PADANG, Majalahelipsis.id—Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat kembali menghadirkan sebuah momen penting malam ini, Sabtu (27/9/2025), pukul 20.00 di Taman Budaya Sumatra Barat.
Seorang penyair sekaligus aktivis sastra yang juga dikenal sebagai tokoh teknologi dan transformasi digital Indonesia, Riri Satria, dijadwalkan tampil menyampaikan Orasi Budaya.

Dalam kesempatan itu, Riri Satria akan mengangkat topik “Model Pentahelix untuk Tata Kelola Organisasi Kesenian/Kebudayaan di Era Masyarakat 5.0”.
Menurutnya, pentahelix adalah model tata kelola yang melibatkan lima pilar utama: pemerintah sebagai pembuat regulasi, masyarakat akademik dan profesional sebagai think tank, sektor bisnis sebagai pendukung pendanaan, media sebagai saluran komunikasi, serta masyarakat luas—termasuk pelaku seni dan budaya—sebagai pemanfaatnya.
Agar sinergi kelima pilar ini berjalan harmonis, dibutuhkan motor penggerak berupa lembaga otoritas kesenian atau kebudayaan, seperti dewan kesenian.
Model ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sehingga relevan untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya di Indonesia.
Dalam orasinya, Riri juga akan menyampaikan agenda strategis atau action plan agar konsep pentahelix benar-benar tepat guna dan berhasil guna.
“Tanpa model tata kelola yang jelas, serta tanpa agenda strategis yang kuat, sulit membangun ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tangguh. Padahal, ini adalah bagian penting dari ketahanan nasional, yakni ketahanan budaya,” ujar Riri Satria kepada Majalahelipsis.id, Sabtu (26/9/2025).

Ia menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan ada pada kemampuan menyatukan seniman dan budayawan dalam visi-misi yang sama.
Meski terdengar sederhana, hal itu justru menjadi tantangan besar. Sementara faktor pendanaan, menurutnya, baru akan mengalir jika tata kelola yang baik mampu menumbuhkan rasa saling percaya atau mutual trust.
Selain kiprahnya di dunia sastra, Riri Satria lahir di Padang pada 14 Mei 1970, dan dikenal luas sebagai pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta. Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Ia telah menulis sejumlah buku puisi tunggal, antara lain Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), hingga Metaverse (2022), serta terlibat dalam lebih dari 60 antologi bersama penyair lain.
Tak hanya menulis puisi, Riri juga produktif menghasilkan esai lintas bidang—mulai dari sains, teknologi, ekonomi, hingga pendidikan—yang dibukukan dalam berbagai karya, termasuk Untuk Eksekutif Muda (2003), trilogi Proposisi Teman Ngopi (2021), dan Jelajah (2022).
Sehari-hari, Riri adalah Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) atau Pelindo Solusi Digital (PSD), dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, serta anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni UI.
Ia juga menjadi juri pada ajang Indonesia Digital Culture Excellence Award dan Indonesia Human Capital Excellence Award sejak 2021.
Malam ini, publik Sumatera Barat akan menyimak langsung bagaimana pandangan Riri Satria tentang masa depan tata kelola seni dan budaya, serta peran pentingnya bagi ketahanan budaya nasional.









