Oleh Muhammad Subhan
PUTUS asa tak selesai kuliah di sebuah kampus seni di Padang Panjang, ia memilih merantau ke Batam. Dengan sisa semangat dan sedikit harapan, ia meninggalkan kota berhawa sejuk itu, membawa mimpi yang entah bisa disambung atau harus dikubur di rantau orang.

Di Batam, kehidupan tidak semudah yang dibayangkan. Ia sempat luntang-lantung, mencari kerja dari satu tempat ke tempat lain, tanpa hasil. Hari-harinya diisi dengan kegelisahan, sementara tabungan makin menipis.
Suatu hari, ia meminjam sepeda motor temannya. Nahas, sepeda motor itu hilang dicuri orang. Dunia seolah runtuh di hadapannya.
Ia stres, depresi berat. Setiap hari kawannya menagih kabar motor itu—meski telah dilaporkan ke kantor polisi—dan ia tak tahu harus menjawab apa. Rasa malu, bersalah, dan takut bercampur menjadi satu. Hidup seperti kehilangan arah. Di malam-malam panjang, ia tak bisa tidur. Ia merasa gagal total.
Sampai suatu malam, ia pergi ke pantai. Dari tebing tinggi, ia menatap laut dengan batu-batu cadas yang tajam. Dalam kepalanya hanya satu suara: “Pokoknya harus mati.” Ia sudah menulis surat wasiat untuk keluarganya di kampung—surat terakhir yang berisi pengakuan dan penyesalan. Konon, surat itu sempat dibacakan temannya kepada keluarganya, membuat mereka histeris. Namanya bahkan sempat tersebar di media sosial sebagai orang hilang.
Namun, saat ia hendak melompat, di belakangnya muncul seseorang—laki-laki setengah baya berjubah putih, menepuk pundaknya. Ia terkejut, mengira malaikat datang menegahnya. Tapi itu manusia biasa. Laki-laki itu tersenyum, mengajaknya pulang ke rumahnya, dan memberi makan. Sudah beberapa hari ia tak makan cukup. Saat suapan pertama menyentuh lidahnya, ia merasa seperti mendapat kehidupan baru.
Usai makan, lelaki itu berkata lembut, “Hidup ini jangan dipikirkan berat betul. Jalani saja. Semua ada jalannya.” Kalimat itu sederhana, tapi seolah menembus dinding hatinya yang beku.
Esok subuh, laki-laki itu mengajaknya salat di masjid. Ia ragu, sebab sudah lama meninggalkan Tuhan. Meski dongkol disuruh salat, tapi ia ikut juga. Dalam sujudnya, entah kenapa air matanya tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua beban dan amarah yang selama ini ia pendam. Semua jamaah menoleh—mendengar isakan tangis yang memecah keheningan masjid—, tapi ia tak peduli. Ia sedang berdamai dengan dirinya sendiri.
Sejak saat itu, hidupnya berubah arah. Ia mulai mendalami agama, belajar tentang makna ikhlas dan sabar. Ia yang dulu menekuni musik, kini menemukan harmoni baru dalam zikir dan doa. Setelah beberapa waktu di Batam, ia pulang ke Padang Panjang—meski ia berkampung halaman di Pesisir Selatan. Ia melanjutkan kuliah, kali ini di sekolah agama. Ia belajar sungguh-sungguh, hingga akhirnya meraih gelar Sarjana Sosial.
Ia tak berhenti di situ. Ia aktif dalam kegiatan dakwah, berkeliling ke berbagai tempat, hingga menjejak Negeri Jiran Malaysia, Hindustan, dan bahkan Korea Selatan. Dalam setiap perjalanan, ia belajar bahwa hidup adalah tentang jatuh dan bangkit, bukan hanya tentang sukses dan gagal.
Di tengah perjalanan spiritual dan intelektualnya itu, lahirlah karya besar, sebuah novel biografi berjudul “Hyderabad”. Buku yang ia tulis dari pengalaman getir dan luka hidupnya. Novel itu bukan sekadar kisah, tapi testimoni kehidupan. Tentang seseorang yang pernah jatuh di dasar jurang, lalu perlahan memanjat kembali ke cahaya. Buku itu kini telah dicetak puluhan ribu eksemplar, dibaca banyak orang, dan menjadi inspirasi bagi mereka yang juga pernah merasa hidup tak lagi punya harapan.
Sore kemarin, di sebuah lepau kopi di jantung Kota Padang Panjang, saya bertemu dengannya. Ia datang bersama Ronal, seorang ahli IT, mengajak saya berdiskusi tentang rencananya membedah buku Hyderabad di sejumlah madrasah. Ia berkisah tentang perjalanan hidupnya dengan emosi yang meledak, tapi juga dengan ketenangan seorang yang telah berdamai dengan masa lalu. Saya hanya bisa tercenung. Di depan saya duduk seseorang yang pernah hendak mengakhiri hidupnya, tapi kini malah menghidupkan semangat banyak orang lewat karya tulisnya.
Tak mudah menjadi dirinya. Tapi ia telah membuktikan bahwa hidup tidak berhenti di titik gelap. Bahwa sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan. Kadang, hidup menempatkan kita di ujung jurang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengajari kita cara menemukan pegangan.
Kini, novel Hyderabad itu sedang dalam proses untuk diangkat ke layar lebar. Sudah ada penyandang dana miliaran rupiah yang siap memproduksinya. Saya hanya bisa tersenyum dan bersyukur. Betapa luar biasanya perjalanan dirinya, dari seorang pemuda putus asa yang ingin mati, menjadi penulis yang karyanya menghidupkan harapan.
Namanya Irvan Karquza. Usianya masih muda dan jauh di bawah saya. Saya masih ingat, ketika pertama kali ia datang ke rumah, menyampaikan niatnya ingin menjadi penulis. Waktu itu saya hanya berpesan kepadanya satu hal: tulis saja, tuangkan semua, dan jangan berhenti. Bertahun-tahun berlalu, dan kini ia benar-benar menjadi penulis. Ia melewati badai, menulis dengan air mata, dan membuktikan bahwa setiap luka bisa menjadi jalan menuju cahaya.
Hidup, pada akhirnya, bukan tentang berapa kali kita jatuh, tetapi berapa kali kita memilih untuk bangkit. Dalam setiap kesulitan, tersimpan benih kemudahan. Dalam setiap luka, ada hikmah yang menunggu ditemukan.
Kisah Irvan Karquza adalah cermin untuk kita semua, bahwa selama napas masih ada, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki hidup. Dan kadang, pertolongan Tuhan datang pada saat kita paling tidak menduganya, seperti lelaki berjubah putih di pantai malam itu, yang menyelamatkan nyawa Irvan. Siapa sangka, di tengah malam, ada orang yang juga keluar ke pantai—dan di Pantai itu ia menemukan seorang anak muda yang hendak bunuh diri.
Kini, Irvan telah menutup lembar masa lalunya, dengan membuka lembar halaman buku-buku karyanya. Ia bertekad akan terus menulis, sebab ia meyakini menulis adalah terapi jiwa, obat penyembuh dari segala luka. Dan, kini luka-luka itu telah berbuah kata, yang dipungut banyak orang menjadi inspirasi dan harapan bahwa hidup memang layak diperjuangkan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.
Foto saat dikunjungi Irvan Karquza, penulis novel “Hyderabad” di salah satu kafe di Padang Panjang, Sabtu, 11 Oktober 2025.









