ini tidak pernah sia-sia. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.di menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









