LANGSA, Majalahelipsis.id—Sutradara memegang peran yang sangat sentral dalam proses transformasi cerita lisan ke pertunjukan teater.
Ia bukan hanya pengatur adegan, tetapi juga penafsir budaya, perancang struktur dramatik, dan penggali nilai-nilai lokal yang terkandung dalam narasi lisan.

Untuk menjadikan cerita rakyat, mitos, legenda, atau cerita-cerita di warung kopi tampil hidup dan bermakna di atas panggung, seorang sutradara harus menguasai banyak aspek: dari riset cerita, penulisan naskah, penataan artistik, hingga kepemimpinan kreatif dalam proses latihan dan pementasan.
Gagasan itu mengemuka dalam Diskusi Teater bertajuk “Transformasi Lisan ke Pertunjukan Teater” yang berlangsung Selasa (17/6/2025), di Edukasi Coffee, Kota Langsa, Aceh.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari Program Diseminasi Teater hasil kolaborasi antara Prodi Seni Teater ISBI Aceh, Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kota Langsa, dan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang yang tengah melakukan Roadshow Literasi di Provinsi Aceh dan Langsa merupakan kota terakhir yang disinggahi.
Hadir sebagai pemantik diskusi Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., dosen teater, sastrawan, dan pendiri Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Dr. Afifuddin, S.Sn., M.Sn., Ketua Prodi Teater ISBI Aceh, serta Muhammad Subhan, penulis dan pegiat literasi yang juga pendiri Sekolah Menulis elipsis.
Diskusi diikuti para pegiat teater dan seni pertunjukan dari berbagai komunitas di Kota Langsa.

Menurut Sulaiman Juned, sutradara harus memahami konteks budaya, karakter tokoh, nilai-nilai lokal, dan pesan moral dari cerita lisan yang diangkat. Dari pemahaman itu, ia membentuk struktur dramatik—dengan alur yang memuat konflik dan klimaks—serta merancang konsep penyutradaraan sesuai visi artistiknya, baik realis, simbolik, atau eksperimental.
Ia mencontohkan, kaba Minangkabau berjudul “Sabai Nan Aluih” saat dibawa ke atas panggung dalam bentuk teater modern, cerita tentang anak gadis yang membalas dendam kematian ayahnya itu tidak hanya ditampilkan sebagai kisah heroik, tapi juga diperkaya unsur gerak, musik talempong, dan nyanyian tradisional, sehingga menjadi pertunjukan yang menyentuh dan bernilai edukatif.
“Cerita-cerita lisan di Aceh juga sangat banyak dan dapat ditranformasikan ke pertunjukan teater yang menarik,” ujar Sulaiman Juned.
Muhammad Subhan menambahkan, transformasi lisan merupakan jembatan antara generasi tua dan muda. Ia menyebut bahwa tradisi lisan bersifat naratif dan komunikatif, namun belum memiliki struktur dramatik. Maka, dibutuhkan proses kreatif seniman seperti riset lapangan, wawancara narasumber, penulisan ulang cerita, hingga pengolahan dialog, tokoh, dan setting agar layak pentas.
“Melalui teater, cerita-cerita rakyat bisa disampaikan secara visual dan emosional, menjangkau generasi digital dengan pendekatan seni yang segar,” kata penulis novel Rumah di Tengah Sawah ini.
Sementara itu, Dr. Afifuddin, S.Sn., M.Sn., dosen Prodi Teater ISBI Aceh, menjelaskan bahwa diseminasi teater adalah bagian penting dari upaya menyebarluaskan seni pertunjukan kepada masyarakat luas.
Kegiatan ini dapat berupa diskusi, workshop, pertunjukan keliling, kolaborasi komunitas, hingga pelibatan pelajar dan masyarakat umum.
“Diseminasi membantu menjadikan teater sebagai sarana pendidikan karakter dan pelestarian budaya secara lebih inklusif,” kata Dr. Afifuddin yang juga Ketua Dewan Kesenian Aceh.
Diskusi yang dipandu moderator Dinda, seorang pegiat seni di Langsa itu berlangsung hangat dan menjadi ruang berbagi pengalaman dan gagasan kreatif lintas generasi.
Di tengah arus digital yang cepat, tradisi lisan yang nyaris ditinggalkan kini berpeluang hidup kembali melalui medium teater yang adaptif dan komunikatif.












